Kristalisasi Hasil Belajar

18 April, 2016 at 12:00 am

Hari PrasetioOleh Drs Hari Prasetio MM
Guru MAN 2 Banyumas, Jawa Tengah.

 

Banyak pengertian tentang belajar dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Beberapa di antaranya mengatakan bahwa belajar adalah proses interaksi dengan lingkungan. Dengan kata lain bahwa belajar akan berlangsung seumur hidup, karena orang tidak dapat lepas dari lingkungannya mengingat manusia itu adalah makhluk sosial.

Pengertian lain adalah bahwa belajar merupakan pembentukan penguasaan (mastery learning). Maksudnya adalah bahwa terbentuknya sikap atau nilai dalam diri anak, perolehan pengetahuan, dan keterampilan merupakan produk dari proses belajar. Dengan demikian yang dilihat adalah pada produk dari suatu proses belajar. Belajar tidak ada maknanya apabila tidak menghasilkan pembentukan sikap, perolehan pengetahuan, dan keterampilan. Oleh karena itu, proses belajar mengajar perlu mendapatkan perhatian yang serius dengan melibatkan dan melihat berbagai aspek yang menunjang untuk keberhasilan belajar mengajar.

Belajar juga didefinisikan sebagai proses mengalami. Maksudnya bahwa anak yang belajar harus diberikan atau dihadapkan pada situasi agar dia mendapatkan pengalaman. Di sini lebih ditekankan pada proses belajarnya, proses mengalaminya, dan tidak terlalu dilihat pada hasilnya.

Kalau disimpulkan dari pengertian di atas, maka belajar harus dikondisikan, artinya diciptakan lingkungan yang mendukung proses belajar. Guru-gurunya harus berkualitas dalam berbagai aspek ; pribadinya, pengetahuannya, sikapnya, dan sebagainya. Selain itu, berkualitas sarana prasarananya dan aspek-aspek lingkungan lainnya. Ini semua dilakukan agar tercipta interaksi dengan lingkungan secara baik, sehingga tercapai tujuan belajar mengajar itu. Hal ini penting karena belajar adalah proses pembentukan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Semua itu akan diperoleh jika para siswa/mahasiswa mendapatkan pengalaman nyata dalam proses belajar mengajarnya.

Di atas dijelaskan bahwa belajar tidak hanya sekedar mengumpulkan ilmu pengetahuan, tetapi mempunyai tujuan yang lebih luas yaitu terjadinya perubahan sikap atau tingkah laku belajar yang meliputi pengetahuan dan keterampilan. Belajar dengan aktivitas yang optimal akan menghasilkan kompetensi fisik, mental, sosial, dan emosional siswa seutuhnya.

Mempelajari sesuatu tidak cukup hanya dengan menggunakan keterampilan pengamatan, mendengarkan atau membaca kemudian menanggapi apa yang dibaca, sesudah itu berhenti. Pengamatan itu hanya akan mendapatkan pengetahuan, sedangkan pengetahuan tidak dapat membentuk pribadi yang dibutuhkan. Seharusnya terdapat proses pengahayatan yang selanjutnya dapat mengkristal dalam sikap dan pengalaman siswa. Diibaratkan orang yang ingin belajar musik, dia tidak cukup sekedar mengamati orang bermain musik atau sekedar membaca buku cara orang bermain musik, tetapi dia harus benar-benar memegang dan memainkan alat musik serta menikmati melodinya.

Ilmu harus masuk ke dalam dada atau hati masing-masing orang. Seseorang pernah mendengar, pernah menghafalkan, dan berhasil mengetahui ilmu yang dimaksud, tetapi tidak sampai menjiwai hingga relung hati atau dadanya. Ilmu yang dimaksud itu belum berhasil menggerakkan hati pemiliknya untuk mengembangkan lebih lanjut, menumbuhkan rasa percaya diri, dan belum memanfaatkannya. Setelah ilmu dicari dan diperoleh, seharusnya segera dimanfaatkan. Tanpa dimanfaatkan, ilmu itu akan sia-sia. Banyak orang dengan susah payah mencari ilmu, tetapi setelah ilmu itu diperoleh ternyata tidak digunakan. Mencari ilmu hanya dipandang sebagai kewajiban, dan setelah kewajiban itu ditunaikan, maka dianggap selesai. Mencari ilmu hanya dianggap sebagai kegiatan menggugurkan kewajiban.

Banyak Sarjana, Tapi ….

Sejak usia dini, pentingnya ilmu pengetahuan, pentingnya sekolah, dan pentingnya pendidikan seharusnya sudah ditanamkan kepada anak-anak. Kepada mereka diajarkan menulis, membaca, berhitung, menyanyi, olah raga, dan seterusnya. Setelah selesai dan lulus sekolah dasar, anak-anak diajari ilmu fisika, kimia, biologi, sejarah, ekonomi, bahasa, dan lain-lain. Diyakini bahwa, semua pelajaran itu penting dimiliki oleh setiap orang. Diharapkan dengan pelajaran itu, seseorang akan mengenal tentang alam, kehidupan sosial, dan juga tentang kemanusiaan. Berbekal ilmu alam, seseorang akan mampu mengelola lingkungannya, sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Demikian pula, jika seseorang memahami ilmu sosiologi, psikologi, sejarah, dan antropologi, maka yang bersangkutan akan mampu menempatkan dirinya secara tepat di tengah-tengah masyarakatnya. Berbekal berbagai jenis ilmu itu, mereka akan bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai pihak, melakukan kerjasama, dan menjalankan kehidupan sosial seperti berekonomi, berpolitik, bekerja di bidang pendidikan, di bidang hukum, dan lain-lain.

Sekarang ini banyak orang yang memegang ijasah tinggi atau bergelar akademik puncak, tetapi ilmu yang digambarkan dalam ijasahnya itu belum tampak sempurna. Banyak sarjana di berbagai bidang, tetapi belum berhasil menampakkan keahliannya. Mengaku sarjana pertanian, tetapi belum merasa resah ketika negerinya masih mengimpor hasil pertanian. Mengaku sarjana peternakan, tetapi tidak peduli ketika mendengar di tengah masyarakat terjadi kelangkaan daging. Mengaku sarjana hukum, tetapi perbuatannya masih banyak yang melanggar hukum. Mengaku sarjana kesehatan masyarakat, tetapi belum berhasil menjalankan pola hidup sehat dan menyadarkan masyarakat tentang kesehatan lingkungan. Mengaku sarjana pendidikan, tetapi membiarkan kecurangan terjadi saat ujian berlangsung dan merekayasa nilai hasil ujian, dan seterusnya.

Mungkin yang perlu dipahami dan disadari bahwa menguasai ilmu pengetahuan tidak cukup hanya ditempuh dengan cara mendengarkan dari seorang guru atau dosen di dalam kelas. Lebih tidak cukup lagi, jika hal itu ditempuh hanya dengan sekedar ikut-ikutan, ikut mendaftar, ikut duduk di kelas, ikut ujian, ikut lulus, ikut wisuda, dan akhirnya mendapat ijasah dan gelar, tetapi lulusan yang dimaksud kurang memiliki kemampuan yang memuaskan dan belum sepenuhnya berhasil menunjukkan kelebihan sebagaimana yang diinginkan (Sumber: Harian Satelitpost, Senin 18 April 2016). Kontak person: 081 367 758 302. E-mail: hariprasetio1967@yahoo.com

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Aliyah (MA). Tags: , .

Peran Keluarga Sebagai Fondasi Pendidikan Anak Krisis Film Pendidikan Anak


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: