Peran Keluarga Sebagai Fondasi Pendidikan Anak

17 April, 2016 at 12:00 am

Hari PrasetioOleh Drs Hari Prasetio MM
Guru MAN 2 Banyumas, Jawa Tengah.

 

Sistem pendidikan di Indonesia masih berkutat pada masalah kurikulum yang terus berganti sesuai perubahan kebijakan pemerintah. Kebijakan ini berkaitan dengan berbagai aspek dinamis, seperti budaya, kondisi sosial ekonomi, bahkan politik dan keamanan. Kebijakan tersebut merupakan keputusan politik atau politik pendidikan yang menyangkut kepentingan berbagai pihak, bahkan dalam batas-batas tertentu sering dipolitisasi untuk kepentingan kekuasaan. Tak heran, kualitas pendidikan Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Mayoritas publik pun menilai pentingnya mengembalikan peran keluarga sebagai fondasi pendidikan anak.

Persoalan dalam dunia pendidikan di Indonesia sangat kompleks. Meski demikian, kompleksitas itu harus diurai satu per satu dan dimulai pada periode perkembangan anak, saat anak masih berusia dini. Untuk itu, perlu ditingkatkan peran keluarga dalam proses pendidikan anak. Lembaga PBB yang menangani bidang anak, UNICEF, dalam laman resminya mengingatkan pentingnya partisipasi keluarga dan komunitas dalam proses pendidikan anak sejak dini.

Orang tua adalah lingkungan pertama dan utama, artinya di sinilah dimulai suatu proses pendidikan. Orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar kehidupan anak berada di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah di dalam keluarga.

Pendidikan adalah seluruh tingkah laku manusia yang dilakukan demi memperoleh kesinambungan, pertahanan, dan peningkatan taraf hidup. Dalam bahasa agama, pendidikan adalah keseluruhan tingkah laku demi memperoleh ridha atau perkenan dari Allah SWT. Keseluruhan tingkah laku tersebut membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (berakhlakul karimah), tentu saja atas dasar percaya atau iman kepada Allah SWT dan bertanggung jawab secara pribadi di akhirat kelak. Bagi umat Islam, makna semacam itu terkandung dalam do’a iftitah sholat, bahwa “Sholat kita, juga dharma bhakti, hidup, dan mati kita, semua adalah untuk atau milik Allah, seru sekalian alam”.

Oleh karena itu, renungan tentang apa yang dimaksud dengan pendidikan tidak hanya terbatas pada pengajaran. Di sinilah kemudian terlihat betapa pentingnya peran keluarga terutama orang tua dalam mendidik anak melalui kebiasaan sehari-hari. Dalam hal ini, yang ditekankan adalah pendidikan oleh orang tua, bukan pengajaran. Sebagian dari usaha pendidikan itu memang dapat dilimpahkan kepada lembaga atau orang lain, seperti kepada sekolah/madrasah atau guru agama. Tetapi sesungguhnya yang dapat dilimpahkan adalah pengajaran, seperti latihan, pelajaran membaca buku-buku pengetahuan, termasuk membaca Al-qur’an, dan beribadah.

Sebagai pengajar, peran “orang lain” seperti sekolah/madrasah dan guru hanya terbatas pada ranah pengetahuan yang bersifat kognitif, meskipun ada sekolah/madrasah atau guru yang juga sekaligus berhasil mendidik ranah afektif. Namun, jelas bahwa ranah afektif itu akan lebih mendalam diperoleh anak di dalam keluarga, melalui orang tua dan suasana umum kerumahtanggaan itu sendiri.

Oleh sebab itu, meskipun ada guru yang dapat bertindak sebagai pendidik, peran mereka tidak akan dapat menggantikan peran orang tua secara keseluruhan. Peran orang tua tidak sepenuhnya berupa peran pengajaran, yang dapat diwakilkan kepada orang lain. Peran orang tua adalah peran tingkah laku, tuladha atau teladan, dan pola-pola hubungannya dengan anak yang dijiwai dan disemangati oleh nilai-nilai keagamaan seperti ; Iman, Islam, Ihsan, Taqwa, Ikhlas, Tawakkal, Syukur, Jujur, dan Shabr/sabar. Tentu saja masih banyak nilai-nilai keagamaan pribadi yang perlu diajarkan kepada anak, namun kiranya cukup mewakili nilai-nilai keagamaan mendasar yang perlu ditanamkan kepada anak, sebagai bagian yang amat penting dari pendidikan.

Di sinilah terbukti benarnya pepatah “Bahasa perbuatan lebih fasih dari pada bahasa ucapan”. Jadi jelas bahwa pendidikan menuntut tindakan percontohan lebih banyak dari pada pengajaran verbal atau “Pendidikan dengan bahasa perbuatan” untuk anak lebih efektif dan lebih mantap dari pada “Pendidikan dengan bahasa ucapan”. Anak adalah Peniru Ulung. Sikap mereka di sekolah, di lingkungan, dan di masyarakat adalah cerminan bagaimana kehidupan mereka di rumah, yang tentu tidak terlepas dari didikan orang tuanya. Rumah merupakan madrasah/sekolah pertama bagi tumbuh kembang anak dan orang tua adalah guru utama bagi tahun-tahun pertama kehidupan mereka. Disebabkan karena usia dini adalah usia meniru, maka orang tua adalah model bagi anaknya.

Penguatan peran keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki fungsi sebagai penguat perkembangan kepribadian anak, pendidikan anak di rumah, dan pendukung pendidikan di sekolah. Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal, orang tua harus memiliki kualitas yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya, orang tua harus memahami hakikat dan peran orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam pembentukan kepribadian anak yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Tujuan pendidikan itu sendiri adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (kontak person: 081 367 758 302. E-mail: hariprasetio1967@yahoo.com).

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Aliyah (MA). Tags: , .

Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak Kristalisasi Hasil Belajar


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: