Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

15 April, 2016 at 12:00 am

Oleh Upik Yanwaria SPd I
Alumni Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah jakarta

Dalam kondisi nyata ada seorang anak yang sangat senang berada di sekolah, ketika hari libur dia sering mengeluh karena tidak dapat belajar di sekolah dan bermain dengan teman-teman sekelasnya, kegemarannya terhadap belajar dapat ditunjukkan dari prestasinya di kelas, anak tersebut selalu juara di kelasnya mengalahkan teman-teman yang lain. Kemampuan membaca, berhitung, membaca Al-Qur’an sangat unggul.

Disisi lain ada satu anak yang kurang memiliki antusiasme terhadap belajar, terkadang anak tersebut tidak masuk sekolah bahkan dalam perkembangannya dia agak kesulitan dalam menulis dan membaca, berbeda dengan anak yang pertama yang lebih unggul dan senang belajar. Setelah ditelusuri apa yang membedakan kedua anak tersebut, padahal mereka sama-sama duduk di kelas yang sama dan belajar dengan guru yang sama, teman-teman kelas yang sama, bahkan buku pelajaran yang sama. Tapi
perbedaan mereka sangat jauh dari segi prestasi belajar.

Ternyata anak pertama berada dalam lingkungan keluarga yang memiliki spirit pendidikan yang besar, keluarganya berlatar pendidikan tinggi, dan memiliki motivasi besar untuk meraih kesuksesan lewat
pendidikan. Saudara-saudaranya pun memiliki prestasi dalam belajar. Orang tuanya sangat mendukung anak tersebut untuk meraih cita-cita. Sedangkan anak yang kedua, lingkungan dalam keluarganya jauh berbeda dengan anak yang pertama, disamping keluargannya berlatar pendidikan menengah, mereka memiliki motivasi belajar yang rendah sehingga suasana lingkungan keluarga kurang mendukung proses pendidikan anak.

Menurut Alisuf Sabri dalam bukunya Psikologi Perkembangan, lingkungan diartikan dalam pengertian yang luas mencakup lingkungan yang ada di dalam dan di luar individu. Dengan demikian, lingkungan dapat diartikan dengan segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar diri individu yang bersifat mempengaruhi sikap tingkah laku atau perkembangannya. Dan lingkungan yang dimaksud dibagi menjadi dua bagian yaitu lingkungan dalam dan lingkungan luar diri individu.

Unsur-unsur lingkungan dalam, terdiri dari kondisi organ dan material dalam diri seseorang seperti : gizi, vitamin, suhu, sistem urat syaraf, sistem peredaran darah, pencernaan makanan, kelenjar indoktrin, kondisi intelegensi, seks, kondisi kesehatan dan kebugaran tubuh termasuk didalamnya kondisi psikologisnya seperti sikap, minat, motivasi, kemauan dan sebagainya. Yang termasuk lingkungan luar ialah lingkungan alam (natural environment) dan lingkungan sosial (social Environment). Lingkungan
alam meliputi : iklim, suhu, geografis, waktu pagi, siang, malam.

Lingkungan sosial dapat berupa pribadi seseorang, sekumpulan orang seperti keluarga, masyarakat, teman-teman kelas, organisasi, dan termasuk juga dalam lingkungan ini adalah karya manusia seperti benda-benda karya manusia, karya seni, karya elektronik, program televisi, radio, karya tulis/buku-buku, majalah dan budaya manusia lainnya termasuk pendidikan dan agama, semuanya akan mempengaruhi tingkah laku dan perkembangan manusia.

Dalam proses perkembangan manusia, lingkungan ini merupakan faktor yang penting setelah faktor pembawaan. Tanpa adanya dukungan dari faktor lingkungan maka proses perkembangan dalam mewujudkan potensi pembawaan menjadi kemampuan nyata tidak akan terjadi. Oleh karena itu fungsi atau peranan lingkungan ini dalam proses perkembangan dapat dikatakan sebagai faktor ajar, yaitu faktor yang akan mempengaruhi perwujudan suatu potensi secara baik atau tidak baik, sebab pengaruh
lingkungan dalam hal ini dapat bersifat positif yang berarti pengaruhnya baik dan sangat menunjang perkembangan suatu potensi atau bersifat negatif yaitu pengaruh lingkungan itu tidak baik dan akan menghambat /merusak perkembangan. Oleh karena itu sudah menjadi tugas utama seorang pendidik (orang tua atau guru) untuk menciptakan atau menyediakan lingkungan yang positif agar dapat menunjang perkembangan anak dan berusaha untuk mengawasi dan menghindarkan pengaruh faktor lingkungan yang negatif yang dapat menghambat dan merusak perkembangan sang anak.

Lingkungan pertama yang akan mempengaruhi perkembangan anak yaitu keluarga, karena keluarga merupakan pondasi pertama ketika anak akan memulai perjalanannya mengarungi kehidupan. Keluarga adalah elemen penting dalam perkembangan manusia yang merupakan bagian dari tiga pusat pendidikan yakni keluarga, sekolah dan masyarakat.

Menurut Roucek dan Warren, Keluarga adalah insititusi yang paling penting dalam kehidupan seseorang, karena dari keluarga seseorang melangkah keluar dan kepada keluarga pula seseorang akan kembali. Di dalam keluarga seseorang hidup bersama dengan sekelompok orang secara akrab. Sebab keluarga merupakan community primer yang paling penting, yang mencerminkan keakraban yang relatif kekal.

Friedman menuturkan fungsi keluarga berfokus pada proses yang digunakan oleh keluarga untuk mencapai tujuan keluarga tersebut. Proses ini termasuk komunikasi diantara anggota keluarga, penetapan tujuan, resolusi konflik, pemberian makanan, dan penggunaan sumber dari internal maupun eksternal. Tujuan reproduksi, seksual, ekonomi dan pendidikan dalam keluarga memerlukan dukungan secara psikologi antar anggota keluarga, apabila dukungan tersebut tidak didapatkan maka akan menimbulkan konsekuensi emosional seperti marah, depresi dan perilaku yang menyimpang. Tujuan
yang ada dalam keluarga akan lebih mudah dicapai apabila terjadi komunikasi yang jelas dan secara langsung. Komunikasi tersebut akan mempermudah menyelesaikan konflik dan pemecahan masalah.

Oleh karena itu, seyogyanya keluarga menjadi institusi yang memberikan pengaruh baik terhadap anak. Orang tua, kakak dan anggota keluarga yang lain saling memberikan motivasi dan menunjang pendidikan anak, sehingga nilai-nilai yang telah dimiliki anak dapat dikembangkan ketika berada di sekolah dan di lingkungan masyarakat. disamping itu pula lingkungan pendidikan sekolah dan masyarakat juga
memiliki andil yang sangat besar terhadap pertumbuhan karakter seseorang. Jika tripusat pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat) dapat berjalan dengan baik dan menerapkan nilai-nilai agama serta kebangsaan, maka anak akan menjalankan fungsinya sebagai manusia yang berkarakter baik dan menjalankan norma-norma kebangsaan sesuai dengan landasan dasar Negara Republik Indonesia. (Email: yanwa_ainykha@yahoo.co.id)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Esok Pasti Datang, Tinggalkan Sesal Peran Keluarga Sebagai Fondasi Pendidikan Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: