Tanggung Jawab Ganda Wanita

10 April, 2016 at 12:00 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

 

Subuh belum nampak, orang-orang masih asik dalam selimut karena udara yang dingin dan menusuk tulang. Suara ayam jago milik tetangga juga belum terdengar kokoknya, mungkin ikut tertidur bersama malam yang tenang dan dingin. Namun sosok itu sudah mondar-mandir dari kamar satu ke kamar lainnya, mungkin mengecek satu-satu anaknya apakah benar-benar berada dikamarnya atau tidak, dari ruangan yang berada di ujung depan kemudian menghilang di ruangan paling belakang yang bertirai warna gelap. Lalu pelan-pelan terdengar suara berisik air yang dinyalakan dan perlahan terdengar bunyi berisik piring, sendok, gelas yang saling beradu, sudah bisa dipastikan sang penghuni rumah tersebut mulai beraktifitas, agar tidak ketinggalan dengan waktu subuh yang sebentar lagi menjelang.

Tak berapa lama terdengar suara cuit-cuit dari panci air yang dipanggang diatas kompor menandakan air di dalamnya sudah mendidih, dengan cekatan dituangnya air yang mendidih tersebut ke dalam teko yang sudah ditaruh didalamnya. Sekelebat nampak ia bergegas mengambil sebuah wadah dari tempat perabot, diisikannya beras dan mencucinya lalu menyambungkan sambungan listriknya ke dinding di sebelah rak perabot. Ia nampak cukup lega segera bergegas ke kran yang tak jauh dari situ dibasuhnya muka, dalam air wudhu yang dingin agar hilang segala hadast kecil, ia segera bergegas menunaikan ibadah sholat, sengaja tak dibangunkannya seiisi rumah agar tak terkantuk-kantuk siang harinya, mungkin sesaat lagi mereka dibangunkan agar masih bisa melaksanakan sholat subuh bersama.

Sesaat ia nampak tertegun mengingat apa yang harus dilakukannya seusai sholat, tak berapa lama segera membuka lemari, diambilnya plastik yang mungkin berisi bahan-bahan mentah. Nampaknya hanya lembaran-lembaran daun singkong dan sepotong tempe. Dengan cepat diambilnya bumbu dan wadah, lalu diraciknya dan ditambahkan sedikit penyedap. Tak berapa lama terdengar sreng, sreng dari atas wajan, perlahan-lahan aroma dan harum mulai menggelitik hidung penghuni rumah yang dari tadi sudah bermalas-malas hendak bangun, si kecil yang dari tadi sudah kehilangan sang bunda yang lebih dulu bangun segera turun dari dipan dan memburu ke dapur. Sang bunda setengah kaget bercampur bangga karena sikecil terbangun sendiri tanpa dibangunkannya, dan pelukan yang sangat lebar dan hangat menunggu hamburan si kecil.

Sesaat kemudian seisi rumah sudah terbangun dan saling mendahului masuk kamar mandi sementara sang ayah membiarkan mereka lebih dulu mengambil wudhu. Sang bunda melanjutkan memasak sesuatu agar seisi rumah bisa menjalankan aktifitas hari itu dengan perut terisi agar tak masuk angin sampai sore harinya. Sementara anak-anak berebut mandi sang bunda secepatnya menyapu, setelah semua mandi barulah sang bunda mendapat giliran masuk kamar mandi, sementara seisi rumah dipersilahkannya sarapan terlebih dulu sedangkan dia berkemas dan berdandan agar tak ketinggalan masuk kantor. Selesai dandan dilihatnya angka di jam dinding sudah menunjuk ke angka 6 di jarum pendeknya sedangkan jarum panjangnya mendahului mepet ke angka 8, bunda merasa tak cukup waktu kalau untuk sarapan terlebih dulu, maka bergegas diambilnya kotak nasi yang ada di belakang, dengan terburu-buru dikemasnya dengan isi secukupnya dan dimasukannya ke dalam tas.

Suasana sudah sepi ketika bunda meninggalkan rumah, ia yang pertama kali bangun dan terakhir meninggalkan serta mengunci rumah dan menitipkannya pada adik perempuan di depan rumahnya, agar ketika adik yang paling kecil nanti pulang sekolah bisa langsung mengambilnya. Gambaran sehari-hari para ibu adalah suatu hal yang lumrah menjadi tugas wajib kaum perempuan, yang tidak lazim adalah karena ia mempunyai tugas lain setelah itu yaitu mendidik putra bangsa agar suatu saat kelak dapat membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Berarti dari pagi buta sampai waktu yang tak terbatas, karena kadang di malam harinya ada saja administrasi yang harus diselesaikannya karena tak cukup waktu jika diselesaikan di sekolah.

Pukul 07. 00 bunda sampai di sekolah tempat ia mengajar mendidik calon generasi bangsa, setumpuk administrasi dan penilaian terhadap anak didik menunggu untuk diselesaikannya dan seisi kelas menunggu untuk bunda berbagai ilmu, celoteh mereka bagai menunggu sang guru untuk segera datang. Setelah duduk sejenak bunda melanjutkan tugas yang seharusnya sudah menjadi tanggungjawabnya. Panggilan jiwanya tak pernah patah oleh setumpuk tugas yang selalu menanti, panggilan hatinya mampu mengalahkan seribu penat yang setiap saat datang, dari sanubarinya muncul jutaan semangat dan gelora terhadap satu kata berjuang dalam damai adalah sang guru.

Berbagai ribuan cerita kepahlawanan adalah dia salah satu yang patut mendapat gelar terhormat itu, sejuta syuhada adalah dia yang tak pernah mendapat tanda jasa atas segala pengorbanannya, selaksa juang adalah dia yang selalu membangkitkan semangat putra-putri tunas bangsa yang selalu hampir patah, senandung doa dalam tiap kata-katanya adalah dia yang inginkan putra bangsa terus bermekaran, tiada kira jasa yang tak pernah putus meski di sisa tetes darah terakhir dan meski di pekik dan jerit yang begitu panjang dan menyayat hati yang paling pilu. Hingga semua pintu surgaMU inginkan mereka datang tuk singgah dan tak ada satu orang yang mempunyai sabar sesabar hati seorang wiyata bhakti/pengabdian.

Salah satu potret guru/pegawai honorer yang tak pernah tersentuh oleh berbagai tunjangan dan segala kesejahteraan lainnya adalah bagai harumnya wangi yang paling indah, pengorbanannya adalah bagai salah satu doa yang membuat seisi dunia masih terus bertahan tuk tidak mengeluarkan gemuruhnya, yang selalu menunda sang khalik tuk tidak secepatnya memporak-porandakan langit dan bumi, kerja keras mereka adalah salah satu hal yang masih membuat bumi ini masih dapat kita nikmati keindahannya, dari doa-doa merekalah sang pencipta masih tersenyum walau manusia lainnya begitu merajalela melakukan kejahatan, dari doa merekalah laknat Tuhan masih selalu tertunda.

Bersyukurlah kita masih diberi kepercayaan untuk menjalani kehidupan dengan berbagi ilmu dan tenaga, nikmati saja giliran kita masih tertunda, biarkan menjadi amal yang tak hingga, karena suatu saat nanti dikala pintu amal sudah tertutup kita tidak akan bisa lagi berbagi meski kita punya seribu harta dan tenaga. Yakinlah kita adalah orang yang kuat dan tabah serta terpilih untuk menerima panggilan tugas yang mulia karena tak semua orang mampu mengemban pahala yang luar biasa ini. Mantapkan diri karena kita adalah orang yang hebat karena tak tergoda oleh ribuan godaan materi di luar sana karena kita tetap memilih tugas yang sesuai dengan kata hati kita bahwa tugas ini tak ada duanya yaitu mengabdi untuk bangsa tercinta. (Kontak person: 085869266188. Email : roosmilarsih74@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Pembiayaan Institusi Pendidikan Memajukan Taman Bacaan Masyarakat


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: