Generasi ke Depan Harus Naik Kelas

3 April, 2016 at 12:59 pm

JidiOleh Jidi
Pengelola Sekolah di Al Falah Surabaya

Pendidikan umumnya dianggap tiket hidup enak dan mendapatkan posisi mapan. Banyak orang menganggap bersekolah menjadi jembatan emas bagi si anak agar kelak menjadi pegawai negeri, pejabat tinggi, pengusaha, dan semacamnya. Pada anak pun sejak balita seperti sudah tercetak pragmatis pola pikirnya. Sehingga saat ditanya kelak ingin jadi apa, jawabannya tak jauh-jauh dari profesi dokter, pilot, pengacara, menteri, presiden, dan sejenisnya yang top markotop dan dibanderol dapat mendatangkan segudang uang.

Barangkali contoh di atas kadung dipahami sekadar celoteh anak. Tetapi, fenomena masif seperti itu menjadi PR besar pendidikan. Sebab, pola pikir pragmatis anak bisa jadi merupakan cerminan paradigma yang tertanam kuat di benak sebagian besar orangtua dalam memandang apa sebenarnya tujuan menyekolahkan anaknya. Jangan-jangan paradigma seperti itu juga tertancap pada para pemegang kuasa pembuatan kebijakan yang tentu saja bepengaruh kuat pada nasib orang banyak sekaligus arah bangsa.

Dalam konteks penyiapan generasi, seharusnya pada setiap orangtua dan petinggi negara melekat amanah untuk menyiapkan generasi yang kuat. Menjadi pantangan seandainya orangtua meninggalkan keturunan yang lemah. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. …” (Q.S. An Nisa’:9). Aib pula bila petinggi negara yang gagal mempersiapkan generasi yang berkualitas sekaligus kader yang andal.

Namun, kenyataannya lain. Sampai saat ini tidak susah untuk menemukan fakta, anak orang besar tak bisa mandiri, terpuruk hidupnya, menjadi beban negara, bahkan merecoki dan menjadi penyakit bagi lingkungannya. Padahal dalam keluarga tersebut ada potensi besar untuk meng-kadernya menjadi orang besar melebihi orang tuanya. Bukan berarti bahwa anak gubernur harus jadi gubernur, anak presiden harus jadi pesiden. Setidaknya, secara kualitas, kapasitas, dan karakter, si anak kelak lebih baik daripada orang tuanya.

Layak dijadikan ukuran bahwa generasi yang naik kelas adalah generasi yang kualitasnya lebih baik darpada orang tuanya. Meski sederhana ukurannya, akan dahsyat bila peningkatan generasi dalam setiap keluarga dapat diwujudkan secara nyata. Itu menjadi persembahan sejati para orang tua bagi negara dan bangsa yang tak kalah mulianya dengan petinggi negara meski sumpah jabatan mereka juga sebagai abdi negara.

Sekarang ini belum jelas indeks peningkatan kualitas generasi kita. Hasil sigi tentang kualitas SDM yang mencakup sejumlah negara saja belum menempatkan kita dalam posisi juara. Untuk itu diperlukan ukurasi untuk menentukan angka indeks peningkatan kualitas generasi. Caranya adalah dengan membandingkan kualitas generasi dengan generasi sebelumnya atau disederhanakan dalam bentuk perbandingan kualitas anak dengan kualitas orang tuanya.

Berarti ada tantangan bagi para orangtua sebab orangtua sekarang ini umumnya merupakan produk pendidikan yang tak sedikit pun mempersiapkan mereka menjadi orang yang mampu mendidik anak sehingga menghasilkan keturunan atau generasi yang lebih berkualitas daripada dirinya. Di sisi lain pada produk-produk kebijakan pendidikan nasional, penyiapan generasi yang naik kelas relatif tidak menjadi orientasi bahkan seperti belum terpikirkan.

Sepakat bahwa selayaknya manajemen pendidikan nasional dikuasai negara. Harapannya, politik pendidikan nasional bena-benar dapat melakukan rekayasa sosial menuju terwujudnya generasi bangsa yang bekualitas. Hanya saja, politik pendidikan nasional belum terasa efektivitasnya. Sebab, konsep penguasan pendidikan oleh negara lebih pada monopoli kebijakan dan belum memancangkankuatkan konsistensi visi yang jauh ke depan. Bahkan pendidikan masih rawan dikaveling menjadi komoditas politik.

Salah satu solusinya adalah penguatan fungsi dan peran keluarga dalam pendidikan yang selama ini terasa hilang. Berat memang, sebab dalam pendidikan yang berbasis keluarga, untuk penyiapan generasi yang berkelas, dalam sebuah keluarga minimal harus ada tiga komponen utama yang juga tak mudah untuk menyiapkannya. Ketiga komponen itu adalah lelaki yang andal menjadi suami sekaligus sebagai ayah, perempuan yang pintar sebagai istri sekaligus ibu, dan komitmen tangguh dari keluarga untuk mewujudkan generasi yang lebih baik.

Aslinya, sekolah adalah sekadar mitra bagi orang tua yang tidak bisa secara langsung menangani sendiri proses pendidikan anaknya. Pada era industri seperti sekarang hanya karena kesempatanlah seharusnya yang menjadikan orang tua menyerahkan pendidikan anaknya ke sekolah. Sementara akan menjadi seperti apa si anak, tanggung jawab orang tua tak mungkin terwakilkan. Jadi dengan sesibuk apa pun, seharusnya tidak ada lagi orang tua yang dengan gampang menyerahkan mentah-mentah pendidikan anaknya kepada sekolah.

Diperlukan reorientasi tujuan pendidikan agar setiap generasi kita menjadi lebih baik daripada generasi sebelumnya. Orientasi pendidikan yang sekadar menjadikan anak untuk bekerja enak dan punya posisi sosial yang mapan tidaklah salah. Menjadikan anak kaya dan pintar tidak keliru. Namun si anak harus tetap pintar serta benar. Dengan demikian ada harapan, mereka akan peduli dan berkontribusi kepada orang lain.

Para orang tua tetap memegang kunci keberhasilan pendidikan. Orang tua mana yang tak malang ketika tengah malam ditelepon polisi karena anaknya terlibat kejahatan, miras, narkoba, dan sebagainya. Tidakkah kalau sudah begini orang tua masuk neraka tanpa menunggu mati? Agar anak kita menjadi generasi yang naik kelas, mari kita persiapkan. Kita doakan petinggi negeri kita mendapat hidayah agar dapat mengoptimalkan fungsi dan perannya dalam mengurus pendidikan. (Tulisan ini telah dimuat Majalah Al Falah). (jidisjb@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

UN 2016 antara K-13 dan K-6 Pembiayaan Institusi Pendidikan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: