UN 2016 antara K-13 dan K-6

31 Maret, 2016 at 12:00 am

Hari PrasetioOleh Drs Hari Prasetio MM
Guru MAN 2 Banyumas, Jawa Tengah

 

Ujian Nasional (UN) merupakan kebijakan Pemerintah dalam bidang pendidikan untuk menentukan standar mutu pendidikan. Kebijakan ini berkaitan dengan berbagai aspek yang dinamis, seperti budaya, kondisi sosial ekonomi, bahkan politik dan keamanan, sehingga akan selalu rentan terhadap perbedaan dan kontroversi sejalan dengan perkembangan masyarakat. Kebijakan tersebut merupakan keputusan politik atau politik pendidikan yang menyangkut kepentingan berbagai pihak, bahkan dalam batas-batas tertentu sering dipolitisir untuk kepentingan kekuasaan.

Oleh karena itu, sejak digulirkan tahun 2002, UN telah banyak menuai badai, dan menimbulkan berbagai permasalahan dalam implementasinya di lapangan, baik berupa kecurangan, kebocoran, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Meskipun demikian, Pemerintah tetap menggelar UN sampai saat ini, dengan alasan antara lain berkaitan dengan masalah mutu pendidikan. UN berfungsi sebagai “quality control” terhadap sistem pendidikan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memutuskan, sekolah yang menggunakan Kurikulum 2013 (K-13) maupun Kurikulum 2006 (K-6), pada 2016, pelaksanaan UN akan disamakan dan dilaksanakan dalam satu konsep. Prinsip dari ujian itu adalah materi yang diujikan harus pernah diajarkan kepada siswa, dengan mencari titik singgungan antara materi dalam K-13 dan K-6. Dengan konsep tersebut, diharapkan siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal UN.

UN Menyenangkan

Pelaksanaan UN 2016 sama dengan UN 2015, di mana UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan. UN diharapkan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan dan menakutkan. Sebaiknya UN dibuat menjadi sesuatu hal yang biasa, yang bersifat rutin, tidak terlalu dibesar-besarkan, bahkan menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu karena UN adalah hal yang menyenangkan.

Paradigma pelaksanaan UN hendaknya dibangun seperti pertandingan olah raga beladiri, walaupun atlitnya beresiko, tetapi kesempatan itu justru dinanti-nantikan. Para pemenang selalu mencari musuh yang hebat, orang-orang yang berada disekitarnya tidak ada yang khawatir jagonya akan kalah karena semua percaya bahwa idolanya akan menang. Semua orang yang terlibat akan memberi semangat agar idolanya bertarung dengan maksimal, sportif, dan mencurahkan semua kekuatannya untuk merebut kemenangan. Akhirnya, atlit olah raga beladiri itu memiliki kepercayaan diri dan bermental juara.

Demikian juga dalam pelaksanaan UN, semestinya pada setiap siswa dibangun mental juara. Mereka tidak perlu ditakut-takuti tentang kemungkinan tidak lulus dan diberitahu soalnya sulit, sehingga mengikuti les tambahan, kursus, latihan menjawab soal, dan seterusnya. Mestinya siswa diyakinkan, bahwa mereka akan lulus, hati mereka dibesarkan, dan diyakinkan bahwa sekolahnya adalah salah satu sekolah yang hebat. Kehebatan terletak pada kerja keras, ketekunan, dan kejujuran yang selama ini dikembangkan. Nilai UN tidak lagi dijadikan sebagai satu-satunya penentu kelulusan, melainkan hasil UN akan digunakan sebagai pemetaan mutu dan dasar seleksi masuk ke jenjang perguruan tinggi. Tidak ada gunanya lagi berbuat curang dan membesar-besarkan nilai UN.

Semua hal yang berkaitan dengan UN harus dijalani secara maksimal dan sportif. Dengan begitu, UN akan menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu dan diharapkan kedatangannya, bukan sebaliknya. Sekolah sebenarnya bukan merupakan tempat persemaian rasa gelisah, khawatir, dan ketakutan, tetapi hendaknya dijadikan wahana untuk menumbuhkan rasa percaya diri, berani, bertanggung jawab, jujur, memiliki jiwa profesional, dan mencintai ilmu pengetahuan. Kelulusan siswa menjadi keputusan penuh pihak sekolah dengan melihat berbagai aspek dari hasil semua mata pelajaran serta perilaku siswa di sekolah. (Sumber : Suara Merdeka, 31 Maret 2016). Kontak person : 081 367 758 302. E-mail : hariprasetio1967@yahoo.com

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Aliyah (MA). Tags: , .

Siaga, Mendidik Kepemimpinan Religius Berpengetahuan Luas Generasi ke Depan Harus Naik Kelas


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: