Pentingnya Peningkatan Kemampuan Berpikir Peserta Didik

21 Maret, 2016 at 12:00 am

NuryantoOleh Nuryanto SPd
Guru SMK Negeri 1 Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

 

Akhir-akhir ini kita sangat sering mendengar atau melihat berita baik di media cetak maupun elektronik tentang semakin meningkatnya kenakalan remaja, baik yang sampai berhubungan dengan aparat penegak hukum maupun yang tidak. Sebagai seorang guru, fenomena ini tentunya perlu kita cermati dan segera dicari solusi penyelesaiannya secara bersama-sama dan komprehensif. Penyebab kenakalan remaja ini tentunya dapat dilihat juga dari bagaimana aspek kehidupan sekolah, keluarga dan lingkungan para remaja tersebut. Remaja yang terlibat dalam tindak kenakalan kemungkinan besar mempunyai masalah dalam kehidupan sekolahnya. Kehidupan sekolah remaja ini tentunya sangat erat dengan kemampuan berfikir dan daya ingat.

Beberapa tahun ini guru merasakan penurunan kemampuan berfikir dan daya ingat pada peserta didik yang diajarnya. Peserta didik diajak atau dilatih oleh guru untuk selalu mengasah kemampuan berfikir dan daya ingatnyatentang materi pembelajaran/lingkungan sekitarnya. Setiap selesai pembelajaran suatu materi biasanya guru akan mengajukan soal, pertanyaan ataupun suatu permasalahan yang berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Hal ini dilakukan oleh setiap guru untuk meningkatkan pemahaman materi, kemampuan berfikir, daya ingat ataupun daya nalar peserta didik. Fenomena yang muncul adalah kebanyakan peserta didik terlihat malas, susah, lemah dalam berfikir apabila guru memberikan soal/persoalan yang membutuhkan energi untuk berfikir.

Peningkatan kemampuan berfikir dan daya ingat pada peserta didik penting dilakukan dan disiapkan oleh setiap guru sebab:

1. Peserta didik pasti mempunyai masalah yang harus dipecahkan
2. Peserta didik merupakan generasi penerus bangsa
3. Kejayaan atau kemandirian suatu bangsa ditopang oleh generasi yang mempunyai kemampuan berfikir dan daya ingat yang baik/kuat.

Menurut Iskandar (2009: 86-87), kemampuan berfikir merupakan kegiatan penalaran yang reflektif, kritis, dan kreatif yang berorientasi pada suatu proses intelektual yang melibatkan pembentukan konsep (conceptualizing), aplikasi, analisis, menilai informasi yang terkumpul (sintesis) atau dihasilkan melalui pengamatan, pengalaman, refleksi, komunikasi sebagai landasan kepada suatu keyakinan (kepercayaan) dan tindakan. Berfikir adalah satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan.

Sumadi Suryabrata (2002: 55), proses atau jalannya berfikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu: pembentukan pengertian, pembentukan pendapat dan pembentukan keputusan.

Seorang guru harus mengajarkan/melatih peserta didik cara berfikir yang benar, baik itu berfikir kritis maupun kreatif. Kemampuan berfikir kritis ini sangat penting sekali dimiliki oleh setiap peserta didik sebab digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi dan melakukan penelitian ilmiah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berfikir kritis peserta didik, diantaranya:

1. Kondisi fisik
Menurut Maslow dalam Siti Mariyam (2006: 4), kondisi fisik adalah kebutuhan fisiologis yang paling dasar bagi manusia untuk menjalani kehidupan. Kondisi fisik siswa yang terganggu menyebabkan ia tidak dapat berkonsentrasi dan berfikir cepat karena tubuhnya tidak memungkinkan untuk bereaksi terhadap respon yang ada.

2. Motivasi
Kort (1987) mengatakan motivasi merupakan hasil faktor internal dan eksternal. Motivasi adalah upaya untuk menimbulkan rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga seseorang agar mau berbuat sesuatu atau memperlihatkan perilaku tertentu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

3. Kecemasan
Kecemasan adalah keadaan emosional yang ditandai dengan kegelisan dan ketakutan terhadap kemungkinan bahaya. Reaksi terhadap kecemasan dapat bersifat:

a. Konstruktif, memotivasi individu untuk belajar dan mengadakan perubahan terutama perubahan perasaan tidak nyaman, serta terfokus pada kelangsungan hidup.

b. Destruktif, menimbulkan tingkah laku mal-adaptif dan dis-fungsi yang menyangkut kecemasan berat atau panik serta dapat membatasi seseorang dalam berfikir.

4. Perkembangan intelektual
Intelektual atau kecerdasan merupakan kemampuan mental seseorang untuk merespon dan menyelesaikan suatu persoalan, menghubungkan satu hal dengan yang lain dan dapat merespon dengan baik setiap stimulus. Perkembangan intelektual tiap orang berbeda-beda disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangannya. Menurut Piaget dalam Purwanto (1999), semakin bertambah umur anak, semakin tampak jelas kecenderungan dalam kematangan proses.

5. Interaksi antara guru dan peserta didik
Rath et al (1996) menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan berfikir kritis adalah interaksi anatara guru dan peserta didik. Peserta didik memerlukan suasana akademik yang memberikan kebebasan dan rasa aman bagi peserta didik untuk mengekspresikan pendapat dan keputusannya selama berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.

Strategi pembelajaran berpikir kritis
Kember (1997) menyatakan bahwa kurangnya pemahaman pengajar tentang berpikir kritis menyebabkan adanya kecenderungan untuk tidak mengajarkan atau melakukan penilaian keterampilan berpikir pada peserta didik. Seringkali pengajaran berpikir kritis diartikan sebagai problem solving, meskipun kemampuan memecahkan masalah merupakan sebagian dari kemampuan berpikir kritis (Pithers RT, Soden R., 2000).

Faktor yang menentukan keberhasilan program pengajaran keterampilan berpikir adalah pelatihan untuk para pengajar. Pelatihan saja tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan berpikir jika penerapannya tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan, tidak disertai dukungan administrasi yang memadai, serta program yang dijalankan tidak sesuai dengan populasi siswa (Cotton K., 1991).

Secara umum setiap pembelajaran harus mengikuti aturan yang ada dalam Standar Isi, salah satunya berpikir kritis. Namun, strategi pembelajaran berpikir kritis ini dapat dilakukan melalui sajian sejumlah fakta yang didapat dari bacaan atau sumber lainnya. Anak didik dilatih menginterpretasikan untuk membangun suatu struktur proses perubahaan peristiwa. Dalam hal ini secara langsung telah dilatih anak didik memahami bahwa suatu peristiwa memiliki proses perubahan. Ini salah satu ciri khas yang tidak diperoleh anak didik melalui pembelajaran lainnya.

Setelah terbentuk pola perubahan, anak didik dilatih berpikir kritis pada setiap perubahan. Latihan pertama, adalah anak didik disuruh mencari fakta, membuat konsep dan menemukan sebab-akibat dari setiap proses perubahan dalam sebuah peristiwa. Latihan pertama, anak didik ditantang untuk membuktikan terjadi perubahan melalui fakta (kejadian) masing-masing proses perubahan (how), kapan terjadinya perubahan (when), dimana terjadinya (where) dan siapa pelakunya (Who). Latihan kedua, peserta didik dilatih menginterpretasi untuk menentukan konsep setiap fakta (kejadian) dengan memunculkan pertanyaan ‘apa namanya itu’ (What)? Terakhir, peserta didik dilatih mencari penyebab dari masing-masing perubahan, dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan, mengapa terjadi perubahan (Why)? Demikian selanjutnya untuk perkembangan setiap perubahan dalam peristiwa sejarah latihan berulang ini akan membentuk keterampilan berpikir kritis

Strategi pengajaran yang mendorong siswa berpikir kritis terhadap pokok bahasan materi suatu pelajaran dapat menggunakan berbagai strategi pengajaran yang menggunakan pendekatan di bawah ini:

• Pembelajaran Aktif
• Pembelajaran Kolaboratif
• Pembelajaran Kontekstual
• Menggunakan pendekatan higher order thinking
• Self directed learning

Kombinasi dari berbagai strategi di lebih dianjurkan oleh karena dapat mencapai berbagai aspek dari komponen berpikir kritis. Teknologi pengajaran yang menerapkan kombinasi dari berbagai strategi yang ada saat ini misalnya Problem Based Learning (PBL). Para pendidik perlu mengembangkan strategi pengajaran tersebut dalam pengajaran agar peserta didik dapat belajar materi pembelajaran melalui proses berpikir kritis. Dengan demikian peserta didik dapat memberi makna yang lebih dalam (bukan sekedar mendapat materi yang dalam) dari materi yang dipelajari. (Kontak person: 0857 33 43 43 04. Email: abahsalwas@yahoo.co.id).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Keluarga Sumber Inspirasi, Kekuatan, dan Motivator Siaga, Mendidik Kepemimpinan Religius Berpengetahuan Luas


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: