Anak “Tumbal” Karir Orang Tua

7 Maret, 2016 at 12:00 am

Nurul YaqinOleh Nurul Yaqin SPdI
Guru Madrasah Ibtidaiyah Unggulan Daarul Fikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat

Hidup di tengah indutrialisasi mempunyai kecenderungan kesibukan yang luar biasa terlebih orang tua. Khusunya mereka yang bekerja paruh waktu. Pembangunan pabrik yang semakin meningkatakan membawa dampak baik bagi masyarakat, yaitu akan terciptanya lahan pekerjaan baru yang bisa meminimalisir angka tuna karya (pengangguran).

Tapi, tetap saja angka pengangguran di negeri ini tidak kunjung menurun justru sebaliknya, semakin meningkat. Badan Pusat Statistik mencatat, tahun lalu dari bulan Februari 2014 sampai Februari 2015 jumlah pengangguran meningkat 300 ribu orang, total mencapai 7,45 juta orang (Sindonews, 5 Mei 2015).

Angka pengangguran yang melangit, ternyata tidak menyurutkan semangat orang tua untuk semakin giat bekerja.Tak terkecuali seorang ibu yang lebih terobsesi oleh karir dan pekerjaan khususnya di kota besar. Dan sering kali kesibukan orang tua (ibu) menjadikan anak miskin perhatian dan kasihsayang.

Maraknya“Neglectful”
‘Ibu adalah pendidikan pertama bagi anak”. Artinya, bahwa orang tua mempunyai andil yang sangat besar untuk mencetak anak yang cerdas, sehat dan berkualitas. Untuk menciptakan anak yang handal tentunya diperlukan kebutuhan dasar tumbuh dan berkembang. Dan itu tugas utama orang tua. Mereka mempunyai waktu paling dominan untuk memantau perkembangan anak.

Stimulus yang diberikan kepada anak akan menentukan tindakan dan sikapnya terhadap lingkungan. Lingkungan mempunyai efek yang kuat untuk membentuk perilaku anak. Seperti apa anak yang kita harapkan kelak terletak sejauh mana orang tua menanamkan sikap, disiplin dan karakter sejak dini.Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan hasil interaksi antara factor genetik, herediter, konstitusi dengan factor lingkungan, baik lingkungan prenatal maupun postnatal. Faktor lingkungan ini akan memberikan segala macam kebutuhan yang merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan oleh anak untuk tumbuh kembang. (Tanuwidjaya, 2002)

Tak jarang penulis menemukan anak terlepas dari pengawasan orang tua yang mempunyai kesibukan dalam duniakerja (polaasuhneglectful). Anak usia SekolahDasar (SD) yang biasanya istirahat setelah pulang sekolah justru bermain keluyuran tak tentu arah. Kita pasti memahami bahwa kodrat seorang anak adalah bermain. Namun, jika durasi main melebihi batas kewajaran yang disebabkan oleh sikap apatis orang tua, bukan tidak mungkin mereka akan bergaul dengan teman yang salah sehingga bisa melakukan tindakan-tindakan criminal yang tidak sesuai dengan norma.

Anak yang hidup ditengah asupan kasih saying dan ketegasan orang tua (authoritarian parenting) akan lebih bisa dikendalikan dan mudah diarahkan dibandingkan dengan mereka yang hanya diberibekali uang jajan kemudian bapak dan ibunya focus pada karier(neglect parenting). Jangan karena kesibukan materi anak dikomersilkan.

Kurangnya pengawasan orang tua akan berakibat fatal pada kepribadian anak sehingga anak tumbuh menjadi remaja yang tak bertanggungjawab, gampang emosi, prestasi rendah dan bisa melakukan tindakan diskrimanasi. Maka, tak jarang terjadi tindakan amoral, seperti puluhan ABG yang kepergok sedang pesta miras di Semarang Jawa Tengah, penusukan teman lantaran rebutan bangku di SMA Negeri Palembang dan kenekatan dua pelajar SMK asal Nganjuk, Jawa Timur membobol Bank lantaran kehabisan bekal.

Anak Bukan Miniatur
Takbanyak orang tua merenungi sosok seorang anak. Siapa mereka sebenarnya, dan untuk apa mereka dilahirkan. Orang tua tidak menyadari bahwa anak terdiri dari dua unsure yaitu jasmani dan rohani (Munif Chatib, 2014). Namun, seringkali orang tua keliru dalam memahaminya dan menganggap mereka sebagai miniatur orang dewasa yang seolah-olah sudah memahami apa yang mereka mengerti. Mereka terjebak asumsi bahwa anak hanya memiliki dimensi jasmani. Mereka menganggap anak sebagai boneka Barbie yang bisa digerakkan sesuka hati.

Dengan bangga mereka memasukkan anak ketempat kursus elit sedangkan orang tuanya sibuk mengumpulkan uang. Mereka merasa puas setelah anaknya mendaptkan rangking pertama tanpa mengetahui kepribadian si anak. Mereka terlalu berbaik sangka (husnudzon) bahwa anak sudah bisa hidup mandiri. Tidak ada kekhawatiran orang tua dengan memberikan uang jajan dan fasilitas yang memadai.

Memang, saat ini prestasi anak hanya diukur dengan angka hitam di atas putih. Jika mereka menjadi bintang kelas, orang tua merasakan kebahagiaan tak terhingga. Dengan meraih nilai tinggi seakan-akan kesuksesan bisa dijemput dengan mudah di depan mata. Padahal, nilai bagus tidak menjanjikan anak berdisiplin dan bertanggungjawab.

Inilah dimensi (Rohani) yang tak boleh dilupakan orang tua. Dimensi jasmani dan rohani harus diperlakukan secara adil (fair). Sebagaimana jasmani, rohani juga harus memperoleh asupan gizi yang cukup. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi sumber gizi jasmani dan rohani serta tauladan bagi anaknya. Menurut Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, bahwa “Children learn what they live”, yakni anak-anak belajar dari apa yang mereka alami dan hayati, makah endaknya orang tua menjadi pribadi yang hidup atas nilai-nilai yang tinggi. Mereka senantiasa bersikap tegas dan hangat untuk menanamkan kemandirian.

Pengawasan dan bimbingan yang benar agar menjadikan anak sebagai manusia yang bertanggungjawab. Beri kesempaatan kepada anak untuk mengembangkan potensi dirinya. Tampakkan kesabaran dan kasih saying kepadanya. Dengan demikian anak memiliki kematangan sosial dan moral, adaptif, kreatif, dan mempunyai prestasi gemilang. Jangan perlakukan anak seperti miniatur. (Kontak person: 081939003467. Email: mutiarayaqin@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

Demografi dan Pendidikan Sebagai Bonus Kunci Sukses MEA Keluarga Sumber Inspirasi, Kekuatan, dan Motivator


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: