Pendidikan Yang Tak Menjanjikan

27 Februari, 2016 at 12:00 am

Nurul YaqinOleh NurulYaqin SPd I
Guru Madrasah IbtidaiyahUnggulan DaarulFikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jateng

Masih jelas dalam ingatan kita peristiwa bulan agustus tahun 2014 lalu, yang melibatkan seorang alumnus pascasarjana ilmu administrasi Universitas Indonesia (UI) Igntius Ryan Tumiwa (48), yang menyatakan dirinya agar disuntik mati. Hal ini dia perjuangkan lantaran depresi setelah tidak mendapatkan pekerjaan dan hidup sebatang kara. Pemuda dengan IPK 3,32 ini mengajukan permohonan kepada MK (Mahkamah Konstitusi) agar suntik mati (euthanasia) dilegalkan.

Itu bukan kasus biasa. Kasus yang menurut hemat penulis adalah sebuah lukisan nyata yang menggambarkan nasib pendidikan di negara kita. Bisa dibayangkan seorang alumnus S2 dengan IPK tidak bisa dibilang kecil melakukan aksi yang secara rasional di luar nalar pada umumnya. Jika seorang alumnus pascasarjana di Universitas terkenal bisa depresi lantaran kegagalannya dalam mencari pekerjaan, lantas bagaimana dengan rakyat yang berpendidikan rendah?

Kasus yang menimpa Ryan ini mengindikasikan bahwa ada yang belum benar pada pola pendidikan kita dari tingkat terendah hingga stata tertinggi. Ini merupakan fenomena gunung es yang hanya menunggu waktu hancur dan meleleh. Mungkin, beribu bahkan berjuta Ryan di sekeliling kita yang belum tersentuh media. Ryan telah memberikan sinyalemen dan tamparan keras kondisi pendidikan bangsa.

Memang, semakin tua usia pendidikan, semakin tak elok dipandang bahkan menyeramkan. Sekolah bukan menjadi tempat yang nyaman bagi para siswa. Semakin hari sekolah menjadi tempat yang menakutkan lantaran beban tugas yang menumpuk ditambah dengan sikap guru yang merasa paling benar.

Pada kenyataanya, pendidikan kita baru meraba ranah kognitif. Sebuah ranah yang lebih mengandalkan hafalan dengan metode ceramah yang membosankan. Guru dengan gagahnya menerangkan materi panjang lebar yang secara garis besar siswa belum tentu dengar apalagi faham. Penjelasan guru yang seolah-olah paling pintar membuat para murid jenuh dan membosankan. Sikap apatis guru terhadap siswa membuat ruang fikir mereka terbang melayang. Fisik boleh jadi di dalam kelas namun fikiran telah melanglang buana.Maka keterangan guru hanya pengantar ke alam mimpi. Bahkan pernah ada seorang anak SMA yang sukses menulis puisi dengan judul “sebuah film guru mengajar” ketika gurunya sedang menjelaskan materi pelajaran. Sungguh menggelikan.

Dengan pola pendidikan yang demikian, maka tak jarang melahirkan generasi passenger (penumpang).Generasi yang hanya duduk manis di belakang supir tanpa mau tahu arah jalan, tanpa mengetahui kemana angkot melaju, yang dia tahu hanya tujuan kemana dia akan pergi. Bebas mengantuk bahkan tidur kapan saja kemudian bangun ketika kondektur mencoleknya. Tidak berani mengambil risiko tersesat apalagi tersasar. Otaknya hanya dipenuhi lamunan-lamunan indah yang tak mau berfikir selama dalam perjalanan.

Akibatnya, muncullah generasi pekerja muda yang bejibun. Pemuda yang diharapkan menjadi pioner perubahan, banting setir menjadi pegawai bawahan. Pegawai yang hanya manut dan nurut pada perintah atasan tanpa berfikir bagaimana dirinya maju dan berkembang.Tak pernah berfikir untuk menjadi agent of change kemajuan.Tak sedikit pemuda kita berfikir instan hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial. Mereka masuk pabrik lantaran mereka berasumsi sekolah bukan lagi hal yang menjanjikan untuk masa depan.

Pendidikan hanya menambah beban biaya tanpa memperolah sesuatu yang bisa ditawarkan. Mental passenger sudah menempel pada generasi kita. Tak perlu berfikir untuk mengubah arah jalan hidup apalagi mengam bilrisiko.

Berdomisili di daerah industrialisasi sering kali penulis melihat pemuda-pemudi berangkat kerja dari pagi hingga pulang petang. Mereka tak lagi memikirkan kapasitas ilmu pada dirinya yang terpenting adalah bagaimana menyambung hidup untuk masa depan walaupun berada dalam perintah atasan yang tak jarang selalu member tekanan.Tak salah jika mereka bekerja keras untuk menyambung hidup.

Namun usia yang terlampau muda sangat riskan dengan dunia kerja yang semakin hari penuh dengan persaingan dan hanya untuk menghidari label pengangguran. Jangan salahkan mereka. Lantas siapa yang harus disalahkan? Tak usah mencari kambing hitam. Yang menjadi pertanyan, benarkan pola pendidikan yang kita laksanakan selama ini sudah cukup syarat untuk membendung keinginan generasi muda untuk terjun ke dunia kerja? Ini menjadi tanda Tanya besar bagi pemangku kepentingan yang harus dicari solusi jitu untuk mengatasinya.

Seharusnya, sejak dini anak kita tanamkan bagaimana menghadapi persoalan hidup, bukan bagaimana menikmati hidup. Orang tua melatih anaknya agar tangguh menghadapi berbagai masalah kehidupan. Yang marak terjadi di sekeliling kita, anak hanya bisa ngumpet di bawah ketiak orang tua. Orang tua pun dengan bangganya membela anaknya ketika menemukan suatu masalah. Alih-alih ingin membantu buah hati namun tanpa sadar menelan buah simalakama yaitu menjerumuskan anak pada sikap passenger. Sehingga anak tumbuh menjadi manusia tak berani mengambil risiko dan tantangan.

Padahal, Psikolog Stanford University, Carol dweck dalam bukuThe New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua pada anak-anaknya adalah tantangan”.Ya, tantangan. Entah berupa ketidaksanggupan menghadapi masalah, depresi dalam menghadapi kesulitan-kesulitan maupun pengorbanan di masa muda.

Dunia pendidikan juga seharusnya mengubah sistem yang selama ini telah berlaku (beban kognitif) agar anak didik di bangsa ini makin hari tidak menganggap remeh pendidikan. Jika pendidikan telah mencapai kata ideal maka generasi muda tak akan terjebak dengan rayuan pabrik dan perusahaan yang menuntut mereka hanya menjadi bawahan. Kalau penddikan berada pada jalur yang benar, para pemuda lebih termotivasi lagi untuk menempuh pendidikan.

Oleh karena itu, bangunkan anak didik dari tidurnya agar tak selalu manjamin minta perlindungan guru dan orangtua. Hadapkan mereka pada sebuah problema yang bisa memacu dirinya lebih berani. Berikan mereka tugas yang bisa melatih mereka untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone). Tantang mereka untuk bisa survive di tempat yang jauh dari sanak famili sebagaimana yang telah dilakukan oleh praktisi manajemen dan Guru Besar Fakultas Ekonomi, Rhenald Kasali yang memberangkatkan mahasiswanya ke berbagai negara tanpa memberinya sepeser pun pesangon. Maka, akan lahir jiwa-jiwa driver (supir) yang berani mengambil risiko, memahami arah tujuan hidup, mampu mengatasi masalah dan pencipta perubahan. Bukan lagi bawahan. (Kontak person: 081939003467. Email: mutiarayaqin@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tags: , .

Politisasi Pemilihan Rektor Guru Honorer Butuh Regulasi Keberpihakan Nasib


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: