Guru Teladan Kesabaran

14 Februari, 2016 at 12:00 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

 

Guru berarti orang yang memberitahukan hal-hal yang belum kita ketahui sehingga kita menjadi mengerti. Guru di sekolah sebagai guru dalam arti yang sesungguhnya, maupun ditempat lain misalnya guru ngaji atau guru lain yang kadang tidak kita sadari telah menjadi guru dalam kehidupan kita.

Tauladan adalah contoh/panutan dalam perilaku yang baik, sebagai wujud dari kompetensi kepribadian guru. Dalam hal kesabaran guru tidak diragukan lagi karena setiap saat harus mengendalikan segenap emosionalnya dalam menghadapi berbagai kemajemukan peserta didik dengan berbagai sikap dan tingkah laku.

Seperti apa tauladan yang harus dicontohkan oleh seorang guru, agar layak mendapat gelar guru tauladan. Gelar yang harus bin wajib dimiliki oleh seorang guru adalah gelar akademik dalam bidang pendidikan, yang tidak bisa ditawar lagi. Profesi guru harus dipegang oleh orang yang memahami dan melaksanakan dunia pendidikan dan pangajaran yang telah diperoleh melalui jenjang pendidikan yang telah ditentukan oleh Dirjen Dikti, sebagaimana dalam UU tentang guru dan dosen nomor 14 tahun 2005 disebutkan bahwa guru harus memiliki 4 kompetensi yang terdiri dari:

1. Kompetensi Pedagogik yang merupakan kemampuan untuk memahami peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi, dan mengembangkan peserta didik agar mampu mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya..

2. Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan personal/pribadi guru yang mencerminkan pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi tauladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

3. Kompetensi Profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup kurikulum mata pelajaran dan substansi keilmuan yang menaungi materi, struktur dan metodologi keilmuannya.

4. Kompetensi Sosial, merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orangtua/wali dan masyarakat sekitar.

Secara administratif guru harus memenuhi syarat dalam menyediakan segala administrasi penunjang kegiatan belajar mengajar yang disebut silabus. Silabus meliputi rencana pembelajaran, program tahunan, program semester, analisis, evaluasi dan berbagai administrasi lainnya yang bertumpuk tak sempat membuat guru berleha-leha. Dalam perannya sebagai pendidik dan pembimbing, guru dituntut tampil sempurna dihadapan siswa-siswi, mereka tak mau tahu seribu satu kesibukan guru dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran guna mendidik mereka, agar apa yang disampaikan oleh guru mudah diterima oleh peserta didik.

Mereka menuntut guru sebagai makhluk yang sempurna dihadapan mereka. Guru tak boleh marah meski mereka menyebalkan, yang tak menyalahkannya jika mereka tak membuat pekerjaan rumah, yang mengajar dengan bahasa yang lemah lembut sesuai dengan keinginan mereka. Mereka berharap jam bebas sehingga mereka bebas memukul meja dan benda disekitar jika mereka bosan, yang takkan melaporkan kenakalan mereka kepada orangtua, serta tidak akan menghukum mereka setiap kali mereka bersalah, pokoknya sosok guru tauladan bagi mereka sesuai dengan harapan mereka.

Sementara guru adalah manusia biasa yang normal memiliki seribu satu persoalan dalam kehidupan. Berbagai persoalan keluarga, persoalan dalam lingkungan sosial, atau dalam pribadi mereka yang mutlak dimiliki oleh seluruh manusia untuk disayangi, diperhatikan, dan juga memiliki emosional yang tidak setiap saat bisa dikendalikan jika keadaan tidak selalu stabil. Emosional seorang guru sebagaimana manusia lainnya kadang tidak bisa dikontrol atau dikendalikan oleh situasi yang mendadak berubah.

Berbagai tingkah laku anak didik yang penuh dengan kenakalan dan keisengan, kemalasan mereka yang melampaui batas pastinya setiap saat memicu andrenalin sampai ke ubun-ubun.

Guru juga bisa membentak, marah, kesal jika anak didik yang seharusnya menurut dan mendengarkan apa yang sedang di ajarkan tidak menggubris. Apalagi menyepelekan dan seperti memprovokasi keadaan sehingga pembelajaran menjadi tidak terkonsentrasi. Beberapa anak kadang menjengkelkan guru dengan tingkah laku yang tak seharusnya yaitu membantah saat diingatkan bersalah. Keadaan tersebut yang sering memicu guru berbuat diluar kendali emosi sehingga out kontrol sampai mencubit, menjewer, melempar sesuatu sebagai peringatan yang tak bisa lagi dilakukan dengan kata-kata akibat kenakalan siswa yang melampaui batas dan sulit diatasi.

Instrumen uji guru yang lain yang mungkin tidak akan bisa ditanggani oleh seseorang yang bekerja di bidang lain adalah anak didik dengan berbagai karakteristik. Anak penuh keluguan, kenakalan, dengan tingkat kecerdasan yang tidak merata membutuhkan kesabaran, keuletan, dan penanganan secara spikologis.

Guru dapat menerima kekurangan dan kelebihan mereka sebagai suatu tanggungjawab dan anugrah yang indah sehingga segala kesulitan dalam menangani mereka dirasakan sebagai lika-liku yang indah. Mereka adalah calon generasi/makhluk hidup yang mempunyai 1001 polah dan tingkah laku yang setiap saat bisa berubah baik oleh sifat pribadi mereka atau oleh situasi dan kondisi yang ada. Disinilah seorang guru dituntut menangani dan menyelesaikan keadaan tersebut melalui pembelajaran.

Bisa dibandingkan pegawai dibidang lain berhadapan dengan berbagai objek: mesin, tanah, berkas atau objek tidak bergerak lainnya, yang notabene jika mengalami kerusakan cukup dibetulkan sudah selesai.

Bukan anak didik sebagai subyek hidup yang dipengaruhi oleh berbagai faktor diri sendiri dan lingkungan, serta dapat mengubah situasi dan kondisi baik atau buruk.

Beberapa kasus yang terjadi guru memberi teguran kepada anak didik baik berupa peringatan keras maupun berupa peringatan fisik misal mencukur rambut, mengumpulkan sesuatu, membersihkan sekolah. Hal tersebut tentu sudah dipertimbangkan dengan berbagai resiko disesuaikan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan anak dengan tujuan anak menjadi tahu kalau kesalahannya merugikan orang lain dan tidak akan mengulanginya dikemudian hari.

Sebagai pengetahuan, guru adalah manusia tersabar yang sudah teruji oleh waktu. Salah satu ujian guru tidak sebagaimana ujian dari kompetensi keahlian/pekerjaan lain, yang berupa materi ujian yang bisa dikerjakan dengan mempelajari materi dari modul tertentu untuk menyelesaikannya. Instrumen ujian guru dimulai dari lamanya masa pengabdian yang dialami guru tidak terhitung satu dua tahun dengan kesejahteraan yang tidak ada sama sekali setiap bulannya, selama masa pengabdian yang rata-rata diatas lima tahun tersebut alangkah beratnya karena tingkat ujian yang harus ditanggung dalam menghadapi berbagai kesulitan menangani anak didik.

Sebagian guru yang lolos melalui jalur penyaringan CPNS tentu berbeda dalam hal kesejahteraan di awal pengabdian mereka karena bisa langsung menikmati gaji dari bulan pertama. Sebagian calon guru yang tidak memiliki panggilan jiwa sebagai pendidik pasti dia sudah meninggalkan masa-masa tersebut dan mencari pekerjaan lain yang tentu saja langsung terima gaji setiap bulannya.

Sebagai perbandingan seseorang dengan ijasah S1 jika bekerja di suatu perusahaan mungkin bisa mengantongi lebih dari 2 juta setiap bulannya sedangkan bagi seorang guru honorer, sangat jauh untuk mencapai angka tersebut.

Seorang guru tentu tidak akan begitu saja menjatuhkan peringatan tegas jika anak didik tidak melakukan kesalahan sampai berulang-ulang atau fatal, yang mungkin tidak disadari oleh si anak. Peran serta orangtua sangat dibutuhkan dalam menangani kondisi ini, jika menerima pengaduan dari anak baik mengenai berbagai hal di sekolah harus dikonfirmasikan secara mendalam dengan pihak sekolah.

Jangan buru-buru mengambil tindakan atas pengaduan anak, sebab apapun tindakan yang diambil oleh orangtua yang akan menanggung kerugian adalah orangtua sendiri baik dalam waktu sekarang maupun dimasa mendatang, terutama dalam menanamkan kemandirian anak. (Kontak person: 085869266188. Email : roosmilarsih74@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Inflasi Radikalisme: Amankah Anak Kita Bersekolah? Pendidikan Bermutu dan Politik Pendidikan


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: