Cerdas untuk Mencerdaskan

20 Januari, 2016 at 12:00 am

Albert Reforman GuloOleh Albert Reforman Gulo
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma.
”Nak, belajarlah yang rajin dan kembalilah untuk membawa perubahan yang baik di daerah kita.” Inilah pesan singkat yang saya bawa dari daerah kelahiran ketika hendak berangkat menuju Kota Yogyakarta untuk menempuh pendidikan.

Di dalam pesan ini terkandung sebuah harapan yang sangat besar agar di kota pendidikan itu saya dapat menjadi mahasiswa yang cerdas dan kelak dapat membawa perubahan di tengah masyarakat tempat saya berasal. Untuk menjadi agen perubahan tersebut, menjadi mahasiswa merupakan tanggung jawab terbesar yang pertama kalinya saya jumpai.

Sebagaimana terpapar saat ini, ”mahasiswa” sering didefinisikan dengan berbagai macam pengertian dan pemikiran. Mahasiswa sering dipandang sebagai status tertinggi dalam menempuh pendidikan sehingga membuat banyak orang merasa bersyukur ketika menyandang status tersebut. Selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, banyak mahasiswa belajar lebih giat untuk menjadi mahasiswa yang cerdas dan bermutu agar memiliki masa depan yang lebih baik ke depannya.

Bahkan di era yang lebih modern ini, banyak mahasiswa yang telah memahami bahwa kecerdasan tidak cukup membantu untuk menunjukkan keberadaan diri sebagai seorang mahasiswa. Oleh karenanya, bergabung denganberbagaiorganisasi maupun komunitasyangtersedia di kampus merupakan alternatif yang sering diikuti untuk memiliki bekal softskill sebelum memasuki dunia pekerjaan.

Hal itu tentunya dapat dijadikan mahasiswa sebagai ujung tombak untuk membangun dan membawa kemajuan di daerahnya. Sayangnya, setelah sukses mendapat gelar sarjana, ada begitu banyak yang tidak begitu peduli dan lebih memilih untuk menetap di kota-kota besar guna mendapatkan pekerjaan yang lebih menguntungkan mereka.

Tidak ada yang pantas disalahkan dalam menyelesaikan problematika ini, tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah siapa lagi yang akan membangun daerahnya jika bukan mahasiswa yang berasal dari daerah itu sendiri? Tentunya tidak ada, kecuali mahasiswa tersebut. Dunia pendidikan memang selalu terbukti berhasil mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

Pencapaian ini patut diapresiasi dan oleh karenanya sebaiknya kecerdasan tersebut dijadikan sebagai virus untuk mencerdaskan dan bukan merusak kehidupan orang lain. Jika melihat keadaan saat ini, kasuskasus kerusuhan maupun penipuan sering kali melibatkan orang-orang dengan status pendidikan tinggi.

Untuk mengentaskan masyarakat dari berbagai peristiwa buruk ini, kunci pengentasan kembali kepada kita sebagai anak bangsa maupun sebagai mahasiswa karena kita adalah generasi penerus bangsa yang paling ditunggu aksinya di daerah kita masing-masing.

Maka dari itu, sebagai mahasiswa kita perlu mengambil sikap yang tepat dengan menggunakan kecerdasan yang kita miliki untuk mencerdaskan orang lain dan hendaknya mampu membawa perubahan yang dapat memajukan bangsa dan khususnya daerah tempat kita berasal.

Dengan demikian, kita juga telah menjadi agen perubahan yang juga melaksanakan dua tugas sekaligus, yakni menjadi agen perubahan dan mewujudkan tujuan nasional bangsa Indonesia sebagaimana terangkum dalam alinea keempat Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 yang salah satu tujuannya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. (Sumber : Koran Sindo, 20 Januari 2015).

Entry filed under: Artikel Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Menggunakan Metode OSOQuW untuk Meningkatkan Ketrampilan Bertanya Siswa Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: