Menggunakan Metode OSOQuW untuk Meningkatkan Ketrampilan Bertanya Siswa

18 Januari, 2016 at 6:39 am

Does IchnatunOleh Does Ichnatun Dwi Soenoewati
Guru SMP Negeri 3 Semarang

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang
Berbicara merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang harus dipelajari siswa. Dengan berbicara, seseorang bisa menyampaikan gagasan, pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Salah satu kelebihan berbicara dibandingkan dengan menulis adalah kita bisa mengklarifikasi secara langsung apa yang kita maksud apabila lawan bicara kita tidak memahaminya.

Secara teori, berbicara merupakan ketrampilan produktif yang lebih mudah dilakukan oleh seorang anak dari pada menulis. Anak bisa berbicara apabila dia pernah mendengarkan orang di sekitarnya mengatakan sesuatu, namun anak belum tentu bisa menulis ketika melihat orang di sekitarnya menulis. Gerot, L. dan Wignell, P. (1995:161) mengutip pendapat Visigoths bahwa rangkaian kesatuan berbahasa dimulai dari bahasa paling lisan menuju bahasa paling tulis. Meskipun demikian, beberapa aturan yang berbeda antara bahasa ibu dan bahasa asing, dalam kasus di sini adalah bahasa Inggris, merupakan masalah tersendiri bagi anak.

Tingkat literasi berbahasa Inggris bagi siswa SMP adalah tingkat fungsional. Siswa diharapkan bisa menyelesaikan masalah/memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti menanyakan alamat, menyapa orang yang belum/sudah dikenal, meminta/memberi informasi sederhana, dan lain-lain. Mengajukan pertanyaan sangat penting untuk menjaga hubungan interpersonal. (Christie, F. and Derewianka, B.. 2008:16).

Banyak siswa, terutama siswa kelas VII belum bisa mengajukan pertanyaan secara lisan. Menurut pengamatan, hal itu terjadi karena siswa kurang menguasai penggunaan kata tanya berbahasa Inggris, tidak menjumpai kata kerja bantu dalam bahasa ibu, serta kurang memiliki keberanian dalam mengungkapkan pertanyaan.

Selama ini, guru meminta siswa untuk berlatih membuat pertanyaan secara tertulis lalu mempraktikannya secara lisan.Kebanyakan siswa baru akan memulai menulis setelah 5 menit. Siswa tidak segera mengambil alat tulis, mengobrol dengan teman terlebih dahulu, melakukan tindakan lain, atau bahkan melamun. Pada akhirnya siswa menjiplak pekerjaan teman.Akibatnya, siswa tidak bisa mempraktikkannya.

Sebagian besar siswa kelas 7 telah memahami macam-macam kata tanya dalam bahasa Inggris, namun mereka belum bisa menggunakannya dengan tepat. Untuk mengatasi permasalahan siswa tersebut, penulis mencoba menggunakan permainan ‘How Do You Ask?’ dengan model OSOQuW atau One Student One Question Word. Penulis beranggapan bahwa belajar mengajukan pertanyaan menggunakan strategi ini dapat memotivasi siswa agar aktif mengambil bagian dan tidak membuang waktu.

Makalah ini baru merupakan gagasan yang disimpulkan dari percobaan menggunakan metode tersebut di 6 kelas 7 yang penulis ampu. Dari 6 kelas yang dicoba, hanya 1 kelas yang tidak berhasil menggunakan metode ini secara menggembirakan. Dari 8 siswa pada masing-masing kelompok, rata-rata hanya 1 siswa berhasil menggunakannya. Namun demikian, percobaan ini berhasil memotivasi siswa untuk mengajukan pertanyaan secara antusias di 5 kelas lainnya, dengan rata-rata tiap kelompok terdapat 3-5 siswa, meskipun mereka harus merevisinya berulang kali.

Pada kesempatan lain, penulis akan mengajak teman sejawat untuk melakukan refleksi pembelajaran dengan mencoba menggunakan metode tersebut guna meningkatkan ketrampilan bertanya bagi siswa kelas 7 melalui penelitian tindakan kelas.

2. Tujuan
Makalah ini bertujuan mendiskusikan strategi permainan dalam pembelajaran, terutama dalam meningkatkan motivasi siswa dalam mengajukan pertanyaan berbahasa Inggrisdengan lebih efektif dan efisiendibandingkan dengan latihan berulang-ulang secara tertulis.

B. Isi

1. Permasalahan
Bertanya, menanya, mempertanyakan merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang produktif. Dengan bertanya, siswa bisa mengajukan berbagai permasalahan baik dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Ketrampilan tersebut tidak hanya diperlukan dalam pembelajaran, tapi juga merupakan salah satu langkah dalam pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Siswa cerdas selalu ingin tahu apa saja yang terjadi di sekitarnya melalui bertanya. Apa yang akan terjadi jika siswa tidak bisa menggunakan kata tanya dalam bahasa Inggris?

Belum banyak guru, termasuk penulis, bisa membuat siswanya mengajukan pertanyaan. Sebagian besar pembelajaran didominasi oleh pertanyaan guru terhadap siswa. Grugeon, dkk (2005:7) mengutip pendapat Smith (2004) bahwa guru menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjelaskan dan bertanya kepada siswa. Hanya sedikit guru yang memfasilitasi siswa untuk mengungkapkan idenya.
Fatalnya, guru merasa berhasil dalam mengajar dan puas ketika semua pertanyaannya terjawab oleh siswa. Mereka akan beranggapan bahwa pembelajaran telah sukses ditambah lagi semua siswa tuntas dalam mengerjakan soal ulangan, tanpa peduli seberapa banyak pertanyaan di dalam kepala siswa yang tidak sempat diajukan karena berbagai hal.

Kompetensi dasar bahasa Inggris kelas 7 lebih banyak didominasi ketrampilan mendengarkan dan berbicara. Agar terjadi percakapan, tentu harus ada yang bertanya dan memberikan respon terhadap pertanyaan tersebut. Percakapan akan terhambat jika siswa tidak sanggup mengajukan pertanyaan. Permasalahan yang dijumpai pada hampir semua siswa adalah kurang bisa memilih kata tanya dan menggunakan kata bantu dengan benar.

Mengingat kata bantu sama sekali tidak dijumpai siswa dalam bahasa ibu, maka sudah bisa dipastikan bahwa mereka mengalami banyak kesulitan.

Dalam bahasa Indonesia, siswa bisa mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Siapa namamu?
Di mana kamu tinggal?
Apa kegemaranmu?
Apakah kamu suka menyanyi?

Tidak diperlukan kata kerja bantu sama sekali dalam kalimat-kalimat pertanyaan tersebut. Masalah terjadi ketika siswa harus menggunakannya dalam bahasa Inggris. Siswa tidak bisa memilih kata tanya maupun kata kerja bantu sesuai yang diperlukan. Kecenderungan siswa akan menterjemahkannya dalam bahasa Inggris seperti berikut:

Who you name?
Where you live?
What you like?/What your favorite …?
What you like sing?

Tidak ada satupun kata bantu digunakan. Seharusnya siswa menanyakannya sebagai berikut:
Who are you? atau What’s your name?
Kadang-kadang siswa mengajukan pertanyaan dimaksud sebagai berikut:
Who is your name?
Where are you live?
What are you like?
What do you like sing?

Kesalahan tersebut tidak sepenuhnya kesalahan siswa. Seperti telah diuraikan di depan, latihan berulang-ulang secara tertulis hanya memberikan kontribusi sangat sedikit. Dari berbagai latihan secara tertulis yang dilaksanakan, hanya beberapa siswa bisa mengerjakannya sendiri dengan benar. Selebihnya menyontek pekerjaan teman yang sudah dapat dipastikan akhirnya mereka tidak bisa menggunakannya dalam praktik karena mereka tidak memahaminya.

Kata Tanya dan Kalimat Tanya
Ada dua macam kalimat tanya, yaitu kalimat tanya yang memerlukan jawaban ya atau tidak, yang sering disebut dengan ‘Yes/No Questions’ dan kalimat tanya yang memerlukan jawaban berupa informasi (Information Question). Kalimat tanya ya/tidak tidak memerlukan kata tanya. Siswa cukup menggunakan kata kerja bantu ‘do, does, is, am, are, can, may, must, shall, dan will’. untuk membuat kalimat tanya seperti itu. Sementara kalimat tanya yang memerlukan jawaban berupa informasi memerlukan kata tanya (what, who, when, where, which, why, dan how) dan kata kerja bantu untuk beberapa pertanyaan.

Berikut contohnya:
Kalimat tanya ya/tidak
Do you like mango?

Kalimat tanya seperti ini sebetulnya sangat sederhana, namun masih saja siswa membuat kesalahan. Siswa biasanya akan bertanya:
Are you like mango?

Kalimat tanya dengan jawaban berupa informasi:
What do you eat for breakfast?
Who takes you to school?
When will you go to Bali?

Siswa cenderung mengatakan:
What you eat for breakfast?
Who do takes you to school?
When you will go to Bali?

Siswa belum terbiasa meletakkan kata kerja bantu di depan subyek ketika membuat sebuah kalimat tanya seperti yang disarankan oleh

2. Pemecahan Masalah
Permainan ‘How Do You Ask?’ menggunakan metode OSOQuW (One Student One Question Word) diperkirakan akan dapat membantu siswa mengajukan pertanyaan secara alami.

3. Permainan ‘How Do You Ask?’ Menggunakan Metode OSOQuW
Berikut cara bermain ‘How Do You Ask?’ Menggunakan Metode OSOQuW.

Tingkat:
Dasar-menengah

Tujuan:
Untuk membantu siswa mengajukan pertanyaan menggunakan kata tanya.

Persiapan:
32 kartu kata tanya yang terdiri dari 8 macam kata tanya yang sudah dilaminasi

Langkah-langkah:
1. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok berdelapan.
2. Masing-masing siswa mendapatkan satu kartu kata tanya yang sama dengan kelompok lain.
3. Guru akan membacakan sebuah kalimat dengan penekanan kata atau frasa tertentu sebagai jawaban    dari pertanyaan yang akan diajukan siswa. Hanya siswa yang memegang kata tanya yang cocok untuk menanyakan jawaban yang bisa mengajukan pertanyaan dengan cara tunjuk tangan terlebih dahulu. Setelah guru menunjuk siswa untuk menjawabnya, dia baru bisa menyampaikan pertanyaannya. Jika kalimat pertanyaan yang diajukan siswa tertentu kurang benar, anggota kelompok lain bisa merevisinya. Jika tidak ada anggota kelompok yang berhasil merevisinya, maka kelompok lain bisa mengambilnya.(Diinspirasi oleh Nolasco)

C. Penutup

1. Simpulan
Berdasarkan paparan di atas, bisa diperkirakan bahwa permainan ‘How Do You Ask?’ menggunakan metode OSOQuW dapat membantu siswa dalam mengajukan pertanyaan berbahasa Inggris dengan lebih mudah dan menyenangkan.
Siswa yang terbiasa mengajukan pertanyaan akan menjadi pembelajar dengan tingkat berfikir yang kritis.

2. Saran
Mengingat antusiasnya siswa dalam mengikuti pembelajaran menggunakan metode ini, sebaiknya segera digunakan dalam merefleksi diri bersama teman sejawat dengan mengadakan penelitian tindakan kelas.

Daftar Pustaka

  • Christie, Frances and Derewianka, Beverly. 2008. School Discourse Learning to Write across the Years of Schooling. New York: Continuum International Publishing Group Gerot, L. dan Wignell, P. (1995). Making Sense of Functional Grammar. New Soth Wales: Gerd Stabler.
  • Grugeon, Elizabeth, Dawes, Lyn, et all. 2005. Teaching Speaking & Listening in the Primary School (3rd ed.). London: David Fulton Publishers Ltd.
  • Nolasco, Rob and Arthur, Lois. 1987. Conversation. Oxford: Oxford University Press.
  • Umstatter, Jack. 2010. The Grammar Teacher’s Activity-A-Day. San Fransisco: Jossey-Bass.
    (Kontak person: 081393886388. Email: doesichnatun129@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Pelayanan Prima ‘Quo Vadis’ Perlindungan Anak di Sekolah: Antara Norma dan Realita


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: