Implementasi Kurikulum Nasional

15 Januari, 2016 at 12:00 am

Oleh Kurniawan Adi Santoso
Guru SD Negeri Sidorejo, Kec Krian, Sidoarjo, Jatim

Wacana pergantian kurikulum mengemuka lagi setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam buku Kilas Setahun Kinerja Kemendikbud (November 2014-November 2015) menempatkan urusan revisi kurikulum di halaman paling awal. Hal itu lalu disusul dengan rencana mengganti Kurikulum 2013 (K-13) dengan Kurikulum Nasional (kurnas).

Wacana pergantian kurikulum ditanggapi sinis guru-guru yang sering dibingungkan pemerintah karena menteri baru membuat kurikulum lain. Ini dikhawatirkan bisa menimbulkan penolakan lagi.

Sesungguhnya kurikulum yang pernah berlaku dirancang berdasarkan landasan sama, Pancasila dan UUD 1945. Perbedaannya, pada penekanan pokok tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikan. Perubahan kurikulum tersebut tentu disertai tujuan pendidikan berbeda-beda untuk mencapai tujuan tertentu.

Kurnas sesungguhnya merupakan hasil perbaikan substansi Kurikulum 2013 (K-13) yang kini dalam proses revisi terkait dengan kompetensi inti, kompetensi dasar, silabus, evaluasi pembelajaran, dan jam belajar. Pertanyaannya, apakah implementasi kurnas kelak bernasib sama dengan K-13 yang “mati suri?”

Penerapan K-13 banjir kritikan dan keluhan karena langsung diterapkan tanpa pernah diujicobakan, sehingga menimbulkan banyak masalah. Guru sulit menggunakan. Belum lagi ketersendatan piranti pendukung, khususnya buku K-13. Akhirnya, pada akhir tahun 2014, Mendikbud Anies Baswedan menunda pelaksanaan K-13 dan kembali ke Kurikulum 2006. Sekolah yang menjadi proyek percontohan wajib melanjutkan penerapan K-13.

Kalau tidak ingin “mati” di tengah jalan, implementasi kurnas sebaiknya mematuhi rambu-rambu sebagaimana diisyaratkan Everret M Rogers dalam “Diffusion of Innovations.“ Kurnas bisa masuk kategori inovasi pendidikan karena merupakan hasil penemuan baru untuk memecahkan masalah pendidikan. Rogers (1962) menyarankan inovasi yang berupa Kurnas disebarluaskan untuk diadopsi sekolah. Ini biasa disebut difusi inovasi. Agar berjalan efektif dia harus melalui tahapan: pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi.

Kurnas harus dimulai dengan membuat pemangku kepentingan seperti guru dan masyarakat, tahu, paham, atau mengerti isi inovasi tersebut. Pihak terkait harus diajak memahami atau mendalami manfaat kurnas. Para guru harus disiapkan dengan baik. Jangan sampai kurikulum berlaku, mereka guru belum memahami semangat kurikulum.

Maka perlu sosialisasi dan pelatihan langsung (diklat) tenaga pendidik meliputi tujuan, isi, metode mengajar, sampai evaluasi kurnas. Diklat diharapkan efektif mengubah mindset guru. Kurnas menuntut guru mengubah kebiasaan mengajar. Guru harus berperan sebagai fasilitator siswa dalam setiap pembelajaran. Dia mendorong siswa berpikir kritis menggunakan berbagai strategi seperti diskusi, konsultasi, siswa saling mengajar ‘peer teaching’, dan peragaan. Kemudian pemodelan langsung, latihan terbimbing dan bebas. Semua itu dikemas dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan siswa.

Perlu Waktu
Hanya mengubah mindset guru tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat seperti diklat K-13 yang hanya lima hari. Jadi, Kemendikbud harus punya pola baru dalam diklat agar lebih efektif.

Sepanjang tahap pengetahuan harus ditanamkan dan diyakinkan pula manfaat kurnas bagi dunia pendidikan agar guru meminatinya. Dia akan mencari informasi lebih banyak mengenainya. Kesediaan guru memahami kurnas dari berbagai sumber seperti tutor sebaya, buku atau browsing akan membuat semakin efektif tercapainya tahapan pengetahuan. Ini akan menjadikan selective perception. Guru akan mempertimbangan karakteristik kurnas.

Pertimbangan tersebut membuat guru berkenan atau tidak (tahap persuasi). Tahap diharapkan efektif sehingga terbentuk persepsi bagus terhadap kurnas. Guru bersemangat dan bertekad menerapkannya (tahap keputusan).

Selanjutnya, tahap implementasi atau penerapan kurnas di sekolah-sekolah. Kemendikbud sudah memiliki peta jalannya. Dimulai dari periode Januari-Desember 2015, ada 94 persen sekolah kembali menggunakan KTSP. Sisanya, 6 persen sekolah tetap menggunakan K-13. Pada periode Juli 2016-Juli 2017 skenarionya 75 persen sekolah menggunakan KTSP, 6 persen semua kelas memanfaatkan K-13.Kemudian 19 persen kelas 1, 4, 7, dan 10 menggunakan K-13.

Juli 2017-Juli 2018 jumlah sekolah yang menggunakan KTSP susut menjadi 40 persen. Sisanya beralih ke K13. Proses migrasi dari KTSP ke K-13 diharapkan tuntas pada tahun pelajaran 2017/2018. Sebab tahun pelajaran 2018/2019 sudah tidak ada sekolah berbasis KTSP.

Jika kurnas dipandang sulit, rumit, berbelit, maka sekolah-sekolah yang menjadi target cenderung lambat. Jadi, pemerintah perlu terus berkomunikasi dengan sekolah untuk meyakinkan bahwa kurnas mudah diikuti dan dipraktikkan.

Guru memiliki posisi amat penting. Kurikulum bagus di tangan guru profesional akan terjadi proses pembelajaran yang baik. Kurikulum kurang baik, tetapi dikelola guru bagus, sangat mungkin melahirkan proses pembelajaran bermutu. Tetapi kurikulum keren dikelola guru tidak baik, sangat mungkin melahirkan proses pembelajaran buruk.

Maka, dalam mengimplementasikannya, guru perlu didampingi kepala sekolah dan pengawas untuk memotivasi maupun mengawasi agar pembelajaran sesuai dengan tujuan kurnas. Buku teks kurnas begitu vital karena tidak hanya mendukung pembelajaran, tetapi juga menjadi “tafsir” dan panduan pelaksanaan. Untuk itu, Kemendikbud harus memiliki mekanisme efektif dalam pendistribusian, sehingga ketika masuk dalam tahap implementasi, buku sudah berada tersedia.

Apabila kurnas telah membudaya sehari-hari dalam pembelajaran, maka pada saat itu sekolah harus mampu mencari penguat keputusan inovasi atau tahap konfirmasi. Maka, diperlukan kerja sama dari agen pembaru seperti instruktur nasional (dosen, widyaiswara, guru berprestasi) yang telah ditunjuk Kemendikbud untuk memonitor. Di samping itu, guru diharapkan terus berupaya meningkatkan kompetensi dan profesionalistas. (Sumber: Koran Jakarta, 15 Januari 2016).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Dokter Rica dan Problem Pendidikan Pelayanan Prima


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: