Guru dan Pendidikan Indonesia di Abad 21

10 Januari, 2016 at 12:00 am

Oleh Anis Maghfiroh
Mahasiswa FKIP Universitas Muria Kudus

Kehebatan sebuah bangsa tidak terlepas dari sesuatu yang disebut pendidikan, berbicara mengenai pendidikan tidak hanya menjadi sorotan pemerintah saja namun seluruh masyarakat di sebuah negeri.

Memasuki abad 21 saat ini bukan hanya pola pikir masyarakat dan teknologi yang terus berkembang dan terus disempurnakan, namun pendidikan juga terus berkembang. Pendidikan harus berubah agar relevan dengan tantangan dan peluang di abad 21. Maka berdasarkan hal tersebut BNSP merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan abad 21.

Sedangkan Pemendikbud No. 65 Tahun 2013 mengemukakan 14 prinsip pembelajaran, terkait dengan implementasi Kurikulum 2013. Sementaraitu, Jennifer Nichols menyederhanakannya kedalam 4 prinsip yaitu: instruction should be student-centered; education should be collaborative; learning should have context; dan schools should be integrated with society.

1. Instruction should be student-centered
Pengembangan pembelajaran harus berpusat pada siswa, siswa dituntut untuk aktif tidak lagi dituntut hanya mendengarkan, mencatat dan menghafal materi yang diberikan guru,tapi berupaya untuk mengembangkan pengetahuan siswa sambil mengajak siswa untuk memecahkan masalah yang nyata ada di masyarakat. Pengembangan pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru lepas tangan dan menyerahkan control belajar kepada siswa,namun disini guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing,sebagai fasilitator guru berperan dalam memberikan pengetahuan awal pada siswa dan mendorong siswa untuk mengembangkan pengetahuan itu dengan cara belajar siswa itusendiri, sebagai pembimbing guru berperan ketika siswa menemukan kesulitan,dalam hal ini guru juga mengimplementasikan keterampilan-ketrampilan yang berguna bagi siswa di masa depan.

2. Education should be collaborative
Generasi abad 21 harus mampu berkomunikasi dengan baik, dengan menggunakan berbagai metode dan strategi komunikasi.dalam hal ini siswa dituntut untuk menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggung jawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menghormati perspektif berbeda. Siswa juga menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerjanya nanti, dan hubungannya dengan masyarakat ketika mereka terjun di masyarakat, menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain, memaklumi perbedaan pendapat. Bukan hanya siswa yang dituntut untuk mampu bekerja sama dengan orang lain gurupun dituntut untuk melakukan hal yang sama, misalnya seorang guru bekerja sama dengan guru lain di sebuah Negara atau bekerja sama dengan guru di Negara lain,misalnya dengan kerjasama mengenai system pembelajaran.

3. Learning should have context.
Hakekat seseorang belajar adalah agar ia mengetahui tentang sesuatu, proses belajar tidak ada gunanya jika, apa yang ia pelajari sama sekali tidak berdampak pada kehidupannya di luar sekolah, maka dari itu materi pelajaran harus dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sesuai dengan realita yang ada, misalnya ketika Guru menjelaskan tentang suatu materi Guru memberikan contoh yang sesuai konteks dalam kehidupan sehari-hari. Siswa dibantu oleh guru untuk menemukan nilai dariapa yang dipelajari dan mengaplikasikannya dalam kehidupannya.

4. Schools should be integrated with society.
Salah satu fungsi belajar di sekolah melalui matapelajaran tertentu adalah untuk mempersiapkan siswa untuk hidup di masyarakat dengan baik agar dapat melakukan pembangunan di berbagai bidang sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sekolah dapat mengadakan kegiatan sosial diluar sekolah untuk memfasilitasi para siswa.

Jika prinsip-prinsip ini yang sudah menjadi bagian dari kurikulum, benar dan serius diterapkan dalam pendidikan bangsa Indonesia, tidak menutup kemungkinan bangsa kita akan berhasil melawan tantangan dan menggapai peluang di abad 21 ini, mengantarkan negara ini menjadi bangsa yang besar dan hebat.

Walaupun penerapan prinsip-prinsip ini dirasa agak sulit untuk pendidikan di negeri ini, untuk mencapai apa yang diharapkan, hal utama yang harus berubah dari semua itu adalah guru atau pendidiknya. Kita tahu kenyataannya bahwa kualitas guru di Indonesia saat ini sudah sangat memprihatinkan di satu sisi tidak sedikit guru yang mendapatkan tunjangan

Namun tidak melaksanakan kewajibannya atau melaksanakan kewajiban dengan setengah hati atau asal-asalan dan disisi lain ada pendidik yang telah mengab di puluhan tahun untuk mendidik anak bangsa justru tidak mendapatkan tunjangan bahkan hanya mendapatkan gaji yang terbatas.melihat hal itu guru atau pendidik harus menyadari jika pendidik adalah abdi negara, guru harus berubah, sebaik apapun program pemerintah untuk mengubah pendidikan negeri ini menjadi lebih baik, jika gurunya tidak membuka diri dengan perubahan zaman, masih berfokus pada apa yang siswa pelajari bukan apa yang dilakukan oleh siswa dan masih berpikir dengan cara lama juga masih memelihara kebiasaan lama.

Jika pendidik terus bersikap seperti ini bersiap-siap saja menghadapi kemunduran bangsa kebanggan kita ini tergerus arus globalisasi dan terlindas pasar bebas.Jadi Marilah guru dan calon guru untuk terus memperbaiki kualitas kita dan terus mengingat kewajiban kita sebagai pendidik sekarang atau nantinya. Marilah kita mengantarkan generasi penerus bangsa ini menjadi generasi yang hebat sehingga bangsa Indonesia kita ini menjadi bangsa yang besar, hebat dan bermartabat di mata dunia. (Email: jiseokl963@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Bersatu Memuliakan Guru Modifikasi Media Belajar Lompat Jauh


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: