Anak Difabel di Sekitar Kita

9 Januari, 2016 at 12:00 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

Disabilitas, istilah yang sekarang ini menjadi ramai, hangat, dan patut diperbincangkan baik menyangkut persamaan hak anak difabel yang menghendaki persamaan dalam menempuh pendidikan maupun yang lebih mengedepankan perlindungan sosial dalam segala segi kehidupan. Difabel adalah suatu istilah yang meliputi gangguan, keterbatasan aktifitas, dan pembatasan partisipasi, dari individu yang bersangkutan sehingga dari gangguan yang berupa masalah pada fungsi tubuh atau strukturnya tersebut mengalami pembatasan kegiatan. Pembatasan tersebut diantaranya mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas dan tindakan, selanjutnya mengalami pembatasan partisipasi dalam keterlibatanya dengan situasi kehidupan. Disabilitas ini menyebabkan terganggunya interaksi antara ciri dari tubuh seseorang dan ciri masyarakat tempat dia tinggal, (Wikipedia).

Dalam penjelasan UU RI Nomor 19 Tahun 2011 tentang pengesahan convention on the rights of persons with disabilities (Konvensi mengenai hak-hak penyandang disabilitas), yaitu setiap penyandang disabilitas harus bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan martabat manusia, bebas dari eksploitasi, kekerasan dan perlakuan semena-mena, serta memiliki hak untuk mendapatkan penghormatan atas integritas mental dan fisiknya berdasarkan kesamaan dengan orang lain. Di dalamnya hak untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanan sosial dalam rangka kemandirian, serta dalam keadaan darurat. Difabel yang kita kenal berati adalah mereka yang mempunyai kekurangan secara fisik, sehingga tanpa kita sadari anak-anak dengan kelemahan secara mental disekitar kita.

Salah satu contoh seorang anak berusia 5 tahun yang memiliki kelemahan secara mental, ia belum bisa bertindak seperti anak seusianya yang bisa makan sendiri, mandi sendiri dan mengikuti kegiatan di PAUD. Anak tersebut masih belum bisa melakukan apapun selain disuapin namun ia sangat aktif dan terus bergerak, berlari kesana kemari kecuali tertidur, sampai anak-anak lain selalu memeluk orangtuanya ketakutan jika didekatnya, karena anak ini selalu menjambak, menarik siapa saja yang tidak disukainya baik anak-anak maupun orang dewasa. Anak dengan kriteria ini bisa disebut sebagai anak dengan kelemahan mental atau difabel karena tidak mampu menguasai emosionalnya sendiri dalam bersosialisasi meski fisiknya sempurna.

Masyarakat harus peduli, peran kita adalah bagaimana membesarkan hati orangtuanya yang terlihat sedih tiap kali melihat anak-anak lain ketakutan melihat anaknya, dan memberi pengertian kepada anak lain mengenai gangguan yang dialami si anak tersebut mengapa ia bersikap kasar yaitu karena ia tidak bisa mengendalikan mental dan sosialnya. Berbagai hal yang dicontohkan oleh orangtuanya dan orang-orang di sekitarnya tidak membekas di memorinya, bahkan anak tersebut belum bisa bersosialisasi dalam bentuk apapun kepada sesama anak-anak seusianya, sehingga ia memerlukan perlakuan secara khusus dalam berbagai hal untuk melakukan segala aktifitasnya.

Ada juga anak yang sangat lemah dalam menerima pembelajaran akademiknya, sering membuat gurunya naik darah karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah maupun tugas lain yang diberikan, sering keluar saat mengikuti pembelajaran, sangat tidak betah berlama-lama didalam kelas mengikuti KBM. Sering bicara keras saat ada kegiatan pembelajaran, atau tiba-tiba membanting pintu hingga membuat semua orang di sekolah cuma bisa mengurut dada dan geleng kepala malas menegurnya karena terlalu sering membuat tidak nyaman. Berulangkali dipanggil ke kantor diingatkan tidak berpengaruh sedikitpun, baru dikasih peringatan seperti tanpa rasa bersalah, beryanyi dengan suara keras, kadang tanpa rasa malu langsung memanggil guru dengan santainya seperti tak terjadi apapun.

Mungkin tidak bisa memperbaiki, ia masih sama bersikap masa bodho, tapi tidak bisa dikatakan cuek, merasa tidak pernah membuat kesal orang, berangkat seperti hari biasanya, seperti tak terjadi apapun dan ia melenggang santai kadang sesekali memanggil gurunya ke kantor dan tak lupa selalu salim tiap kali gurunya datang. Anak ini bahkan lebih percaya diri dari anak-anak lainya tetapi percaya dirinya agak ngawur tidak pada tempatnya, selalu menimbulkan ketidaknyamanan tetapi tidak merasa bersalah, apa yang diomongkan oleh orang yang menasehatinya dianggap angin lalu. Beberapa anak tidak bisa dikatakan badung atau nakal tetapi penalaranya yang lemah hampir tidak bisa membedakan salah, benar, tidak sopan.

Sikapnya semaunya tetapi tidak urakan, kadangkala ia masih kembali ke kanak-kanaknya yang lugu, hanya sekali dua kali, kembali keluar kelas lagi, berjalan mondar mandir dan melongok ke kelas yang lain saat pembelajaran. Hal itu terjadi berulang-ulang, kadang-kadang secara tiba-tiba mengambil makanan teman, atau tiba-tiba menyobek buku teman, atau tanpa rasa bersalah nakal dengan adik kelas yang umurnya jauh dibawahnya. Kalau anak yang bodoh biasanya cenderung pendiam, tetapi anak ini supel dalam hubungan dengan siapapun, tanpa merasa kalau ia memiliki kenakalan yang membuat orang lain kesal, walaupun kita mendiamkanya dia tidak merasa, point plus adalah dia masih punya semangat sekolah.

Anak-anak yang demikian dapat dikategorikan kedalam disabilitas mental dengan ciri-ciri sukar mengendalikan emosi dan sosial atau tunalaras. Keberadaan anak-anak yang demikian menempatkan guru pada posisi yang sulit karena kurikulum yang berlaku menuntut Kriteria Ketuntasan Minimal yang harus dicapai oleh siswa, sedangkan anak-anak dengan kriteria diatas biasanya mengalami keterlambatan dalam mengikuti KBM. Memang ada anak-anak yang memang mempunyai kekurangan secara fisik tetapi mempunyai kelebihan di bidang akademik, sehingga dapat menyeimbangkan dengan anak-anak yang tidak difabel, fenomena semacam ini banyak terjadi disekitar kita dan kita harus memberi ruang, baik untuk belajar atau untuk berinteraksi dengan yang lainnya dalam lingkungan sosial.

Mereka membutuhkan penanganan yang luar biasa dan tentu saja tidak mudah, serta membutuhkan sikap lapang dada menerima kekurangan dia sebagai tanggungjawab yang besar. Peran serta dari pihak yang terdekat sangat membantu kepercayaan diri mereka. Sangat tidak mudah untuk menempatkan anak-anak tersebut diantara sekian banyaknya siswa lain, karena ia mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Mari sadari keberadaan mereka sebagai anugerah terindah, mereka memerlukan kita sebagai figur pelindung dan pengayom yang dapat membuat mereka nyaman dan tenang bersama kita, mari wujudkan cita-cita bangsa yang dituangkan dalam UU Nomor 19 Tahun 2011 tentang perlindungan terhadap sahabat disabilitas. (Kontak person: 085869266188. Email : roosmilarsih74@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Profesionalitas Guru Bersatu Memuliakan Guru


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: