Tarikan Global Vs Lokal Pendidikan 2016

5 Januari, 2016 at 12:00 am

Oleh Edi Subkhan
Dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Unnes, pengelola Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS).

MAKIN hari makin kuat tarikan global atas praksis pendidikan kita. Terlebih pada tahun 2016 diberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Hal penting yang perlu dipertanyakan bukan soal siap atau tidak dunia pendidikan kita menghadapi MEA, tetapi apakah dengan hadirnya MEA, Trans-Pacific Partnership (TPP) dan lainnya akan menjadikan praksis pendidikan kita abai pada realitas dan kebutuhan lokal? Hal ini perlu dipertanyakan mengingat selama ini hampir semua kebijakan pendidikan disetir oleh motivasi untuk mengikuti standar internasional, yang dalam banyak hal justru tidak banyak signifikansi dan relevansinya dengan kebutuhan hidup riil dalam konteks sosial tertentu di Indonesia.

Sebut saja Kurikulum 2013, paparan yang disampaikan oleh M Nuh waktu itu jelas merujuk pada pemeringkatan PISA, TIMSS, dan PIRLS Indonesia yang rendah, dan oleh karenanya perlu memasukkan materi yang diujikan pada beberapa pemeringkatan tersebut ke dalam Kurikulum 2013.
Sebelumnya kita diintroduksikan dengan lahirnya program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), yang untungnya sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) karena dianggap tidak adil dan tidak nasionalis.

Tahun 2016 menjadi tahap lebih lanjut dari infiltrasi sistem ekonomi neoliberal di Indonesia, termasuk dalam dunia pendidikan. Setelah sebelumnya melalui ratifikasi atas ketentuan dari World Trade Organization (WTO) bahwa pendidikan adalah usaha jasa, maka melalui MEA pendidikan diceburkan ke dalam area pasar bebas regional Asean.

Tentu saja pemerintah Indonesia masih malumalu karena masih punya Pancasila sila kelima dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan negara wajib membiayai pendidikan warganya. MEA inilah yang salah satunya menjadi sebab lahirnya Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), yakni kebijakan standarisasi lulusan pendidikan agar dapat bersaing lintas negara di kawasan Asean dengan kualifikasi yang sama/terstandar.

Belum lagi orientasi banyak kampus yang ingin mengejar peringkat dalam pemeringkatan Webometric, Times Higher Education, dan sejenisnya. Semuanya terpesona dan mengarah pada sesuatu di luar Indonesia. Padahal di dalam negeri sendiri kita punya banyak problem yang perlu ditangani di dalam (within) dan melalui (trough) praksis pendidikan.

Dan, sebenarnya masalah pendidikan kita bukan cuma soal banyak guru honorer yang belum diangkat menjadi PNS, soal pemerataan guru di Luar Jawa, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas guru, atau kurikulum baru. Masalah kita jauh lebih substansial dan mendasar, yakni mengenai desain sistem pendidikan nasional kita. Inilah yang patut kita tagih dari Anies Baswedan dan Pemerintahan

Jokowi-JK. Mengapa? Karena sistem pendidikan nasional kita tidak ideal dan tidak adil.
Dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) terjadi hegemoni akademik dan peminggiran atas bakat-minat siswa yang nonakademik. Padahal secara faktual tidak semua siswa berbakat dan berminat dalam bidang akademik. Inilah bentuk ketidakadilan itu.

Tidak Bahagia
Akibat dari ketidakadilan itu pun dapat kita lihat sehari- hari, yakni banyak siswa tidak sanggup dan tidak bahagia di sekolah. Banyak juga yang pada akhirnya gagal bekerja di bidang teknis maupun nonteknis, gagal belajar serius di perguruan tinggi, dan akhirnya bekerja tidak pada bidang yang betul-betul disenanginya.

Solusinya mudah, yakni kembangkan sistem pendidikan yang beragam substansi pengetahuan yang dipelajarinya. Jangan cuma sekolah yang kurikulumnya dikembangkan secara subject matter atau berbasis mata pelajaran yang tepat untuk melahirkan para akademisi.
Perlu juga dikembangkan sekolah yang kurikulumnya mengolah siswa untuk menjadi sesuai bakat, minat, dan kemauan mereka. Dengan demikian perlu sekolah yang tidak hanya berkurikulum akademik (subject matter), melainkan banyak sekolah lain yang tiap sekolah fokus pada pemberian kurikulum olahraga, seni, sastra, agama, dan lainnya.

Selama ini yang ada baru sekolah sepak bola (SSB) yang siswanya tetap harus sekolah formal di SD, SMP atau SMA. Rasanya baru jenis Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah yang betul-betul berbeda. Dengan demikian SSB tidak dianggap dan tidak diperlakukan setara dengan SD, SMP, dan SMA biasa.
Alangkah lebih baiknya jika SSB juga diperlakukan setara dengan sekolah formal lainnya hingga siswanya tidak perlu masuk ke sekolah formal lain hanya agar mendapatkan ijasah. Jika hegemoni akademik dalam kurikulum pendidikan formal kita tidak diubah, maka selamanya akan banyak siswa tidak suka belajar dan gagal dalam studi dan dunia kerjanya.

Hal-hal yang seringkali luput dari perhatian orang namun penting inilah yang harus diperhatikan. Jangan sampai perhatian kita tersedot hanya untuk mengurus ├Čtuntutan├« global seperti MEA, TPP, PIRLS, TIMSS, PISA, dan Webometric hingga melupakan problem mendasar di aras filosofis, epistemologis, dan ideologi pendidikan kita.

Anies Baswedan sudah mulai dengan Indonesia Mengajar, kemudian SM3T, dan program-program pendidikan untuk daerah pinggiran lainnya, namun itu tentu saja tidak cukup. Tentu bukan berarti praksis pendidikan kita harus abai sama sekali dengan perkembangan global.

Kurikulum kita dalam bentuk yang terfragmentasi dan terdiversifikasi pun tetap perlu menampung komposisi muatan materi yang membahas hal-hal yang berbau internasional, nasional, regional, dan lokal. Nah, yang paling tahu soal lokal tentu guru dan sekolah setempat, bukan pemerintah. Namun menuju ideal lahirnya sekolah-sekolah yang beragam kurikulumnya tersebut tentu butuh waktu dan biaya. Jika tidak dimulai dari sekarang rintisannya, mau kapan lagi? (Sumber: Suara Merdeka, 5 Januari 2016).

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Kata Ganti Orang Kedua Profesionalitas Guru


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: