Pembelajaran Sesuai Perkembangan Anak

28 Desember, 2015 at 8:53 am

Veny Agustini PrianggitaOleh Veny Agustini Prianggita MPd
Dosen FKIP Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten

Pada dasarnya layanan pendidikan diupayakan untuk membantu manusia dalam perubahan tingkah laku, yang menyangkut aspek pengetahuan, perilaku, dan keterampilan. Arah dari tujuan pendidikan telah dirumuskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003, yang menyatakan bahwa: “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Pencapaian tujuan pendidikan bukanlah hal yang mudah untuk terealisasikan dengan cepat, tentunya membutuhkan proses pembinaan yang menyeluruh dan dalam waktu yang lama. Agar pencapaian pendidikan dapat terwujud secara optimal sebaiknya pembinaan harus dilakukan sejak usia dini, karena pendidikan yang ideal dan baik semestinya dilakukan sejak anak lahir. Anak sebaiknya dapat berkembang secara wajar tanpa hambatan, oleh sebab itu pendidik harus memberi kebebasan kepada anak agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 14, dikatakan bahwa “Pendidikan anak usia dini adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan dengan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.

Usia dini merupakan usia yang sangat penting bagi perkembangan anak sehingga disebut golden age. Perkembangan anak usia dini sebenarnya dimulai sejak pranatal. Pada saat itu, perkembangan otak sebagai pusat kecerdasan terjadi sangat pesat. Setelah lahir, sel-sel otak mengalami mielinasi dan membentuk jalinan yang kompleks (embassy) sehingga nantinya anak bisa berfikir logis dan rasional.

Selain otak, organ sensoris seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, perabaan, dan organ keseimbangan juga berkembang pesat (Black, J. et all.,1995; Gesell, A.L. & Ames, F., 1940). Sedikit demi sedikit anak dapat menyerap informasi dari lingkungannya melalui organ sensoris dan memprosesnya menggunakan otaknya. Perkembangan ini demikian pentingnya sehingga mendapat perhatian yang cukup luas dari para pakar psikologi/pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan untuk anak usia dini harus disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Prinsip tersebut dinamakan praktek-praktek yang sesuai dengan perkembangan anak atau Developmentally Appropriate Practice (DAP) (Bredekamp, S., 1987).

Dalam perkembangannya setiap anak mengalami tahap perubahan. Setiap tahap perkembangan menunjukan ciri-ciri atau karekateristik perilaku tertentu sebagai harapan sosial yang harus dicapai/dikuasai. Proses penugasan tugas perkembangan pada setiap anak akan berbeda-beda, karena setiap anak mempunyai kemampuan, sifat karakter dan kecerdasan yang berbeda-beda pula. Amanat konstitusi dalam UUD 1945 juga menyatakan bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi pasal 28b ayat 2”. ”Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia (pasal 28c ayat 2)”.

Dan dalam perkembangannya, anak mempunyai berbagai kebutuhan, yang perlu dipenuhi, yaitu kebutuhan primer yang mencakup pangan, sandang, dan ‘papan’; serta kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan penghargaan terhadap dirinya sebagaimana teori kebutuhan dari Maslow (1978), terpenuhinya kebutuhan tersebut akan memungkinkan anak mendapat peluang mengaktualisasikan dirinya, dan hal ini dapat menghadirkan pelatuk untuk mengembangkan seluruh potensi secara utuh.

Pemenuhan kebutuhan dalam perkembangan, banyak tergantung dari cara pengelolaan pembelajaran terhadap anak-anak. Perkembangan anak ditentukan oleh berbagai fungsi lingkungan dan pengelolaan pembelajaran yang saling berinteraksi dengan anak, melalui pendekatan yang sifatnya memberikan perhatian, kasih sayang dan peluang untuk mengaktualisasikan diri sesuai DAP, Horowitz, dkk. 2005.

Penerapan DAP untuk kelompok bermain telah difasilitasi oleh Direktorat PAUD, Dirjen Pendidikan Nonformal Informal, dan Departemen Pendidikan Nasional melalui penyusunan Menu Pembelajaran Generik, yaitu program pendidikan anak usia dini (lahir-6 tahun) secara holistik yang dapat dipergunakan dalam memberikan layanan kegiatan pengembangan dan pendidikan pada semua jenis program yang ditujukan bagi anak usia dini.

Konsep DAP adalah rujukan untuk menyediakan sebuah lingkungan dan menawarkan konten, materi, kegiatan, dan metodologi yang dikoordinasikan dengan tingkat perkembangan anak dan untuk individu anak yang sudah siap. Tiga dimensi yang tepat harus dipertimbangkan yaitu: umur tepat, tepat untuk individu, dan tepat untuk konteks sosial dan budaya dari anak.

DAP dirasa sangat penting karena dapat mendorong penggunaan berbagai strategi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar anak-anak agar dapat memenuhi tugas perkembangannya. Pembelajaran terselenggara dalam berbagai jalur pendidikan, jalur pendidikan informal, non formal dan formal. (Kontak person: 087772684244. Email: venyagustinibaby@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Perpustakaan Kreatif Langkah Preventif Kekerasan Anak di Sekolah


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: