Tantangan Muslimat NU pada Era Globalisasi

26 Desember, 2015 at 12:00 am

Oleh Dra Hj Muzayanah Bisri MPd
Aktivis organisasi perempuan NU, Kepala SMA NU 01 Alhidayah Kendal.

HASIL konferensi wilayah (Konferwil) Muslimat NU Jateng pada 26-27 Desember 2015 di Semarang menentukan masa depan organisasi di provinsi ini lima tahun ke depan. Karena itu, peserta Konferwil harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya momentum itu demi masa depan yang lebih baik bagi organisasi perempuan NU tersebut.

Perjalanan selama lima tahun terakhir Muslimat NU Jateng defisit kegiatan. Di samping itu harus diakui pula bahwa organisasi kemasyarakatan perempuan NU itu, sekurang-kurangnya pada era reformasi ini tengah mengalami kegamangan peran, terutama bila dikaitkan dengan implementasi program organisasinya di masyarakat.

Peran organisasi kemasyarakatan perempuan NU yang dulu cukup dominan, kini lebih banyak diambil alih oleh LSM, organisasi profesi seperti Komnas Antikekerasan terhadap Perempuan, Komnas Perempuan Indonesia Antikorupsi dan sebagainya dengan serangkaian program dan kegiatan yang lebih terfokus, terukur, dan tepat sasaran. Potret organisasi perempuan NU yang berkembang saat ini lebih banyak terjebak pada rutinitas program formal yang kurang berdampak secara langsung pada masyarakat, seperti konferensi-konferensi, raker, dan kegiatan formal lainnya.

Padahal hakikat organisasi perempuan NU itu, pada umumnya dilahirkan sebagai organiasasi yang berorientasi pada pemenuhan masyarakat, dan programnya harus berdampak positif secara sosial, atau dalam istilah lain disebut li-maslahati- alummah (untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat). Dalam konteks gerakan perempuan di Indonesia, bahwa perempuan sebagai elemen penting dan menentukan diharapkan tetap mengambil peran pada era globalisasi ini, tanpa meninggalkan sisi feminitasnya. Globalisasi menunjukkan adanya peningkatan kemajuan di bidang telekomunikasi, elektronika, dan bioteknologi.

Kemajuan ini memberi dampak pula pada keterlibatan perempuan di sektor ekonomi, politik, dan bidang sosial lainnya. Hadapi Tantangan Keterlibatan perempuan yang semakin besar pada sektor publik, tentu saja merupakan kemajuan. Hanya saja globalisasi membawa konsekuensi bagi kehidupan mereka.

Meskipun perempuan memiliki keunggulan, namun eksistensi perempuan di ranah publik menghadapi tantangan, yaitu rasa takut yang begitu mencekam, sehingga perempuan merasa tidak berani dan tidak bisa memanfaatkan potensi dan otak serta daya kreativitasnya secara penuh. Perempuan merasa takut menjadi terkenal, sukses, dan menempati posisi penting, karena merasa harus berperan di sektor domestik, dengan alasan agama, budaya dan sebagainya.

Banyak perempuan mengalami sindrom ini, dan mengambil keputusan untuk bekerja dan berkarier seadanya, padahal ia memiliki potensi yang amat besar. Menyadari akan tuntutan serta terjadi arus perubahan yang begitu dahsyat, sepatutnya Konferwil Muslimat NU Jateng merumuskan peran penting yang perlu diambil. Paling tidak, dibutuhkan kesadaran bersama untuk mereformasi dan mengkaji ulang paradigma baru agar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan.

Contoh yang paling kecil adalah dukungan institusi yang belum maksimal. Maksud dukungan institusi di sini adalah institusi keluarga, masyarakat, dan pemerintahan. Meskipun pola masyarakat sudah berkembang tetapi masih ditemui pola pikir belum maju, dan berakibat pada dukungan institusi yang belum maksimal. Misalnya institusi keluarga, di mana ayah, ibu, suami, mertua dan sebagainya memiliki pola pikir yang menghambat perempuan aktif di sektor publik.

Walhasil, Muslimat NU ke depan dihadapkan pada ragam tuntutan yang lebih kompetitif dan pilihan-pilihan cukup pelik. Sebagai sebuah entitas, Muslimat NU juga harus mengambil sikap, dalam arti agar eksistensinya tak lekang karena perubahan zaman. Karena itu, sudah menjadi kebutuhan jika berbagai persoalan tersebut menjadi kajian lebih mendalam agar perjalanan perempuan NU ini lebih tertata dan terkonsep.

Aplikasinya akan sangat ditentukan oleh kemampuan intelektualitas dan energi pemimpinnya. Parameter intelektual seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Adapun parameter energi dipengaruhi oleh keberadaan fisik pemimpinnya.(Sumber: Suara Merdeka, 26 Desember 2015).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Atas (SMA). Tags: , .

Revolusi Mental Melalui Pendidikan Perpustakaan Kreatif


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: