Revolusi Mental Melalui Pendidikan

24 Desember, 2015 at 12:00 am

SupraptoOleh Suprapto SPd MPd
Guru SMK Negeri 1 Plupuh Kabupaten, Sragen, Jawa Tengah.

Era globalisasi dan modernisasi sekarang ini telah mempengaruhi disorientasi karakter di segala lapisan masyarakat bangsa Indonesia, baik itu yang memposisikan dirinya seorang pejabat atau pemimpin maupun masyarakat yang menempati kasta terbawah. Lewat cerita atau sejarah perjalanan bangsa, dahulu bangsa Indonesia terkenal suatu bangsa yang beradab, menjunjung tinggi nilai budaya, penuh dengan keramah tamahan, dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan itu diakui oleh bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.

Namun seiring perkembangan jaman dan pergantian dari orde satu ke orde berikutnya, pola kehidupan dan kharakter bangsa mengalami evolusi atau perubahan. Apabila perubahan itu mengarah ke nilai-nilai positip, tentunya tidak akan menimbulkan banyak persoalan. Akan tetapi bila perubahan itu menimbulkan dampak negatif, pastinya akan berimplikasi ke arah kondisi yang memprihatinkan bagi semua pihak.

Melalui media dan pemberitaan hampir tiap hari kita disuguhi suatu peristiwa atau hal-hal yang membuat kita mengelus dada. Persaingan hidup yang ketat di mana di antara sesama saling berkompetisi untuk menjaga dan mempertahankan martabat dan eksistensinya, sehingga segala cara dilakukan entah itu saling sikut kiri kanan, menjilat ke atas dan menginjak ke bawah.

Nilai-nilai peradaban, etika dan moral seolah-olah semakin menjauh, sehingga karakter bangsa yang terkenal dengan bangsa yang beradab seolah telah sirna. Percekcokan, perkelahian, kriminalitas, sampai kejahatan kerah putih atau kejahatan yang dibungkus rapi yang dilakukan oleh sebagian orang-orang yang di beri amanah sebagai seorang pemimpin, selalu mewarnai pemberitaan di berbagai media.

Pihak-pihak yang seharusnya diberi kewenangan menegakkan kebenaran dan hukum serta mencegah kejahatan, justru malah ikut terseret ke dalam kubangan atau lingkaran para pelanggar hukum dan mengingkari kebenaran.

Atas dasar keprihatinan semua pihak, perlu kiranya ada suatu gerakan realignment dan pelurusan kembali nilai-nilai kehidupan Bangsa Indonesia melalui revolusi mental dalam kerangka Pembangunan Karakter Bangsa (Nation Character Building). Suatu bangsa yang besar dapat dinilai dari kuatnya karakter bangsa dan karakter tersebut tidak dapat dibangun secara instan, sehingga memerlukan pendidikan nilai dan norma kehidupan bernegara dengan berbagai pengalaman berdasarkan sejarah perjuangan bangsanya.

Generasi bangsa lahir terus, sehingga penanaman nilai dan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Semua pihak perlu melaksanakan pemantapan wawasan kebangsaan yang berintikan Konsensus Dasar Bangsa, terutama internalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai jatidiri dan karakter bangsa, melalui keteladanan para pemimpin formal dan non formal, serta para Guru dan Dosen kepada anak didiknya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Seiring dengan pergantian Kabinet Kerja, saat ini, jargon Revolusi Mental selalu mengemuka dan mewarnai pemberitaan dan aktivitas dari berbagai komponen bangsa. Menurut Rektor Universitas Negeri Jakarta Prof Dr H Djaali dalam sambutannya pada peserta forum mengatakan, reformasi mental adalah proses internalisasi nilai untuk menghasilkan peningkatan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia. Kontek nilai-nilai yang mau ditanamkan di Indonesia sudah jelas, yaitu nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama dan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran berbangsa dan bernegara, termasuk yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia. Perlu keteladanan dari berbagai pihak dalam mengimplementasikan gerakan revolusi mental di segala bidang. Para guru, tokoh masyarakat, dan pemimpin harus terlebih dahulu memperlihatkan dan mencontohkan perilaku-perilaku yang merupakan pengamalan dari nilai-nilai etika dan moralitas.

Kita pernah mendengar slogan bahwa jantung dari suatu Negara adalah terletak di pendidikan. Melalui pendidikan itulah merupakan salah satu wahana untuk mengubah karakter dan peradaban bangsa guna mengimplementasikan revolusi mental ke arah yang lebih baik. Implementasi revolusi mental melalui pendidikan tidak hanya sekedar penyampaian secara teoritis belaka, namun dibutuhkan keteladanan dari para pelaku pendidikan.

Kekeliruan kita selama ini bila kita bicara pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter, dan pendidikan ahlak, maka yang kita lakukan masih sebatas pada teoritis, dan disampaikan melalui metode ceramah. Dan tentunya Ini tidak efektif. Kalau kita bicara revolusi mental, maka implementasinya guna menanamkan nilai-nilai berbangsa dan bernegara, tidak ada pilihan lain kecuali kita harus banyak memberi contoh atau keteladanan.

Keteladan peserta didik ketika di rumah adalah orang tua, keteladan peserta didik ketika di sekolah adalah para gurunya dan keteladanan bagi guru adalah pemimpin di atasnya. Kalau tidak ada keteladanan dari berbagai pihak, mustahil revolusi mental yang akhir-akhir ini di gaungkan akan bisa terwujud dengan baik. Sebagai contoh kecil implementasi revolusi mental di sekolah, ketika gurunya menghendaki siswa-siswa untuk datang tidak terlambat, tentunya di awali terlebih dahulu guru-gurunya datang tidak terlambat.

Ketika peserta didik dituntut berpakaian rapi, maka para guru harus memberikan contoh cara berpakaian yang rapi terlebih dulu. Akan terasa lucu sekali apabila guru menghendaki peserta didik untuk menjadi siswa yang baik, namun para gurunya tidak atau belum baik.

Akhirnya guna mewujudkan gerakan revolusi mental yang merupakan jargon saat kampanye presiden Jokowi dulu betul-betul, kuncinya ada di semua pihak. Masing-masing menjalankan peran, tugas dan tanggung jawabnya di segala aspek dan bidang kehidupan yang selalu bersandar pada norma dan aturan yang selalu dilandasi dengan rasa tanggung jawab, sehingga revolusi mental tidak hanya sekedar jargon semata, namun betul-betul bisa terealisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga Bangsa Indonesia yang dulu diakui oleh bangsa-bangsa lain sebagai bangsa yang beradab, berbudaya dan beretika serta bermoralitas yang tinggi bisa tetap eksis sampai kapanpun tidak lekang tergerus oleh jaman. Mari kita dukung dan sukseskan Gerakan nasional Revolusi Mental. (Kontak person: 081329075385. Email: prapto34@yahoo.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Harapan Tantangan Muslimat NU pada Era Globalisasi


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: