Meneladani Sang Teladan Kehidupan

23 Desember, 2015 at 12:00 am

Oleh Muhbib Abdul Wahab
Dosen Pascasarjana FITK UIN Jakarta, Sekretaris Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah

Salah satu identitas Islam adalah ajaran salam (cinta damai): as-salamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Nilai-nilai salam ini sangat penting diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena umat Islam mengucapkan salam minimal lima kali dalam sehari ketika mengakhiri shalat.

Artinya, menjadi Muslim dituntut mampu mewujudkan nilai-nilai salam (perdamaian, cinta damai, keselamatan, dan kesejahteraan), rahmat (kasih sayang, harmoni, semangat ihsan, berbuat baik demi kebaikan semua), dan barakah (nilai kebaikan, keberkahan, kemaslahatan, dan kebermaknaan dalam hidup).

Sikap dan perilaku yang demikian itu pernah ditunjukkan Rasulullah SAW saat leher beliau nyaris dipenggal oleh tentara bayaran (pemburu hadiah) yang ditugasi oleh Abu Jahal dan kawan-kawan untuk menangkap hidup-hidup atau membunuh beliau dalam perjalanan hijrah dari transit di Gua Tsur menuju Yatsrib (Madinah).

Alkisah, setelah mendapat informasi dari sebuah suku, Suraqah ibn Malik, sang pemburu hadiah, mengejar Nabi SAW dan Abu Bakar RA dengan menunggang kuda sekencang-kencangnya. Beliau berdua hampir tertangkap, bahkan nyaris dipenggal lehernya oleh Suraqah yang membuntutinya dari belakang.

Anehnya, dan ini merupakan mukjizat dari Allah, kuda yang ditungganginya itu terperosok dalam lautan pasir, persis di belakang unta Nabi. Suraqah tidak berdaya. Ia lantas memanggil nama Muhammad untuk meminta tolong agar diangkat dari perangkap pasir itu. Nabi dengan tulus dan berjiwa besar bersedia turun dari untanya dan menolong orang yang sudah berniat jahat itu.

Setelah ditolong, Suraqah pun dimaafkan dan diminta kembali ke Makkah. Ia lantas memutar balik kuda ke arah Makkah. Namun, baru sekitar 100 meter dari tempat kejadian tadi, Suraqah teringat janji manis Abu Jahal bahwa siapa saja yang berhasil menangkap atau membunuh Muhammad, ia akan diberi hadiah 100 unta.

Suraqah pun balik mengejar Nabi SAW. Hampir saja Suraqah dapat menangkap Nabi, tiba-tiba keanehan serupa terjadi lagi: Suraqah dan kudanya kembali terperosok dalam lautan pasir. Ia tak berdaya, lalu menyeru Muhammad untuk meminta tolong.

Nabi Muhammad dengan etos kemanusiaannya yang mulia turun dari untanya lalu menolong Suraqah hingga bisa bangkit dan keluar dari lumpur pasir. Beliau memaafkannya dan memintanya agar mengurungkan niatnya untuk memburu hadiah. Ia lalu memutar balik kudanya menuju Makkah. Namun, lagi-lagi baru sekitar 100 meter, ia teringat kembali hadiah yang dijanjikan Abu Jahal.

Dalam hatinya terbetik bahwa tidak seorang pun menjadi pesaing dalam mendapatkan hadiah ini. Ia kemudian berusaha mengejar kembali Nabi. Dengan gesit dan kencangnya, ia melesat dan hampir saja berada di samping unta Nabi. Namun, kuda dan penunggangnya tiba-tiba terperosok kembali dalam lautan pasir yang dalam.

Ia tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan nyaris terbenam dalam lumpur pasir. Tak ada jalan lain selain meminta tolong kepada Nabi. Nama Muhammad kembali dipanggil untuk dimintai tolong.

Dengan tidak menaruh rasa dendam dan sakit hati sedikit pun, beliau kembali menolong Suraqah, mengangkatnya dari benaman lumpur pasir dan memaafkannya, lalu memintanya kembali ke Makkah menemui para pembesarnya. Untuk kali ketiga, Suraqah sungguh malu hati, dan tidak terlintas lagi keinginan untuk memburu Nabi.

Suraqah benar-benar kembali ke Makkah dengan tangan hampa, tetapi membawa pesan moral yang sangat penting dan membekas dalam dirinya bahwa Muhammad itu baik hati, pemaaf, penolong yang tulus, berjiwa besar, dan tidak pendendam. Beliau itu tidak pantas dikejar-kejar, apalagi ditangkap atau dibunuh!

Kisah tersebut menarik diambil sebagai salah satu pesan penting dalam memaknai maulid Nabi karena mengandung keteladanan moral yang sangat luhur bagi kita dalam mengaktualisasikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Pertama, wajah Islam yang ditampilkan Nabi itu sangat damai, penuh empati, dan harmoni.

Sifat pemaaf
Beliau mengedepankan pemberian maaf daripada membalaskan dendam atau kemarahan hatinya akibat dimusuhi, bahkan hendak dibunuh. Padahal, jika mau berbuat jahat dan membalaskan dendamnya, seketika dalam kondisi musuh yang sudah tidak berdaya, Nabi pasti bisa melakukannya.

Namun, beliau tidak mendendam. Bayangkan, musuh yang hampir menghabisi nyawa beliau saja dimaafkan, diperlakukan secara terhormat, dan dihargai hak-hak asasinya, terutama hak untuk hidup dan berbeda pendapat dengan Nabi SAW.

Kedua, Islam mengajarkan pentingnya bersikap empati dan memberi pertolongan (manfaat) meskipun terhadap orang yang memusuhinya sekalipun. Sebab, dengan begitu sikap dan pandangan musuh bisa saja berubah menjadi lebih baik dan tidak lagi memusuhi Islam. Hal ini kemudian terbukti dalam sejarah ketika Nabi dan kaum Muslimin membebaskan Kota Makkah (Fathu Makkah), Suraqah termasuk orang yang kemudian masuk Islam karena terkesan kuat dalam hatinya akan keluhuran akhlak Nabi SAW.

Ketiga, jalan kekerasan dan terorisme bukan solusi memecahkan berbagai persoalan, termasuk ketidaksukaan Abu Jahal dkk terhadap dakwah Islam. Nabi SAW memilih jalan damai dan pendekatan simpatik-kemanusiaan dengan menolong dan memaafkan Suraqah karena berdampak positif bagi perubahan citra positif Islam di mata orang-orang kafir yang tak menyukainya. Jadi, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin itu agama yang penuh kasih sayang, tidak hanya bagi pemeluknya, tetapi juga bagi yang tidak menyukainya.

Keempat, esensi Maulid Nabi adalah kelahiran figur pejuang HAM yang sejati. Beliau menghargai perbedaan, termasuk kepada musuh atau orang yang sangat dibenci karena berbeda etnik, agama, atau ideologi.

Dalam sebuah hadis, antara lain, diriwayatkan, “Dari Jabir RA bahwa ada jenazah yang diusung melewati Rasulullah SAW, kemudian beliau berdiri (untuk memberi hormat kepadanya) dan kami pun (ikut) berdiri. Lalu kami berkata, ‘Ya Rasulallah, jenazah itu jenazah Yahudi.’ Rasulullah lalu berkata, ‘Sesungguhnya kematian itu sesuatu yang menakutkan. Jika kalian melihat jenazah, hendaklah engkau berdiri.'” Dalam riwayat lain, kepada Rasul dinyatakan, “Jenazah itu jenazah seorang Yahudi.” Lalu Rasulullah berkata, “Tidakkah jenazah Yahudi itu juga manusia?” (HR al-Bukhari).

Kelima, aktualisasi Islam yang humanis: ramah, penuh kasih sayang, cinta damai, antikekerasan dan antiterorisme, dan toleran. Fakta sejarah menunjukkan, Nabi SAW tidak melakukan pertumpahan darah selama di Kota Makkah maupun saat membebaskannya.

Sosok teladan
Dalam konteks ini, Hannan al-Lahham, dalam bukunya Hady al-Sirah wa al-Taghyir al-Ijtima’i menyatakan, orang-orang kafir Quraisy berprasangka Nabi SAW akan “melampiaskan dendamnya” dengan membunuh atau mengusir mereka dari Makkah karena dahulu mereka memusuhi dan membuat Nabi SAW dan sahabatnya harus angkat kaki dari Makkah.

Namun, ternyata dengan komunikasi yang santun dan humanis, Nabi SAW justru melakukan “pengampunan massal”. Nabi menyatakan, “Pergilah kalian semua, kalian semua bebas, dimaafkan.” Lebih lanjut Nabi menyatakan, “Dinuna dinul al-marhamah” (agama kami adalah agama kasih sayang).

Meneladani sang teladan kemanusiaan mengharuskan kita mereformasi komitmen moral untuk mematuhi dan mengamalkan Islam secara konsisten di masyarakat sehingga kedamaian, keharmonisan, kesejahteraan, dan kasih sayang bagi umat manusia dan makhluk lain di alam raya ini dapat diwujudkan. Meneladani sang pembawa rahmatan lil ‘alamin meniscayakan Islam yang berwajah humanis. Dengan keteladanan moralnya, terbukti beliau mampu mengubah masyarakat jahiliyah yang tak bermoral menjadi masyarakat berakhlak mulia.

Dengan meneladani sang teladan terbaik sepanjang masa, Islam diharapkan dapat mewujudkan sistem kehidupan umat manusia dan sistem dunia yang adil, damai, sejahtera, dan bahagia dunia akhirat. Jadi, visi rahmatan lil ‘alamin yang dibawa beliau mengharuskan kita mampu menjadikan Islam sebagai agama teladan sekaligus peradaban yang berkeadaban, berperikemanusiaan, dan berkeadilan. Islam itu untuk semua dan memberi rahmat bagi semesta raya.

Menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin melalui keteladanan Nabi yang terbaik menuntut ketulusan hati dan keterbukaan sikap kita dalam menampilkan dan menjadikan Islam sebagai teladan kehidupan. Islam sebagai rahamatan lil ‘alamin merupakan bagian integral dari upaya kita meneladani salah satu al-asma’ al-husna (nama-nama terbaik Allah), yaitu al-Rahman al-Rahim.

Demikianlah setetes nilai dari lautan dimensi nilai yang dapat diteladani dari sang teladan kehidupan. Menarik digarisbawahi, sifat utama yang paling dominan ditunjukkan oleh Allah, terutama ketika mengawali surah Alquran, adalah sifat kasih sayang. Oleh para penulis sirah-nya, Nabi SAW juga digelari sebagai Nabiyyu ar-rahmah (Nabi Sang Pembawa ajaran kasih sayang).

Jika sebagai pengikutnya kita meyakini Allah dan Nabi-Nya mengedepankan sifat rahmah, maka sudah semestinya kita menjadi umat yang selalu bervisi-misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Semoga! (Sumber: Republika, 23 Desember 2015)

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Tarbiyah. Tags: , .

Undang-undang Pemberdayaan Membaca Harapan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: