Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

18 Desember, 2015 at 12:34 am

SupraptoOleh Suprapto SPd MPd
Guru SMK Negeri 1 Plupuh, Sragen, Jawa Tengah.

Awal-awal tumbangnya rezim orde baru dan dimulainya orde reformasi beberapa belas tahun silam kita diingatkan akan adanya krisis ekonomi yang parah dan berkepanjangan di negeri ini. Awalnya adalah krisis ekonomi tetapi pelan-pelan krisis itu menyebar dan meluas bak penyakit komplikasi yang ganas sehingga akhirnya menjadi multi krisis, antara lain muncul krisis moral dan krisis mental. Harga-harga melambung, pengangguran terjadi di mana-mana, kejahatan dan kriminalitas meningkat tajam.

Kesantunan dan keramah tamahan yang selama itu menjadi icon karakter orang Indonesia seolah berubah menjadi keganasan dan keberingasan. Kita tercebur ke dalam kubangan krisis multi dimensi yang berkepanjangan dan sulit untuk keluar. Hal ini mungkin di sebabkan oleh terlalu lamanya kita di nina bobokan oleh keadaan selama beberapa dekade di era orde baru.

Berbagai langkah dan upaya telah banyak ditempuh dan dilakukan oleh pemegang kekuasaan di pemerintahan pasca orde baru, namun hasilnya belum terlihat signifikan. Bahkan dalam bidang-bidang tertentu justru terperosok semakin dalam ke kubangan krisis. Upaya-upaya yang dilakukan untuk keluar dari krisis mulai nampak berhasil tatkala waktu sudah berjalan hampir satu dekade. Pelan tapi pasti ekonomi semakin menggeliat, lapangan pekerjaan semakin tersedia, dan keamanan semakin kondusif sehingga akhirnya situasi yang lebih baik sangat kita rasakan di akhir-akhir ini walaupun di beberapa hal masih juga mengalami kesulitan.

Kalau di runut secara mendalam, kunci semuanya untuk keluar dari multi krisis itu letaknya di pembenahan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebesar dan Sekaya apapun suatu Negara, kalau SDM-nya tidak diurus dan dikelola dengan baik, tidak akan bermakna.

Dan untuk membenahi SDM ke arah yang lebih baik terletak di pendidikan, karena pendidikan adalah modal penting dalam mengarungi perubahan dan perkembangan era modern sekarang ini.. Artinya dengan pendidikan kita sudah mempunyai separuh modal dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin komplek, tinggal bagaimana kita mengasah dan mengembangkan sumber daya yang kita miliki. .

Di kala krisis ekonomi beberapa waktu silam, kita diingatkan bahwa ternyata ada kelompok yang selama itu seolah terpinggirkan tetapi justru malah tahan banting terhadap krisis, yaitu para pelaku usaha yang masuk dalam kelompok UMKM (Usaha Mikro, kecil dan menengah). Orang yang arif dan bijak adalah orang yang bisa mengambil hikmah atas peristiwa yang pernah dialami.

Di kala orang-orang sulit mencari penghidupan di masa krisis justru dibalik semua itu bisa melahirkan orang-orang yang punya inisiatif dan kreativitas untuk bisa mensiasati di tengah kesulitan hidup yang dihadapi, karena pada prinsipnya setiap orang tentu menginginkan sebuah kehidupan yang layak dan lebih baik.

Kita akhirnya tersadar bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik ternyata kuncinya adalah dengan mengenyam pendidikan yang baik sebagai mana mestinya. Perjalanan dari era pemerintahan satu ke pemerintahan berikutnya selalu menekankan program yang mewajibkan warga negaranya di usia sekolah untuk menempuh pendidikan sesuai dengan jenjang usianya.

Kalau dulu kita kenal dan dengar program wajib belajar Sembilan tahun, namun seiring perkembangan dan kemajuan zaman, program tersebut di tingkatkan menjadi wajib belajar dua belas tahun, yang artinya wajib bagi setiap warga negara untuk mengenyam pendidikan minimal sampai setingkat SLTA,. Hal ini diasumsikan bahwa ketika telah lulus SLTA (SMA/SMK), anak-anak tersebut sudah masuk dan layak menjadi manusia yang produktif dan siap untuk bekerja di berbagai sektor.

Jenjang pendidikan setingkat SLTA terbagi menjadi dua bagian yaitu SMA dan SMK. Ke dua hal tersebut mempunyai perbedaan karakter dan muatan pembelajarannya, namun mempunyai persamaan tujuan yaitu sesuai dengan Tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Semakin tahun jumlah lulusan setingkat SLTA baik dari sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun sekolah menengah atas (SMA) semakin bertambah. Sesuai dengan kharakternya, khusus untuk lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tentu setelah dinyatakan lulus, anak tersebut sudah siap bekerja di berbagai sektor sesuai dengan bidang ketrampilan dan keahliannya yang diajarkan selama duduk di bangku sekolah.

Namun,faktanya jumlah lulusan ternyata tidak sebanding dengan lowongan pekerjaan yang tersedia di berbagai sektor. Hal ini tentu menimbulkan persaingan yang semakin ketat diantara mereka. Hal ini di perparah lagi adanya regulasi di bidang ketenagakerjaan yang belum berpihak kepada tenaga kerja di bidang formal, yaitu masih adanya sistem kerja kontrak atau outsourching.

Lebih. celakanya lagi perusahaan yang menerapkan sistem kontrak membatasi usia pekerja atau buruhnya sampai usia maksimal 25 tahun, artinya bagi pekerja yang usianya semakin tua akan semakin sulit untuk masuk ke dalam pekerjaan di sektor formal. Dan ini akan menjadi masalah tersendiri bagi mereka.

Untuk menjawab persoalan para pekerja yang telah habis masa kontraknya, maka mau tidak mau eks pekerja tersebut harus mampu menyiasati keadaan agar tetap bertahan di tengah-tengah persaingan hidup yang semakin ketat. Menjadi wirausaha adalah solusi yang terbaik yang harus dilakukan, walaupun keputusan itu tidak semudah membalikkan tangan.

Untuk menjadi wirausahawan tentunya dibutuhkan berbagai bekal dan kemampuan yang ada pada diri mereka. Sebenarnya jika berbicara mengenai berwirausaha setiap orang dapat melakukannya asal mempunyai niat dan kemauan yang keras. Akan tetapi, lebih baiknya lagi jika mereka dibekali dengan pengetahuan berwirausaha yang baik dan benar. Dan hal itu dapat dilakukan semasa dibangku sekolah.

Maka sudah tepat langkah yang diambil oleh pengambil kebijakan di negeri ini memasukkan materi kewirausahaan ke dalam muatan kurikulum dari setingkat SLTA (SMK) sampai perguruan tinggi. Artinya adalah ketika mereka masih duduk di bangku sekolah kejuruan atau perkuliahan, mereka sudah diajarkan mengenai dasar-dasar kewirausahaan untuk mengantisipasi kemandirian dalam hidup dan berusaha.di kemudian hari.

Apabila sejak dini dibangku sekolah sudah dikenalkan dan diajarkan materi tentang kewirausahaan, maka harapannya akan terbentuk karakter dalam diri peserta didik untuk mempunyai jiwa kemandirian yang tidak selalu menggantungkan diri kepada orang lain, dan akhirnya beban pemerintah bisa berkurang terutama dalam penyediaan lapangan/lowongan kerja. Sehingga prinsip tidak selalu mencari kerja dan sedapat mungkin menciptakan kera bagi dirinya sendiri dan syukur bagi orang lain benar-benar bisa terwujud dalam kehidupannya.

Akhirnya disadari bahwa pendidikan itu merupakan kunci bagi keberhasilan dan kesuksenan dalam hidup kita, karena sesuai dengan karakter seorang wirausaha itu adalah bahwa sukses itu tidak bergantung pada orang lain, namun yang menentukan kesuksesan/keberhasilan adalah diri kita sendiri. Maka, jalanilah hidup dengan optimis, bekerja keras, percaya diri, tanggung jawab dan mau belajar terus. (Kontak person: 081329075385. Email: prapto34@yahoo.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Membaca Untuk Pengetahuan Meningkatkan Minat Membaca Siswa Melalui Layanan Bimbingan Belajar


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: