Membaca Untuk Pengetahuan

18 Desember, 2015 at 12:29 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng.

 

Membaca selalu identik dengan belajar, yang artinya yang membaca adalah mereka yang sedang belajar atau pelajar, mahasiswa, peneliti, yang mengandung arti kecenderungan kalau mereka yang sudah tidak belajar/pelajar sudah tidak usah membaca lagi karena tidak mendukung kegiatan belajar mengajar.

Sebuah opini yang kurang tepat, karena membaca tidak semata-mata untuk tujuan mendukung kegiatan belajar mengajar, tetapi membaca bisa juga dengan tujuan untuk menambah ilmu pengetahuan, mendukung pekerjaan, mempermudah pergaulan, dan lain sebagainya.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut berati siapapun, tanpa mengenal usia dan berbagai batasan lainya hendaklah membaca menjadi kebutuhan sebagaimana kebutuhan lainya. Sehingga setiap orang atau setidaknya sebagian orang mau berpacu mengejar kebutuhan membaca sebagaimana setiap orang mengejar kebutuhan hidupnya seperti makan dan minum, karena manfaat membaca juga akan dibutuhkan sepanjang hidup seperti manfaat makan dan minum.

Sebagai salah satu contoh pemustaka dari golongan non sekolah perlu membaca koran,dengan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan informasi, setidaknya manfaat yang dapat diperoleh pemustakanya adalah mendapat informasi mengenai berbagai hal tentang kesehatan, berita di wilayah setempat, dimana informasi sepserti ini belum tentu dibutuhkan/diperoleh di bangku sekolah. Tetapi akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk kebutuhan informasi keluarga ataupun untuk kehidupan bermasyarakat yang kadang malah belum tentu membutuhkan informasi akademik tetapi lebih ke informasi umum, yang berkaitan dengan situasi wilayah setempat.

Contoh lain, seorang ibu rumah tangga yang gemar membaca baik membaca secara elektronik maupun manual akan mempunyai banyak pengetahuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya, misalnya pengetahuan mengenai apotik hidup, resep masakan, belanja dengan harga terjangkau bahkan banyak ibu rumah tangga yang menekuni bisnis on line sambil mengurus keluarganya. Hal tersebut tidak akan bisa terlaksana jika seseorang tidak pernah membaca baik untuk keperluan promosi, mencari pelanggan maupun mencari inovasi baru mengenai produk yang sedang menjadi trend.

Kepiawaian seorang pembaca dalam mengaplikasikan pengetahuanya dalam kehidupan sehari-hari menentukan dan dapat dijadikan tolak ukur apakah seseorang tersebut berhasil atau tidak dalam tugasnya sebagai pemustaka, karena banyak pembaca hanya membaca berdasarkan kebutuhan, misalnya untuk tujuan pemenuhan syarat penulisan. Sehingga yang di baca semata-mata adalah demi tulisanya dalam suatu studi mendapatkan nilai bagus, apa yang dia lakukan hampir mirip dengan menyalin dari buku sumber ke dalam tulisannya.

Dari kegiatan tersebut belum dapat dikatakan seseorang telah membaca, karena membaca harus dapat meninggalkan kesan yang tertinggal dalam memori baik sedikit ataupun banyak tergantung kemampuan fisik dan spisikis pembaca yang juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, misalnya situasi ditempat membaca dan kondisi lingkungan/dimana pembaca membaca, ataupun faktor lainnya yang sangat penting adalah bagaimana penyajian dari sumber informasi dalam menyajikan informasi.

Hal tersebut menjadi hal terpenting dalam menangkap informasi karena informasi yang berbelit-belit, tidak fokus/terlalu melebar dari topik, banyak kata-kata yang tidak relevan akan menyulitkan pembaca menangkap isi sehingga apa yang di dapat pembaca hanya membolak-balik,mengulang-ngulang, kebingungan, kalaupun pada akhirnya pembaca berhasil menemukan isi dari yang dibacanya akan membutuhkan waktu lebih lama dari seharusnya.

Sedangkan tipe pembaca yang tidak sabar akan buru-buru meninggalkan buku tersebut tanpa kompromi,untuk mencari buku yang lebih komunikatif.

Jadi seyogyanya membaca menjadi suatu budaya dan kebutuhan yang tidak boleh di nomor duakan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sendiri, sebab apa yang didapat dari membaca benar-benar akan dirasakan manfaatnya untuk menyongsong berbagai hal di masa depan yang tidak kita ketahui sekarang.

Sehingga kita perlu dan harus mempersiapkan pengetahuan kita seluas-luasnya agar tidak terjadi miss comunication dalam menghadapi dunia luar dengan berbagai kemungkinan yang tanpa kita sangka situasi dan kondisinya.

Miss comunication ini akan dapat kita atasi jika kita menguasai materi dari orang yang mengajak kita berbicara kita sehingga ada imbal balik ketika terjadi komunikasi, atau setidaknya tahu secara garis besarnya, dalam satu pembicaraan dengan satu orang akan terjadi hal yang tidak kita duga dari satu topik ke topik lainya. Apalagi jika dalam pembicaraan yang melibatkan beberapa orang apalagi dalam satu forum, orang yang tidak pernah membaca akan menjadi pendengar pasif karena dia tidak akan bisa terlibat dalam pembicaraan akibat tidak adanya bahan yang akan ia sampaikan. Dan pada akhirnya ia mengeluarkan diri dari komunitas orang-orang yang sedang berbicara karena merasa tidak dibutuhkan, dan pada akhirnya ia akan sulit menemukan teman untuk berbicara karena orang lain enggan berbicara dengan orang yang hanya menjawab ya atau tidak ketika diajak berbicara.

Orang yang kita ajak bicara akan menilai bagaimana kita dalam menanggapi dan memberi respon terhadap alur pembicaraan dan bukan tidak mungkin akan berpengaruh terhadap berbagai hal baik pekerjaan maupun terhadap kehidupan sosial kita di masa selanjutnya,jadi jelaslah bahwa kurangnya ilmu pengetahuan kita akan merugikan diri sendiri,karena menyebabkan miss comunication yang dapat berakibat terjadinya komunikasi dua arah menjadi salah arah. Hal tersebut tidak akan terjadi jika kita rajin membaca berapapun usia kita,apalagi golongan anak-anak usia produktif yang perjalanan waktunya masih panjang.

Jadi sangat jelas bahwa membaca tidak hanya dibutuhkan oleh orang-prang yang sedang belajar saja, tetapi membaca menjadi bekal pendidikan sepanjang hayat selama masih dikandung badan,sebagaimana tercantum di dalam UU Perpustakaan bab I Pasal 2 yang berbunyi: Perpustakaan di selenggarakan berdasarkan pada pendidikan sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterukuran dan kemitraan, karena berbagai romantika dalam kehidupan dengan 1001 macam problematika yang mewarnai kehidupan akan membutuhkan pengetahuan yang kompleks untuk menyikapinya.

Mari membaca untuk hari esok lebih baik, setidaknya dengan membaca kita mengetahu gambaran masa yang akan datang, mengenai berbagai kondisi yang mungkin akan terjadi berdasarkan kondisi yang ada sekarang. Karena apapun yang akan terjadi di kemudian hari tidak serta merta terjadi begitu saja tetapi melalui perjalanan yang panjang dan berliku dari waktu sebelumnya melewati hukum sebab akibat, apa yang ada sekarang adalah pertanda dan gambaran masa depan sedangkan masa depan adalah akibat dari apa yang ada sekarang.

Yang harus dan hanya bisa kita sikapi dengan baik apabila kita memiliki pengetahuan yang cukup, jadi manusia bijak manusia pembaca, karena dapat mengatasi berbagai permasalahan di spanjang perjalanan hidupnya. (Kontak person: 085869266188. Email : roosmilarsih74@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Sejarah untuk Integrasi Bangsa Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: