Sejarah untuk Integrasi Bangsa

14 Desember, 2015 at 12:00 am

Oleh Hendra Kurniawan MPd
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Tanggal 14 Desember kemarin ditetapkan sebagai Hari Sejarah Indonesia (HSI) dalam pertemuan Apresiasi Historiografi Indonesia 5-8 Mei 2014 di Yogyakarta. Penetapan hari tersebut mengacu pada seminar Sejarah Indonesia 14-18 Desember 1957 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Pergulatan dalam seminar 58 tahun lalu berkutat pada konsepsi filsafat sejarah nasional dan periodisasi sejarah Indonesia. Ketika itu terjadi diskusi dan perdebatan panjang. Hasilnya banyak menjadi landasan penulisan Sejarah Nasional Indonesia (SNI). Semangat kemerdekaan mendorong kesadaran pentingnya sejarah sebagai sarana integrasi bangsa.

Benedict Anderson (2001) mengungkapkan, bangsa atau adalah sesuatu yang terbayang karena para anggotanya tidak saling mengenal sebagian besar anggota lain. Mereka tidak bertatap muka. Bahkan mungkin mereka tidak mendengar anggota lain. Namun di benak setiap anggota bangsa hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan.

Konsep imagined communities ini cocok dengan Indonesia guna memupuk rasa kebangsaan. Kesadaran sejarah menjadi sarana mewujudkannya. Sejarah bukan sekadar rentetan fakta dan kronik. Dia sarat makna sebagai cermin hidup sehari-hari. Belajar sejarah untuk membentuk karakter, membangkitkan kesadaran, dan memperkuat identitas bangsa.

Menyitir Cicero, Historia Magistra Vitae, sejarah yang menghadirkan nilai-nilai kehidupan, kesadaran, dan rasa kebangsaan dapat mencetak manusia bijak dalam mengambil keputusan. Jangan sampai generasi muda amnesia sejarah sehingga mudah terpengaruh kehidupan yang tidak sejalan dengan ideologi dan kepribadian bangsa.

Djoko Suryo mengungkapkan, sejarah tidak hanya untuk mengetahui masa lampau namun perlu menjadikannya sebagai pengetahuan guna menyusun masa depan. Untuk itu dibutuhkan penyegaran penulisan sejarah. Penulisan ulang buku (babon) SNI dalam perspektif yang baru kini mendesak. Tak sekadar bersifat Indonesia sentris, namun penulisan sejarah juga harus objektif. Dia harus mengungkap peristiwa secara jujur dan mampu menghadirkan realitas sosial kehidupan masyarakat masa lampau.
Ini penting untuk menyadarkan kenyataan pluralitas dan sikap saling menghormati yang sudah hidup dalam masyarakat sebelum negara ini lahir demi memperkokoh integrasi bangsa. Tidak disangkal apabila pembicaraan sejarah dewasa ini masih menekankan pada ranah politik dan militer.

Sejarah lebih berkutat pada persoalan muncul dan tenggelamnya kerajaan-kerajaan, perang, perebutan kekuasaan, praktik kolonialisme, dan perjalanan ketatanegaraan yang fokus pada tokoh-tokoh elite. Padahal tidak dapat ditinggalkan begitu saja grand narratives tentang masyarakat masa lalu yang merupakan bagian dari dinamika kekuasaan.

Sejarah sejatinya juga mencakup kehidupan manusia dengan segala aspek dan persoalannya dalam konteks sosio kultural masa lampau. Dia merupakan sarana penyadaran bagi setiap individu terhadap ikatan dan identitas bangsanya.

Terkait dengan arti penting tersebut, Sartono Kartodirdjo mengemukakan bahwa sejarah nasional berasal “dari dalam.” Sejarah nasional harus mampu menguraikan berbagai kekuatan yang memengaruhi perkembangan masyarakat. Dia perlu mengungkapkan aktivitas dari berbagai golongan masyarakat, bukan hanya dari kaum elite dan kelompok tertentu mayoritas.

Sejarah nasional pada akhirnya mengarah pada integrasi bangsa dengan menghadirkan peranan berbagai kelompok dan golongan yang juga turut mewarnai kemajemukan bangsa. Dengan demikian sejarah akan menjadi sangat relevan dalam mewujudkan integrasi nasional dan keharmonisan sosial.

Kemasyarakatan
Sejarah harus bersifat multidimensional dengan mengungkap berbagai dinamika kehidupan masyarakat pada semua kelompok dan golongan dari masa ke masa. Nasikun (1984) menyebutkan bahwa secara horizontal, masyarakat Indonesia memiliki kesatuan-kesatuan sosial atas dasar ikatan primordial seperti suku, agama, adat, daerah, hingga hubungan darah. Secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai dengan adanya perbedaan antara lapisan atas dan bawah. Keanekaragaman ini harus disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan konflik kepentingan. Maka sangat perlu memberi tempat pada sejarah kemasyarakatan dan kearifan lokal.

Apabila berbagai peran masyarakat dapat diberi ruang, maka tugas sejarah sebagai sarana integrasi bangsa dapat terwujud. Sejarah akan menumbuhkan kebanggaan nasional, harga diri, dan swadaya. Dia dapat menanamkan kesadaran persatuan, persaudaraan, serta solidaritas untuk menjadi perekat bangsa dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa. Dia sarat ajaran moral dan kearifan yang berguna dalam mengatasi krisis multidimensional dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah bukan sekadar ilmu, namun diharapkan berkontribusi nyata bagi terwujudnya masyarakat yang hidup berdampingan secara harmonis dalam wadah negara ber-Bhinneka Tunggal Ika. Sejarah merupakan ingatan kolektif mengenai berbagai pengalaman bersama yang memberi ikatan bagi identitas sosial dan menuntun arah prospek masa depan bersama. Semoga dengan peringatan HSI kemarin semakin tumbuh kesadaran sejarah demi memperkokoh jati diri dan integrasi bangsa. (Sumber: Koran Jakarta, 14 Desember 2015).

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: .

Dia Segala Karya Membaca Untuk Pengetahuan


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: