Pendidikan Anak dan Pemberantasan Korupsi

7 Desember, 2015 at 12:00 am

Oleh Nur Hayati MPd
Dosen jurusan PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.
Seluruh bangsa kini sedang menyongsong peringatan Hari Antikorupsi Sedunia yang jatuh pada 9 Desember 2015. Peringatan dilakukan setiap tahun, setelah PBB menetapkan Konvensi Antikorupsi pada 31 Oktober 2013. UNCAC menyatakan, tujuan peringatan adalah mempromosikan strategi pemberantasan korupsi yang lebih efisien dan efektif, memfasilitasi kerja sama internasional dan bantuan teknis dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi, serta meningkatkan integritas, akuntabilitas, dan manajemen urusan publik yang baik.

Korupsi telah menjadi penyakit kronis bangsa ini. Hampir semua instansi tidak luput dari terpaan virus korupsi. Hari-hari ini, terjadi polemik publik terkait rencana revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Salah satu poin kontroversial adalah isu pembubaran KPK. Pemberantasan korupsi mesti holistik, komprehensif, dan sistematis. Upayanya perlu seimbang antara penindakan dan pencegahan. Melihat dari kondisi yang ada, salah satu lini yang penting dioptimalkan untuk pencegahan korupsi adalah pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini (PAUD).

Anak merupakan masa depan yang diharapkan dapat mengurai permasalahan pelik bangsa. Upaya menggerakkan perilaku antikorupsi mesti masif dan berkelanjutan. Salah satunya dengan membumikan gerakan antikorupsi yang dilakukan sejak anak usia dini. Indonesia dengan budaya ketimuran memiliki nilai-nilai budaya lokal berbasis kejujuran.

Zudianto (2014) mengatakan, pendekatan nilai-nilai budaya itu akan melahirkan sikap integritas kejujuran yang lebih baik daripada sekadar wacana pemberantasan korupsi. Sri Sultan Hamengkubuwono X sejak awal mendukung gerakan antikorupsi dan memberi masukan terkait kebudayaan, seperti kisah Wali Songo yang menyebarkan ajaran agama Islam melalui budaya

Itu misalnya dengan budaya Jawa. Muara aplikatif dari seluruh nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam budaya Jawa adalah terbentuknya sikap Satriya (Marwito, 2005). Sikap ini membawa perilaku penuh tanggung jawab, konsisten, amanah, dinamis, dan obsesif. Nilai ini semakin menguatkan gerakan antikorupsi memiliki akar kultural yang kuat.

Tantangan besar telah menghadang di depan. Tantangan eksternal berupa arus globalisasi bermuatan budaya modern semakin tak terbendung masuk. Kearifan lokal terancam tereliminasi. Tantangan internal salah satunya berupa korupsi yang telah menjadi penyakit kronis bangsa ini.

Esensi terpenting dalam pemberantasan korupsi adalah pencegahan. Pencegahan mesti dilakukan sejak dini dan mulai dari hal-hal yang sederhana. Anak menjadi objek sekaligus subjek penting dalam upaya tersebut. Pendidikan antikorupsi bagi anak sejak usia dini, penting dioptimalkan baik melalui ranah formal, informal, maupun nonformal.

Daya layan PAUD nasional menyentuh 34,54 persen dari target 75 persen pada akhir 2015. Rasio layanan lembaga pendidikan terhadap anak yang dilayani yaitu 1:86. Sekitar 50 persen pendidikan guru PAUD masih belum sesuai atau belum sarjana. Hampir seluruh desa juga telah memiliki PAUD.

Pada 2016, Kemendikbud berencana mewajibkan siswa mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) yakni TK dan kelompok bermain, sebelum masuk sekolah dasar (SD). Kebijakan ini melanjutkan amanat UNESCO yang mewajibkan pembelajaran setahun sebelum SD. Program tersebut rencananya digulirkan dengan pilot project di 83 kabupaten atau kota, yang angka partisipasi kasar (APK) PAUD lebih dari 90 persen. Meski masih banyak kekurangan, potensi ini merupakan modal berharga untuk mendukung pendidikan antikorupsi anak usia dini menuju gerakan antikorupsi.

Strategi PAUD
Anak adalah masa emas sekaligus masa cukup berisiko. Masa depan bangsa berada pada kualitas anak sekarang. Deklarasi Dakkar 2000 menyerukan, pendidikan anak merupakan education for all. Upaya mendidik antikorupsi mesti dilakukan sistematis dan komprehensif.

Pertama, dengan model pendidikan yang menyenangkan. Anak adalah usia bermain. Berbagai perangkat dapat dioptimalkan sebagai pendekatan, seperti permainan, lagu, cerita bergambar, dongeng, dan komik. Kedua, dengan pendekatan sinergis melalui pendikan agama dan budaya. Kejujuran merupakan bagian utama dalam ajaran agama dan nilai budaya. Pendidikan ini penting menyisipkan penanaman nilai kejujuran dan antikorupsi.

Ketiga, dengan keteladanan. Contoh atau teladan sangat berharga bagi anak dibandingkan banyak kata-kata. Kejujuran penting ditanamkan melalui keteladanan orang-orang di sekitarnya.

Upaya di atas mesti melibatkan semua unsur, baik orang tua, pemerintah, guru, lembaga pendidikan, publik, dan lainnya. Orang tua sebagai pihak yang paling dekat, intens, dan bertanggung jawab atas pendidikan anak. Jika menggunakan jasa pengasuh, orang tua punya tanggung jawab mengondisikan pengasuhnya. Pemerintah punya tanggung jawab secara makro dalam hal penyiapan fasilitasi dan kurikulum. Guru dan lembaga pendidikan mesti memiliki komitmen terhadap gerakan antikorupsi.

Pepatah mengajarkan, perempuan adalah tiang negara. Perempuan khususnya ibu memegang peran strategis dalam pendidikan anak. Pendidikan antikorupsi sejak anak usia dini, dengan demikian juga tergantung pada komitmen dan totalitas kaum hawa.

Sosok seperti Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, penting diadopsi keteladanan dan kepemimpinannya dalam skala rumah tangga. Kepala rumah tangga mesti memberikan teladan dengan nafkah halal. Ibu juga penting memberikan pendidikan karakter jujur kepada anaknya sejak kecil.

Banyak gerakan dalam berbagai aspek telah dicanangkan. Fenomena umum menunjukkan tidak sedikit gerakan tanpa kejelasan keberlanjutan. Gerakan antikorupsi yang strategis ini semoga terus berkelanjutan dengan kontribusi pendidikan anak usia dini. (Sumber : Sinar Harapan, 7 Desember 2015)

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Mendidik Anak Menjadi Pejabat Tidak Korupsi Embun


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: