Mendidik Anak Menjadi Pejabat Tidak Korupsi

5 Desember, 2015 at 2:00 pm

MaswanOleh Drs Maswan MM
Dosen FTIK UNISNU Jepara, Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unnes Semarang

Korupsi adalah masalah laten, yang tumbuh pada setiap titik bidang yang bersentuhan dengan anggaran (dana) pembangunan. Bagi pemegang kekuasaan yang di depan matanya ada jumlah uang milyaran atau trilyunan, tentu saja ada rangsangan untuk memilikinya. Hal tersebut karena berkaitan dengan perilaku manusia, yang secara psikologis akan tergoda kalau manusia di depan matanya ada uang dan harta yang melimpah, walaupun itu bukan miliknya. Kondisi tersebut sesuai dengan teori Behaviorisme yang dikembangkan Pavlov.

Eksperimen Ivan Pavlov di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang pencernaan anjing. Dalam percobaan terhadap anjing tersebut, ia menemukan bahwa subyek penelitiannya akan mengeluarkan air liur ketika melihat makanan. Selanjutnya ia mengembangkan dan mengeksplorasi penemuannya dengan mengembangkan studi perilaku (behavior study) yang dikondisikan, yang kemudian dikenal dengan Classical Conditioning.

Korupsi muncul pada diri manusia sangat erat kaitannya dengan kondisi perilaku seseorang. Perilaku seseorang melakukan korupsi, karena terangsang adanya sesuatu (uang dan benda) yang ada didekatnya, dan ada berkesempatan untuk melakukan, walau sejatinya mereka tahu itu bertentangan dengan hati nuraninya.

Seseorang terangsang untuk melakukan korupsi, karena ada perilaku atau karakter tidak jujur pada diri sendiri. Rangsangan untuk memiliki sesuatu yang tidak haknya tersebut, lantaran tidak mampu untuk mengendalikan diri, baik secara individu maupun kelompok dalam satu komunitas yang sama-sama tidak jujur.

Ciri Ketidakjujuran
Menurut Hartati, (2006) beberapa ciri-ciri korupsi yakni: Pertama; Korupsi senantiasa melibatkan lebih dari satu orang. Kedua; Korupsi pada umumnya dilakukan secara rahasia Ketiga; Korupsi melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik. Keempat; Setiap perbuatan korupsi mengandung penipuan, biasanya dilakukan oleh badan publik atau umum. Kelima; Setiap bentuk korupsi adalah suatu penghianatan kepercayaan

Dari cirri-ciri tersebut, kata kuncinya ketidakjujuran pada diri sendiri dan sikap mental yang rusak, serta iman keagamaan yang lemah. Ketidakjujuran yang dilakukan para koruptor adalah bentuk karakter jahat yang secara intrinsik melekat pada seseorang, yang pada hakekatnya berseberangan dengan tatanan hukum ketatanegaraan dan nilai-nilai agama yang diyakininya.

Korupsi sebagai penyakit sosial seperti, sebenarnya bersumber dari penyakit kejiwaan dan mental individu yang akut, seperti lemah iman, bohong, takabur, iri dan dengki, serakah dan sejenisya kemudian menjalar dan berinteraksi dengan individu lain yang sama-sama mengidap penyakit tersebut. Ibarat ada virus atau bakteri penyakit yang diderita dari masing-masing individu, karena berinteraksi dalam komunitas yang sama, maka pertumbuhan penyakit tersebut menjadi berkembang sangat pesat.

Patologi Sosial Korupsi
Setidaknya terdapat beberapa faktor seseorang melakukan korupsi, di antaranya adalah, lemahnya hukum, gaya hidup konsumtif dan glamor, minimnya spiritual keagamaan (tidak jujur) dan mental suka menerabas.

Seorang koruptor, di dalam dirinya tidak terpatri keimanan, sehingga mudah terjangkit penyakit lain yaitu ketidakjujuran yang akhirnya mererabas hukum yang seharusnya ditaati. Mental ketidakjujuran atau penipu, jika dilakukan oleh kerumunan para pejabat dan penguasa pemerintahan akan berakibat pada kerugian negara yang tidak terhitung jumlahnya, yang mestinya itu hak orang banyak.

Ketidakjujuran yang dilakukan para koruptor adalah bentuk karakter jahat yang secara intrinsik melekat pada seseorang, yang pada hakekatnya bersberangan dengan tatanan hukum ketatanegaraan dan nilai-nilai agama yang diyakininya. Setiap orang yang beragama meyakini bahwa tindakan yang merugikan orang lain adalah bentuk pelanggaran hukum, dan kalau menurut pandangan agama itu dosa yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa di akhirat nanti.

Menanamkan Anak Kejujuran
Sebenrnya sudah banyak upaya untuk memberantas korupsi. Dalam beberapa tulisan yang dimuat di media cetak maupun media sosial, banyak mengupas tentang kinerja Polri yang begitu solid dalam membongkar korupsi. Komjen Budi Waseso sebagai kabareskrim, sebagai penggerak pemberantasan korupsi tersebut harusnya mendapat apresiasi, tetapi upayanya dianggap sebagaai kegaduhan dalam pemberaantasan korupsi.

Mabes Polri melakukan semangat pemberantasan korupsi itu seharusnya mendapat dukungan dan apresiasi secara positif oleh semua komponen bangsa. Jangan malah ada yang risau dan mempermasalahkan, bahkan menafsirkan sebagai bentuk kegaduhan hukum di tengah keterpurukan ekonomi saat ini.

Sebagai bagian dari komponen bangsa, penulis sangat mendukung agar aparat kepolisian terus bergerak maju untuk memberantas korupsi dari sisi hukum. Walaupun kita tahu, menangkap koruptor ibarat menangkap belut, sangat sulit karena mereka mempunyai pelicin yang tidak mudah ditangkap dengan tangan biasa.

Penulis sebagai praktisi pendidikan, berpendapat bahwa memberantas korupsi hukumnya wajib. Penulis ikut menyuarakan untuk pemberantasan korupsi dari sisi sosial, pendidikan dan spiritual keagamaan. Setidaknya, penyebaran pesan moral melalui pendidikan karakter jujur untuk disampaikan kepada siswa, mahasiswa, dan generasi muda Indonesia agar tidak mengikuti jejak orang tua yang saat ini menjadi pelaku koruptor.

Untuk mengatasi korupsi sampai ke akarnya adalah dengan cara menegakkan hukum oleh aparat kepolisian, merevitalisasi dan memangkas mental pejabat yang korup. Dan sebagai antisipasi pada masa-masa mendatang, kita harus menata mental anak-anak bangsa yang saat ini ada dalam proses pendidikan, yang kelak akan menjadi pemimpin yang jujur. Oleh karenanya, kita memantapkan dan menekankan konsep pendidikan karakter dalam kurikulum pendidikan, terutama pada karakter jujur yang dibalut dengan nilai-nilai agama yang kuat. (Email: maswan.drs7@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Taman Baca Sepi dan Sepinya Minat Baca Pendidikan Anak dan Pemberantasan Korupsi


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: