Taman Baca Sepi dan Sepinya Minat Baca

4 Desember, 2015 at 12:00 am

RosmilarsihOleh Roosmilarsih SIPust
Pengelola Perpustakaan SD Negeri 01 Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jateng

Taman baca sepi, sepinya minat baca, kondisi yang pasti banyak dialami oleh para pengelola taman baca,banyaknya jenis permainan maupun acaraa TV menjadi pemicu utama sepinya taman baca.

Kondisi ini harus menjadi perhatian dari pemerintah dan segenap anggota masyarakat terutama kalangan cendekiawan untuk bersama-sama mencari solusi agar keberadaan taman baca benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat dan membudaya menjadi salah satu kebutuhan mutlak dalam peningkatan pemenuhan informasi, hingga akhirnya tercapai masyarakat yang berbudaya membaca tinggi.

Sebuah perpustakaan sekolah yang notabene beranggotakan ratusan siswa saja bisa sepi,setidaknya sehari hanya 10 sampai 15 murid yang datang berkunjung apalagi sebuah taman baca yang biasanya beranggotakan lebih sedikit dengan sarana serta prasarananya belum memadai tentu tak heran jika yang datang dalam seminggu selama 6 hari yang datang hanya 1 atau 2 orang .

Orang–orang seperti kami para pengelola TBM menyimpan harapan besar untuk bisa memajukan salah satu sarana informasi tersebut,namun sejauh ini yang bisa kami lakukan adalah dengan mensosialisasikan pentingnya membaca dengan buku yang seadanya tanpa sarana kelengkapan lainya yang bisa digunakan untuk menarik pembaca, beberapa hal saya lakukan diantaranya adalah:

1. Mengajak anak –anak usia sekolah berkumpul,dengan berkumpul kami berbicara berbagai hal,mengenai dunia mereka. Saya mencoba mengenali dunia mereka yang penuh keceriaan, mereka bisa bercerita mengenai apa saja didepan teman-teman,tapi satu hal yang saya terapkan disini adalah mereka harus bercerita dengan menggunakan bahasa indonesia yang benar,harapan saya agar mereka mempunyai keberanian untuk berbicara didepan umum kelak.

Satu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Saya menanyakan kepada mereka apa yang mereka sukai selain belajar, banyak hal yang mereka sukai, tapi siswa putri lebih menyukai menyanyi,menari secara bersama-sama,harapan saya anak-anak yang mempunyai keberanian dibidang seni biasanya memiliki keberanian ingin tampil dimuka umum/pentas, dari sisinilah saya ingin mengajarkan kepada mereka pentingnya keberanian .

Dua

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Banyak anak menceritakan pengalamanya yang tak terlupakan, saya menyuruh beberapa anak untuk menuangkanya dalam bentuk tulisan semampu mereka, kemampuan menulis yang diasah sejak dini akan memunculkan mereka kelak dapat menyampaikan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan dengan baik.

4. Saya bertanya siapa saja yang dirumah memiliki buku agar pada pertemuan berikutnya agar bisa dipinjamkan kepada temanya, melalui cara ini akan dapat meningkatkan sirkulasi buku lebih baik.
5. Beberapa anak bertanya mengenai mata pelajaran disekolah, harapan saya adalah memberi pengertian pentingnya menghargai pendapat orang lain, kalaupun ada yang tak sesuai haruslah dengan cara yang baik agar orang lain tak tersinggung.

6. Ketika beberapa anak ingin belajar tari sederhana saya mencari referensi di youtube,harapan saya mereka menyenangi media elektronik sejak dini, dengan salah satu cara yang menyenangkan yaitu mendownload beberapa contoh tarian yang menyenangkan.

7. Mensosialisasikan pentingnya belajar 9 tahun, karena banyak lulusan SD, yang tidak melanjutkan ke SMP dengan alasan tidak mampu,para orangtua merasa tidak sanggup membiayai anaknya, melalui sosialisasi kepada orangtua maupun anak usia sekolah saya berusaha meyakinkan mereka,agar mereka tidak putus asa, apalagi sekarang ini tersedia beasiswa bagi siswa kurang mampu,yang bisa digunakan untuk membayar administrasi sekolah.

8. Belajar bersama membuat ketrampilan adalah hal yang banyak disukai oleh anak-anak, banyak diantara mereka yang ternyata bisa menangkap cara-cara membuat ketrampilan dengan buku panduan,mereka banyak bertanya mengenai berbagai hal tentang ketrampilan, dan yang paling membuat seru adalah diantara mereka saling berlomba untuk selesai terlebih dahulu.

Saya mengajak mereka untuk senang pergi ke TBM, karena disana mereka tak harus membaca tetapi bisa melaksanakan kegiatan yang lainya, yang mungkin tidak berupa kegiatan akademik tetapi cenderung menyiapkan mereka untuk menghadapi dunia diluar sekolah yang mungkin keberadaanya akan mereka hadapi kelak.

Untuk kalangan atas, sarana menyampaikan sesuatu didepan umum sudah tak diragukan lagi, anak-anak seusia mereka biasa diajak/diperkenalkan ortunya ke dunia luar mengenai berbagai hal di sanggar, di lembaga kursus, di taman bermain yang indah dan lengkap, dari satu sisi mereka sudah percaya diri dengan kondisi ekonomi yang berlebih, hal tersebut sudah menjadi point tersendiri yang bisa menjadi motivasi tampil percaya diri.

Sedangkan untuk kalangan bawah biasanya ortunya sibuk mencari nafkah setiap harinya sementara setelah malam tiba badan yang siangnya sudah bermandi peluh tentu tak bisa diajak kompromi lagi malam harinya begitu selesai sholat isya mata pun segera terkantuk-kantuk tak banyak mempunyai kesempatan untuk ngobrol bersama anak-anak, kalaupun ada kesempatan tak banyak yang bisa ditanyakan oleh anak-anak itu mengingat tingkat pengetahuan ortunya yang terbatas, dan beban hidup yang menghimpit menambah beban tersendiri dihati ortu sehingga lebih baik tertidur daripada terbangun dengan segudang pusing memikirkan setumpuk masalah dapur.

Dari kegiatan di TBM kami tersebut memang tidak banyak memberi pengaruh besar dalam mengatasi sepinya taman baca, maupun pendidikan anak-anak di desa kami, tapi kami tak berkecil hati, dari hal yang setitik itu suatu saat kelak akan menjadi sebuah cikal bakal keberhasilan mereka kelak, karena keberhasilan mereka tidak datang sekonyong-konyong kelak dan kami mencoba memberi bekal yang akan mempersiapkan itu semua dengan meletakan dasar yang kuat sebelum perjalanan mereka dimulai.

Jangan sampai kekurangan orangtuanya menyurutkan langkah mereka secara total, setidaknya mereka dapat belajar dengan berguru kepada buku-buku yang ada, atau setidaknya cukup membangkitkan minat mereka agar lebih optimis menyongsong masa yang akan datang.

Tidak dapat dipungkiri, pemahaman anak-anak tersebut tidak bisa dijauhkan dari keberadaan orangtuanya,orangtua dengan kondisi ekonomi kurang mampu cenderung menanamkan pemahaman bahwa mereka kelak tidak akan bisa meneruskan sekolah sehingga hal tersebut bisa menimbulkan kurangnya kemauan untuk belajar yang berakibat prestasi di sekolah biasa saja dengan satu alasan tidak akan meneruskan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi

Maka banyak anak-anak hanya sekolah di tingkat SD, walaupun di SMP sekarang sudah tidak ada iuran sumbangan bulanan, namun banyak orangtua yang ragu-ragu untuk melanjutkan ke SMP, permasalahan yang harus mendapat perhatian dari pemerintah bagaimana agar semua anak usia sekolah bisa lulus 9 tahun tanpa kecuali, terutama di wilayah pedesaan hal tersebut masih menjadi hal yang biasa dan belum terpecahkan,mari menjadi salah satu pegiat pendidikan dengan menghidupkan taman baca, agar taman baca tak sepi. (Kontak person: 085869266188. Email : roosmilarsih74@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Menggugat Kompetensi Guru Mendidik Anak Menjadi Pejabat Tidak Korupsi


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: