Membangun Iklim Positip Sekolah

2 Desember, 2015 at 12:27 am

????????????????????????????????????

Oleh Sri Sumiyati SKom MPd
Guru SMK Negeri 1 Plupuh, Sragen, Jateng


Sekolah merupakan rumah tinggal kedua setelah rumahnya sendiri bagi siswa. Sebagai rumah kedua tentunya keberadaan sekolah merupakan sesuatu yang penting. Sekolah sebagai tempat untuk belajar, menyalurkan hobby, dan juga bermain dan bersosialisasi. Sebagai rumah kedua sekolah dapat berpengaruh terhadap perkembangan karakter siswa, untuk itu tata kelola lingkungan sekolah yang meliputi lingkungan fisik sekolah dan non fisiknya yaitu guru, siswa, orang tua siswa , suasana psikologis, lingkungan sosiokultural sekolah, baik yang tampak pada lingkungan secara umum, harus dibangun dan didesain sebagai tempat belajar yang menarik. Untuk itu perlu dibangun iklim positif sekolah.

Iklim sekolah berkaitan erat dengan budaya sekolah, yang didalamnya terletak sistem nilai, kepercayaan, dan norma yang diterima bersama dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami dan dibentuk oleh lingkungan dengan menciptakan pemahaman yang sama pada seluruh civitas sekolah (Ditjen PMPTK, 2007).

Iklim positif sekolah merupakan budaya sekolah yang kondusif yang dapat mengembangkan karakter positif bagi lingkungan sekolah, sehingga seluruh warga sekolah merasa nyaman, aktif, dan bergairah bekerja sehingga lingkungan sekolah sangat baik bagi pengembangan karakter positif siswa. Apabila sekolah memiliki budaya khas yang holistik, penuh kepercayaan, dan kontrol. Budaya dan kepercayaan dapat mempromosikan prestai siswa, dan juga budaya kontrol humanistik akan ikut mendukung pengembangan sosio-emosional siswa (Daryanto, Mohammad Farid, 2013).

Aspek-aspek yang dikembangkan untuk mendukung iklim positif sekolah adalah menyangkut budaya moral spiritual, budaya bersih rapi, budaya cinta tanah air , budaya setiakawan, dan budaya mutu. Untuk mendukung tercapainya iklim sekolah tersebut maka stake holder sekolah yang meliputi Kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, serta lingkungan sekolah ikut berperan aktif dalam mewujudkannya.

Strategi Pengembangan Budaya sekolah
Setelah stake holder sekolah berkomitmen untuk mewujudkan iklim positif sekolah, maka untuk melaksanakannya perlu strategi yang juga harus di ketahui oleh para pemangku kepentingan sekolah. Strategi-strategi yang perlu dilaksanakan yaitu penataan lingkungan fisik sekolah, dan penataan lingkungan psikologis, sosial kultural sekolah.

Penataan lingkungan fisik sekolah merupakan penataan lingkungan yang kelihatan dan berasal dari alam. Penataan lingkungan fisik akan mempengaruhi jiwa seseorang. Dalam sebuah lingkungan belajar, penataan lingkungan harus dapat memberikan inspirasi bagi penghuninya, sehingga mendorong suasana belajar. Lingkungan fisik bukan berarti harus mewah, penekanan dalam penataannya adalah pada bagaimana seseorang yang melihat akan tergerak hatinya, timbul semangatnya untuk belajar, meniru dan menginspirasi, sehingga di kemudian hari akan menerapkan apa yang dialaminya dalam lingkungan yang lebih luas.

Untuk memberikan iklim positif dalam penataan lingkungan, Sekolah dapat melakukan kegiatan yang bersifat rutin, spontan dan terprogram. Kegiatan yang bersifat rutin dan dapat dikerjakan oleh siswa antara lain : membuat taman-taman kelas, apabila sekolah memiliki area yang luas dapat dibuat kebun sekolah, kegiatan hari bersih dengan memilih satu hari khusus untuk kebersihan yang melibatkan seluruh warga sekolah.

Kegiatan yang bersifat spontan adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan ketika sekolah dalam keadaan kotor karena hujan, banjir, pindah gedung baru, atau sekolah dalam tahap renovasi. Selanjutnya kegiatan yang bersifat terprogram dapat dilakukan lomba kebersihan antar kelas, program daur ulang kertas dan barang bekas.

Dalam lingkungan psikologis-sosial, dan kultural sekolah Kegiatan rutin yang dapat dikembangkan dalam pengembangan lingkungan psikologis-kultural antara lain kegiatan upacara, senam pagi bersama, membaca alquran dan doa pagi/ beribadah pagi lainnya, menyiapkan siswa sebelum pembelajaran dimulai dan setelah pelajaran selesai, kegiatan sholat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainnya.

Dalam melaksanakan kegiata rutin ini harus diperhatikan jangan sampai bergeser menjadi kegiatan yang bersifat mekanis, yang akhirnya malah akan membentuk siswa seperti robot karena dalam melaksanakan kegiatan tidak menyentuh kesadarannya, tidak menghayatinya, kegiatan ini tidak akan mampu membentuk karakter positif pada siswa.

Kegiatan terprogram yang dapat dikembangkan dalam lingkungan psikologis-sosial kultural antara lain budaya membaca, menulis dan bersikap ilmiah, dimana selain menerapkan budaya membaca dan menulis dapat pula dituliskan slogan-slogan ditempat strategis sekolah tentang ajakan gemar membaca dan menulis. Yang tak kalah penting untuk membangun iklim positif adalah penekanan pada budaya sopan, santun, ramah yang diiringi dengan budaya terbuka, demokratis, dan aspiratif yang dapat dilakukan dalam forum dialog sekolah, dibukanya saran dan kritik secara terbuka.

Selanjutnya Budaya disiplin dapat dilakukan untuk membudayakan sikap dan perilaku disiplin dikalangan warga sekolah, agar sikap dan perilaku disiplin dalam segala hal menjadi kebiasaan di sekolah dan akhirnya menjadi kebudayaan sekolah sehingga dengan berada pada lingkungan ang berdisiplin maka siswa-siswa akan menginternalisasikan nilai-nilai disiplin dan akhirnya menerapkan sikap dan perilaku disiplin dalam kehidupan mereka, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Penanaman dan pengembangan budaya disiplin akan tertanam apabila tidak mengandalkan hukuman dan hadiah tetapi penumbuhan kesadaran warga sekolah pada pentingnya bersikap dan berperilaku disiplin.

Iklim Positif Dalam Pembelajaran
Apabila iklim positif sudah tertanam dan terpatri di dada setiap individu warga sekolah bisa terjadi iklim positif akan menyebar di ruang-ruang kelas, ruang laboratorium, ruang perpustakaan. Ruang kelas merupakan tempat terjadinya interaksi antara siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Suasana kelas dapat dipengaruhi oleh guru yang berada di dalam kelas tersebut. Suasana kelas dibentuk oleh sistem pengelolaan kelas yang digunakan oleh guru dan pimpinan sekolah. Ada 3 tradisi sistem pengelolaan kelas, yaitu tradisi humanis, tradisi perubahan tingkah laku, dan tradisi pengelolaan kelas (H. Mudjiman, 2008:115).

Tradisi humanis menekankan perlunya komunikasi yang baik antara guru dan murid untuk mencegah timbulnya masalah dan memecahkan masalah dalam kelas. Tradisi perubahan tingkah laku menekankan pada penggunaan Reward and Punishment system untuk mengatur murid sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar di kelas. Tradisi pengelolaan kelas menekankan pada pembentukan suasana kelas yang sehat melalui penegakan aturan.

Untuk membina suasana kelas yang sehat demi keefektifan proses pembelajaran dengan mengutamakan penanaman kemampuan murid untuk mengendalikan diri dari perbuatan yang melanggar aturan kelas. Salah satu caranya adalah dengan membina komunikasi yang baik antara guru dengan murid. Guru harus berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan ucapan-ucapan yang menyakitkan hati dan menghancurkan harga diri murid.

Guru dapat menggunakan pendekatan reaktif saat guru akan berusaha merubah tingkah laku murid. Misalnya anak melakukan perbuatan yang mengganggu, guru harus menemukan dulu motifnya. Kalau motifnya karena bosan dengan pelajaran yang diberikan guru, hukuman yang berupa menyuruh murid keluar dari kelas malah akan menyenangkan murid. Ia akan mengulang lagi perbuatannya yang mengganggu agar bisa keluar kelas. Akan tetapi kalau motifnya adalah untuk mencari perhatian guru, maka hukuman tadi tepat. Sebab dengan dikeluarkan dari kelas ia tidak akan mengulang perbuatannya yang mengganggu.

Untuk dapat menciptakan iklim positif dalam suasana belajar di dalam kelas guru dapat membina suasana kelas dengan (1) membuat aturan yang jelas, (2) memberikan arahan tentang tingkah laku yang bisa dan tidak bisa diterima, dan memantau pelaksanaannya; dan (3) menjelaskan akibat yang harus ditanggung bila murid melanggar aturan. Selain itu guru dapat melakukan pendekatan-pendekatan personal dengan murid dimana hubungan guru-murid yang kondusif bagi pengembangan suasana kelas yang sehat adalah hubungan yang dilandasi oleh kesadaran, bahwa masing-masing memiliki peran untuk mencapai tujuan bersama.

Disamping itu model-model pembelajaran progresif, yang didalamnya termasuk Problem-based learning, Independent learning, dan Self-motivated learning adalah sebagian model yang diyakini dapat membangun suasana kelas yang sehat dan humanis.

Agar iklim positif dalam sekolah dapat merasuk dalam sanubari setiap warga sekolah, menurut penulis bukan sesuatu yang dapat terjadi secara spontan, namun berkesinambungan yang diawali dari pembiasaan dari sekolah tersebut dan juga adanya konsistensi manajemen sekolah. Apabila semua warga sekolah sudah konsisten dan saling mendukung, maka sudah tentu iklim positif akan tercipta. Dan betapa pentingnya membangun iklim positif sekolah karena akan berdampak pada kelangsungan pendidikan disekolah tersebut dimasa yang akan datang, dan pastilah akan menghasilkan output yang berkarakter positif. (Email: atie.ict@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Membaca Cerdas dan Cerdaskan Dunia Membaca Makna Hari Difabel


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: