Membangun Habitat Intelektual Guru

27 November, 2015 at 12:00 am

Oleh Ari Kristianawati
Guru SMA Negeri 1 Sragen, Jateng

GURU adalah elemen terpenting dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Guru menjadi matra utama yang menentukan peningkatan kualitas pendidikan. Guru yang pintar, kreatif, dan berdedikasi menjadi kekuatan sosiologis yang menggerakkan dinamika pembelajaran.

Eksistensi guru dalam panggung pendidikan nasional berada dalam kedudukan terhormat dan mendapatkan apresiasi dari pemangku kebijakan. Guru pada era sekarang jauh lebih sejahtera dibanding guru di masa lalu yang bekerja lebih didasari semangat pengabdian.

Pemberian tunjangan profesi guru sesuai amanat UU Guru sebesar satu kali gaji pokok, mengangkat derajat sosial ekonomi para guru. Peningkatan derajat sosial ekonomi selaras dengan tanggung jawab guru sebagai penentu majumundurnya pendidikan.

Namun, peningkatan derajat sosial ekonomi memiliki implikasi psikososial bagi guru. Banyak guru yang tersandera oleh budaya konsumerisme dan berubah gaya hidupnya seolah menjadi “orang kaya baru” (OKB) yang orientasi hidup untuk mengejar materi.

Paradigma guru sebagai fasilitator edukasi bergeser menjadi tenaga profesional yang mengajar dengan reward bayaran memadai (mahal). Pergeseran paradigma profesi dari pengabdian dengan militansi tanpa batas kepada paradigma profesional sesuai tugas pokok dan fungsi, menjadikan guru kehilangan jati diri sebagai insan cendekia.

Guru tidak lagi hanya berkonsentrasi pada tanggung jawab menggali ilmu pengetahuan sebagai bahan ajar di sekolah. Jujur diakui atau tidak, sertifikasi guru sejak 2008 telah mendemoralisasi guru dalam urusan administrasi yang penuh kecurangan.

Demoralisasi guru terkait dengan proyek sertifikasi, pertama adalah praktik maladministrasi. Banyak guru berbuat curang memalsukan syarat-syarat administrasi demi lulus program sertifikasi yang muaranya pada hasrat untuk mendapatkan tunjangan profesi.

Guru tidak lagi memiliki keutamaan moral. Kedua, pengabaian tupoksi sebagai pendidik. Untuk kepentingan memburu syarat-syarat meraih labelisasi gelar profesional demi tunjangan profesi guru (TPG), banyak guru meninggalkan kewajiban mengajar.

Tugas pokok dan fungsi guru yang seharusnya selalu “hadir” dalam kegiatan belajar mengajar sering diabaikan. Ketiga, disorientasi keilmuan. Guru yang tersandera proyek sertifikasi mengabaikan orientasi sebagai insan akademis yang harusnya selalu mengembangkan kapasitas diri. Guru yang berorientasi mencerdaskan siswa dengan kekayaan ilmu berubah seolah hanya menjadi penyampai materi pelajaran yang telah terbakukan dalam kurikulum.

Hal ini menjadi penyebab rendahnya mutu guru di Indonesia. Ukuran kognitif mutu guru yang terkait dengan kapasitas penguasaan materi keilmuan adalah hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2012, di mana dari 2,5 juta guru di Indonesia hanya 30 % yang mendapatkan skor nilai lebih dari angka 50.

Guru yang gagap dalam penguasaan ilmu pedagogis dan ilmu akademis sesuai mata pelajaran yang diampu, bagaimana bisa mencerdaskan siswa? Rendahnya kualitas guru disebabkan guru masih terkungkung habitus sosial lama yang melekat dengan budaya feodalistik dan pragmatisme sosial. Guru meningkat kualitasnya jika mampu membangun habitus intelektual.

Habitus adalah gugus insting, baik individual maupun kolektif, yang membentuk cara merasa, berpikir, melihat, memahami, mendekati, bertindak, dan berelasi seseorang atau kelompok berdasarkan pada kebaikan, kasih sayang, dan cinta akan keadilan.

Habitus intelektual guru adalah sikap, cara berpikir, memahami, dan bertindak yang berdasarkan amanah konstitusi dan tanggung jawab sebagai insan cendekia. Aktivititas intelektual menjadi basis kegiatan rutin guru.

Keniscayaan membangun habitus guru yang melekat dengan aktivitas intelektual yakni membaca, meneliti dan menulis akan menjadikan guru memiliki semangat mengembangkan kapasitas subjektifnya, sehingga akan membangun kultur akademis. Tanpa habitus baru yang memiliki tradisi bekerja atas dasar ilmu dan menjalankan tugas intelektual, harapan peningkatan mutu guru hanya imajinasi.

Upaya membangun habitus intelektual guru bisa dilaksanakan dengan mengembangkan kebudayaan menulis di kalangan guru serta menumbuhkan motivasi membaca dan melakukan riset terkait dengan tugas pembelajaran. Guru jika ingin membangun habitus intelektual harus berani menanggalkan budaya feodalistik dan hasrat konsumerisme yang sebenarnya sebagai wujud demoralitas insan cendekia. (Sumber: Koran SINDO, 27 November 2015)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Atas (SMA). Tags: , .

Virtual Class Sebagai Sarana Belajar Mandiri Menjadi Guru Nasionalis


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: