Publikasi Ilmiah dan Karya Guru

26 November, 2015 at 12:01 am

SupraptoOleh Suprapto SPd MPd
Guru SMK Negeri 1 Plupuh, Sragen, Jateng.

Berdasarkan Permenegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya pada Bab 1 : Ketentuan umum pasal 1 butir 5, dimaksudkan sebagai Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan Kebutuhan, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya.

Dalam permenegpan tersebut disebutkan bahwa Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) merupakan salah satu dari unsur utama yang kegiatannya dapat diberikan angka kredit guru.

Isi pada bab V pasal 11 terkait dengan unsur utama adalah : (a) Pendidikan, (b) Pembelajaran/Bimbingan, dan (c) penunjang dengan rincian Pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif.

Sebelum permenegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 ini diberlakukan, di era dulu kenaikan pangkat/golongan seorang guru sangat mudah setidaknya sampai pangkat/golongan IV/a, karena setiap dua tahun sekali secara otomatis para guru akan mengalami kenaikan pangkat/golongan.

Nilai Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang dulu sebutannya pengembangan profesi baru wajib dibebankan bila para guru akan naik pangkat/golongan dari IV/a ke atas, sehingga hampir mayoritas para guru akan berhenti di pangkat/golongan IV/a, karena untuk naik ke jenjang berikutnya harus dibutuhkan kerja ekstra utamanya di kegiatan publikasi ilmiah dan karya inovatif.

Setelah berlakunya Permenegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 ini, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), sudah merupakan persyaratan wajib untuk kenaikan pangkat peñata pertama golongan III/a ke atas sedangkan persyaratan mutlak pada unsur pengembangan diri dengan sub unsur publikasi ilmiah dan karya inovatif sudah mulai diberlakukan dari pangkat/golongan guru pertama III/b menuju pangkat/golongan guru muda golongan III/c, yaitu setidaknya dibutuhkan nilai angka kredit sebanyak 4 (empat), dengan ketentuan bebas pada jenis karya publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif.

Hal yang menjadi momok para guru sehingga pangkat/golongan berhenti di tempat adalah pada unsur pengembangan diri utamanya di sub unsur publikasi ilmiah dan karya inovatif guru. Sebenarnya banyak sekali cara yang dapat ditempuh oleh seorang guru untuk memenuhi persyaratan pada sub unsur publikasi ilmiah dan karya inovatif guru tersebut, tinggal ada kemamuan atau tidak dari rekan-rekan guru untuk mewujudkannya.

Penyakit “malas” selalu menghinggapi rekan-rekan guru untuk bisa membuat publikasi ilmiah dan karya inovatif guru tersebut. Mereka beranggapan seolah-olah pangkat/golongannya sudah mentok di level tertentu, misalnya di level pangkat/golongan IV/a, yang sebenarnya masih sangat bisa untuk dinaikkan ke level berikutnya. Sehingga tidak bisa dipungkiri akhirnya sebagian besar rekan-rekan guru terjebak pada kenaikan pangkat yang berhenti di level pangkat/golongan IV/a bertahun-tahun.

Berdasarkan isi Permenegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009, dalam kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan pada sub unsur publikasi ilmiah dan karya inovatif guru, banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk mengumpulkan nilai angka kredit yang di persyaratkan tersebut, di antaranya:

a. Presentasi pada forum ilmiah : adalah kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan berupa tulisan ilmiah yang berbentuk makalah yang berisi ringkasan laporan hasil penelitian, gagasan, ulasan atau tinjauan ilmiah. Untuk memperoleh angka kredit, maka isi makalah haruslah mengenai permasalahan pada bidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya yang sesuai dengan tugas guru yang bersangkutan.

b. Laporan hasil penelitian : adalah karya tulis ilmiah berisi laporan hasil penelitian yang dilakukan guru pada bidang pendidikan yang telah dilaksanakan guru di sekolah dan sesuai dengan tupoksinya, antara lain dapat berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

c. Makalah berupa tinjauan ilmiah di bidang pendidikan formal dan pembelajaran : adalah karya tulis guru yang berupa ide/gagasan penulis dalam upaya mengatasi berbagai masalah pendidikan formal dan pembelajaran yang ada di satuan pendidikannya.

d.. Tulisan ilmiah populer : adalah tulisan yang dipublikasikan di media massa (Koran, majalah, atau sejenisnya). Karya tulis ilmiah populer dalam kaitannya dengan upaya pengembangan profesi ini merupakan kelompok tulisan yang lebih banyak mengandung isi pengetahuan berupa ide, gagasan, pengalaman penulis yang menyangkut bidang pendidikan pada satuan pendidikan penulis bertugas.

e. Artikel ilmiah (non penelitian) di bidang pendidikan : adalah tulisan yang berisi gagasan atau tinjauan ilmiah (bukan berisi laporan penelitian) dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran di satuan pendidikannya yang dimuat di jurnal ilmiah.

f. Buku pelajaran : adalah buku yang berisi pengetahuan untuk bidang ilmu atau mata pelajaran tertentu dan ditujukan bagi siswa pada jenjang pendidikan tertentu.

g. Modul/diktat pembelajaran per semester :adalah materi pelajaran yang disusun dan disajikan secara tertulis sedemikian rupa sehingga pembacanya diharapkan dapat menyerap sendiri materi tersebut.

h. Buku dalam bidang pendidikan : adalah buku yang berisi pengetahuan yang terkait dengan bidang pendidikan, tidak hanya pada siswa serta jenjang pendididakan tertentu, dan tidak hanya membantu siswa dalam memahami mata pelajaran tertentu, namun dimaksudkan juga untuk memberikan informasi pengetahuan dalam bidang pendidikan.

i. Karya terjemahan : adalah tulisan yang dihasilkan dari penerjemahan buku pelajaran atau buku dalam bidang pendidikan dari bahasa asing atau bahasa daerah ke bahasa Indonesia, atau sebaliknya.

j. Buku pedoman guru : adalah buku tulisan guru yang berisi rencana kerja guru yang bersangkutan dalam setahun mendatang.

Pangkat/golongan penulis saat ini sudah pada level pangkat/golongan III/c, dan berusaha untuk naik ke level pangkat/golongan III/d. Untuk meraih posisi tersebut setidaknya dibutuhkan jumlah angka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah dan atau karya inovatif sebanyak 6 (enam) angka kredit. Dari total nilai angka kredit yang dipersyaratkan pada sub unsur publikasi ilmiah dan atau karya inovatif sebanyak 6 (enam) angka kredit tersebut saat ini penulis sudah mendapat nilai 2 (dua), sehingga masih harus mengumpulkan nilai 4 (empat) lagi. Jumlah nilai 2 (dua) tersebut penulis peroleh dengan hasil coba-coba dengan cara membuat karya ilmiah (non penelitian) di bidang pendidikan yaitu membuat artikel pendidikan dan dikirim ke media online nasional “SuaraGuru.WordPress.Com” dan dimuat sebanyak dua judul hasil karya.

Dari tulisan yang dimuat di media “SuaraGuru.WordPress.Com” tersebut akhirnya penulis cetak lengkap dengan identitas penulis beserta dengan barcode ISSN dari media “SuaraGuru.WordPress.Com”. Karya tersebut akhirnya penulis jilid dan dimintakan persetujuan dari kepala sekolah dan selanjutnya diajukan dalam Daftar Usulan Penilaian Angka Kredi (DUPAK) sebagai cikal bakal terbitnya Penilaian Angka Kredit (PAK) guru. Akhirnya nilai pada PAK pada sub unsur publikasi ilmiah dan atau karya inovatif, penulis memperoleh nilai 2 (dua) dari dua naskah yang telah dimuat tersebut, berarti satu naskah mendapatkan nilai kredit 1 (satu).

Jejak dan pengalaman penulis ini akhirnya diikuti oleh sebagian rekan guru yang lain, dengan melakukan langkah dan cara yang sama. Satu persatu di antara mereka telah bisa membuat hasil karya berupa tulisan atau artikel bidang pendidikan dan berhasil di muat di media massa online nasional “suara guru wordpress” ini tentunya dengan harapan agar mendapatkan nilai angka kredit yang sama seperti yang dialami penulis.

Dalam hal ini penulis telah berhasil “memprofokasi” rekan guru yang lain yang selama ini stagnan dan masih bingung dalam hal mengumpulkan nilai angka kredit terutama pada sub unsur publikasi ilmiah dan atau karya inovatif. Semoga pihak penilai masih konsisten memberikan nilai dari karya-karya atau artikel yang telah dibuat oleh reken-rekan guru seperti yang telah penulis dapatka dulu. Menyikapi ini setidaknya ada dua keuntungan sekaligus yang di peroleh dari usaha penulis “memprofokasi” rekan-rekan guru tersebut.

Yang pertama membudayakan “guru menulis”, sehingga setidaknya sedikit bisa mengobati penyakit guru yaitu malas, dan yang kedua sekaligus bisa diajukan untuk mendapatkan angka kredit sebagai persyaratan untuk naik ke level pangkat/golongan berikutnya. Memang harus diakui langkah yang penulis lakukan dan diikuti oleh rekan-rekan guru yang lain untuk menulis artikel ilmiah ini merupakan sebagian kecil langkah dan upaya untuk mengumpulkan nilai angka kredit. Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mengumpulkan poin demi point, sehingga perlu juga dicoba dan diusahakn oleh rekan guru untuk bisa mewujudkannya.

Pada awal tahun 2015, Badan Kepegawaian Nasional (BKN) telah mendengungkan tentang kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil (PNS) secara otomatis setiap 4 (empat tahun). Berdasarkan peraturan terbaru tersebut berlaku untuk PNS struktural dan fungsional tentunya juga menyentuh jabatan fungsional guru. Berdasarkan informasi yang dirilis oleh BKN, guru yang akan naik pangkat secara otomatis 4 (empat) tahun tetap harus mengumpulkan angka kredit, karena angka kredit sangat penting untuk menilai kinerja guru. BKN juga berpesan kepada guru PNS agar meningkatkan kompetensinya dan mengumpulkan angka kredit kenaikan pangkat.

Namun, nantinya BKN akan memberikan tenggat waktu untuk guru PNS mengumpulkan kredit dengan ikut diklat, seminar dan sebagainya. Dengan demikian setidaknya guru PNS bersangkutan bisa segera memproses pemberkasannya agar saat jatuh tempo bisa naik pangkat dan menerima hak-haknya.

Menyikapi adanya informasi dari BKN seperti tersebut di atas, perlu kiranya bagi guru PNS untuk mempersiapkan sejak dini mengumpulkan point demi point angka kredit dengan berbagai cara dan langkah-langkah yang sudah di sebutkan di atas, sehingga pada saatnya mereka harus naik pangkat segala ketentuan dan persyaratan sudah bisa terpenuhi.

Media “Suara Guru wordpress” ini penulis rasa merupakan wadah yang sangat membantu bagi rekan guru untuk mempublikasikan karya ilmiahnya sehingga penyebab kemandegan pangkat/golongan yang selama ini menghinggapi sebagian besar guru sedikit bisa terurai.

Namun demikian yang patut di catat bagi rekan guru, jangan hanya sekedar untuk mengejar angka kredit, karya tulis yang dibuat dan dipublikasikan ke media masa di buat asal-asalan dan mengabaikan tata penulisan yang benar dan harus menghindari jauh-jauh penjiplakan atau plagiat karya orang lain tanpa mencantumkan sumber referensinya yang jelas, sehingga terhindar dari permasalahan di kemudian hari.

Akhirnya penulis berharap kepada rekan-rekan guru teruslah berusaha dan berkarya mengembangkan diri di tengah-tengah kesibukan menjalankan tugas utama seorang guru mencerdaskan anak bangsa, sehingga kompetensinya semakin meningkat dan tuntutan berbagai kalangan tentang guru yang professional bisa terwujud dan muaranya tentunya kualitas pendidikan secara nasional dapat meningkat. (Kontak person: 081329075385. Email: prapto34@yahoo.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Hadiah Ulang Tahun Untuk Guru Belajar Murah di Amerika Serikat


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: