Guru Honorer Bermental Driver

26 November, 2015 at 12:00 am

Oleh Abdul Hopid
Pemerhati Pendidikan, Kandidat Doktor di UIN Sunan Kalijaga

Itulah ungkapan bernada kecewa yang muncul saat menanggapi keluh kesah para guru honorer saat mereka bercengkerama tentang tugas, kewajiban, dan hak mereka, termasuk masa depan mereka.

Kewajiban seorang guru di dunia pendidikan, khususunya di Indonesia, memang sama, hanya haknya yang berbeda. Dikatakan belum sama karena masih berharap adanya perbaikan nasib bagi para guru honorer yang kewajibannya sama dengan guru PNS atau guru tetap yayasan yang sudah sertifikasi, tapi haknya berbeda.

Jika menjadi pendidik bukan karena panggilan, kesenjangan di kalangan guru akan menjadi beban psikologis guru itu sendiri. Guru bersertifikat kerap berbicara demonstratif tentang sudah ditransfer apa belum tunjangan bulan ini, dan itu terjadi dalam satu ruangan guru, di mana semua jenis status guru ada di situ.

Sejatinya, tugas guru adalah mendidik dan mengajar dengan mengembangkan potensi positif peserta didik di sekolah dan madrasah. Guru mendampingi siswa-siswi mengembangkan perilaku baik dan menjaganya agar tidak melakukan perilaku menyimpang, bukan berdemonstrasi. Namun, di sisi lain, guru juga perlu menuntut haknya.

Ketika para guru honorer melakukan demonstrasi saat menuntut haknya, mereka tidak sedikit menuai cibiran dari berbagai pihak. Jika gurunya berdemonstrasi, apalagi pergi ke Jakarta, terus bagaimana dengan peserta didiknya? Andaikan di sekolah dan madrasah itu semuanya guru honorer dan ikut demonstrasi semua, pasti terhentilah proses belajar di sekolah itu.

“Siapa suruh menjadi guru honorer? Selalu dibutuhkan, tapi tidak pernah diperhatikan,” kata orang yang apatis. Namun, yang lain mengatakan, “Harus demo untuk menyampaikan aspirasi, sekalian menagih janji para pejabat saat kampanye dulu. Biasanya saat musim kampanye, guru-guru honorer ini diperhatikan dalam janjinya, tapi terlupakan pada kekuasaannya.”

Kalaupun guru-guru honorer itu diperhatikan, pertanyaannya, guru honorer yang mana? Apakah guru honorer yang di sekolah negeri saja atau semua guru honorer? Namun, bahasa-bahasa janji kampanye cukup menyejukkan dan menghibur dilemanya para guru honorer, dan menjadi komoditas politik kaum elite.

Menjelang pilkada serentak ini, para calon bupati sudah mulai mengeluarkan bahasa pedulinya terhadap guru honorer. Namun, sekali lagi, guru honorer yang mana yang diperhatikan.

Suatu hari ada acara sosialisasi Kurikulum 2013 (Kurtilas) di salah satu kantor kementerian tingkat kabupaten. Sebagai acara pembuka, sang pemandu yang sudah level guru senior dan banyak prestasi juga sebagai trainer di berbagai tempat, sudah menyiapkan sebuah lagu ciptaannya dengan harapan agar acaranya bisa lebih fresh dan rileks. Dia bilang, “Mari kita rayakan tunjangan sertifikasi kita dengan menyanyi bersama-sama!”

Peserta sosialisasi mulai banyak yang berbisik-bisik dan bertanya, “Memang Ibu sudah dapat tunjangan sertifikasi?” Seorang guru perempuan menjawab, “Belum Pak, saya masih GTT.”

Nuansa dan bahasa kesenjangan, bahkan boleh jadi itu sudah termasuk kekerasan simbolis terjadi terhadap pangeran tanpa tanda jasa ini. Andaikan saja sang pemandu acara itu tahu siapa saja yang hadir dalam acara sosialisasi itu, mungkin dia akan berpikir untuk tidak mengatakan hal tersebut. Ternyata, tidak mudah menjadi guru empati.

Antara guru dan guru sendiri sudah terjadi kesenjangan dan kekerasan, lalu bagaimana pengaruhnya terhadap lingkungan pendidikan, terutama kenyamanan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik? Bahasa yang bernuansa kekerasan terhadap mental tidak kalah kejamnya dengan kekerasan fisik. Bahasa-bahasa tidak empati masih menyelimuti dunia pendidikan kita.

Kekerasan juga sering muncul di sekolah dan madrasah dalam bentuk tugas-tugas administratif yang beraroma positivistik dan melupakan aspek idealistis. Tugas administrasi yang begitu banyak sangat menyita waktu sehingga guru tidak sempat belajar lebih mendalam dan mempersiapkan materi ajar yang lebih menarik dan berbobot bagi siswa di kelas, sementara peserta didik memiliki hak untuk mendapatkan sajian materi yang menarik.

Menjadi guru mandiri
Menjadi guru mandiri memang tidak mudah, terlebih mandiri dalam bersikap dan menentukan serta memutuskan sesuatu tentang nasibnya. Butuh keberanian dalam membuat keputusan agar tugas mulia sebagai guru, sekalipun honorer, tetap memiliki harga diri dan jati diri sebagai pendidik yang berkualitas. Bukan sekadar guru profesional dengan simbol hipersemiotik, melainkan justru menjadi guru dan pendidik yang sarat dengan segudang prestasi.

Mereka bisa menjadi guru teladan bagi siswa, mampu menulis di media massa, meneliti minimal sesuai dengan keilmuannya, mandiri dalam prestasi dan kompetensi, serta kebutuhan finansial tercukupi.

Kesempatan guru menulis di media massa sudah sangat terbuka, bahkan koran tertentu membuka rubrik guru menulis, pendapat guru, dan sebagainya. Dalam rubrik itu, guru bisa berekspresi terkait dunia pendidikan yang ia geluti setiap saat, baik soal aspek idealitas maupun realitas pendidikan.

Bagi seorang guru, sekolah dan madrasah adalah arena untuk membangun habitus positif di mana dirinya sebagai aktor yang melakukan aktivitas berkaitan dengan pendidikan. Guru yang mandiri melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), dilakukan sendiri, tidak mengandalkan orang lain dengan cara membayar.

Menjadi guru mandiri dibutuhkan mental-mental driver, sekalipun mental passenger minimal good passenger. Tidak menyalahkan suasana, termasuk orang lain. Semua kejadian bisa membuatnya mampu mengambil pelajaran dan mencoba untuk berbuat yang terbaik.

Kesenjangan yang terjadi antara guru honorer dan guru tetap, termasuk guru PNS, bisa dijadikan pemantik agar lebih bisa berkarya, produktif, dan mandiri dalam berbagai hal. (Sumber: Republika, 26 Nopember 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mengelola Guru Republik Indonesia Menyediakan Guru Bermutu


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: