Guru dan Karakter Bangsa

26 November, 2015 at 12:00 am

Oleh Fransisca Ria Susanti
Redaktur Sinar Harapan

Hari Guru yang diperingati kemarin, Rabu (25/11), terjadi di tengah keprihatinan rakyat terhadap sepak terjang para pejabat negara maupun politikus yang kehilangan moral politik. Jika kemerosotan moral ini terus terjadi, etika bernegara dan berbangsa kita akan roboh dalam tempo segera.

Kita bisa saja menyebut munculnya “para garong” dalam kehidupan berbangsa kita bukan semata karena bobroknya mora. Hal tersebut karena ini terlalu simplistik. Munculnya “para garong” ini juga akibat sistem pemerintahan maupun politik kita yang membuka peluang itu.

Sistem proporsional terbuka yang digunakan dalam pemilihan legislatif (pileg), harus diakui, menjadi pintu masuk permainan uang dalam politik. Sistem yang mensyaratkan keterpilihan calon legislator melalui suara terbanyak tersebut membuat persaingan antarcalon legislator menjadi sangat keras. Ini karena mereka tidak hanya bertarung dengan calon legislator dari partai politik (parpol) lain, namun juga bertarung dengan calon legislator dalam satu partai.

Salah satu cara caleg agar bisa lolos dari “pertarungan” tersebut adalah menghujani pemilih dengan uang. Sumber uang bisa “dipinjam” dari para pemilik dana yang diiming-imingi akan mendapat “kembalian” saat sang calon sudah masuk gedung parlemen.

Sistem ini melahirkan para politikus rakus yang sibuk mencari cara mengembalikan modal politiknya ketika pencalonan, alih-alih memikirkan pembuatan legislasi yang berpihak kepada kepentingan rakyat.

Namun, tentu saja tidak semua politikus berperilaku rakus. Tak semua manusia Indonesia pun menjadi berkarat nuraninya karena sistem yang buruk. Selalu ada orang-orang yang bisa bertahan dan melawan godaan menjadi rakus. Salah satu yang bisa menekan sikap rakus ini adalah pendidikan.

Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta, adalah salah satu tokoh yang percaya bahwa pendidikanlah yang akan mengubah Indonesia menjadi bangsa besar. Tahun 1931, ia mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia, kemudian dikenal dengan nama PNI baru. Sedikit berbeda paham dengan Soekarno yang menginginkan kemerdekaan harus dimulai segera dengan memerdekakan bangsa-negara, Hatta menginginkan, kemerdekaan harus dimulai dari individu, orang per orang.

Bahwa pada akhirnya, kita mensyukuri keberanian anak-anak muda Indonesia, di bawah kepemimpinan Soekarno-Hatta, untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sebelum semua manusia Indonesia terdidik adalah satu hal. Hal lainnya, pemikiran yang dikemukakan Hatta patut direnungkan, terutama dalam situasi kita yang seperti limbung terhadap karakter sendiri.

Kita seperti tak yakin bahwa kita pernah memiliki karakter yang militan, berani membela yang benar dan memperjuangkan yang adil. Dulu kita sempat rela berkorban untuk kepentingan orang lain dan berkerendahan hati mengakui kesalahan.

Hatta meletakkan azas kedaulatan rakyat dalam konsep pendidikannya karena meyakini, eksistensi suatu bangsa tidak hanya berada di tangan para pemimpin. Setiap orang adalah pemimpin untuk dirinya.

Tugas utama dari pendidikan yang digagas Hatta adalah mendidik rakyat supaya timbul semangat merdeka pada diri masing-masing. Dalam konteks hari ini, tugas itu terletak di tangan guru.

Bukan hal mudah tentu saja dan Hatta mengakui ini. Tugas tersebut, menurut Hatta, membutuhkan sinergi antara kesadaran demokrasi, iman, budi pekerti, dan kemauan keras.

Hatta mengatakan hal tersebut 14 tahun sebelum Indonesia merdeka. Kini, 70 tahun setelah RI berdiri, semestinya negara memberi perhatian serius ke sektor pendidikan, termasuk dalam perbaikan nasib dan menggenjot kapasitas para guru.

Dengan sedih kita harus mengatakan, kapasitas guru kita masih sangat kurang. Dari hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) 2014, lebih dari 1,3 juta dari 1,6 juta guru yang mengikuti uji kompetensi ternyata memiliki nilai ujian di bawah 60 dari rentang penilaian 0-60.

Jika pemerintahan Jokowi serius mengimplementasikan konsep revolusi mental yang gendar ia dengungkan dalam kampanye presiden lalu, ia harus membenahi sektor pendidikan. Kita tidak bisa mengharapkan lahirnya generasi Indonesia yang berkarakter kuat jika kapasitas guru yang kita miliki rendah dan kebijakan sektor pendidikan kita tak punya gigi.

Jika pemerintah serius memperhatikan sektor pendidikan, kita bisa bermimpi harapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, yang disampaikan dalam peringatan Hari Guru Nasional, kemarin, bisa terwujud. Ia berharap, “Guru Indonesia adalah guru pembelajar. Guru yang selalu hadir sebagai pendidik dan pemimpin bagi anak didiknya. Guru yang hadir mengirimkan pesan harapan. Guru yang makin menjadi contoh tentang ketangguhan, optimisme, dan keceriaan.”

Dengan guru seperti itu, kita tak perlu khawatir bangsa ini akan kehilangan karakter tangguh. (Sumber: Sinar Harapan 26 Nopember 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menyediakan Guru Bermutu Hadiah Ulang Tahun Untuk Guru


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: