Menggugat Uji Ulang Kompetensi Guru

25 November, 2015 at 7:04 am

Oleh Maswan
Dosen Unisnu Jepara, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Negeri Semarang

BERDASARKAN Surat Edaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Pendidikan (GTK), seluruh guru di Indonesia, baik yang sudah bersertifikasi maupun yang belum, akan dilakukan uji kompetisi ulang, November ini.

Surat edaran Dirjen GTK Nomor 2825/B/PR/2015 tertanggal 14 Agustus 2015 yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi serta Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia itu sudah dikirimkan (SM, 31/8).

Menurut Ditjen GTK Kemendikbud, uji kompetensi guru atau UKG dilaksanakan dalam rangka pemetaan kompetensi pedagogik dan profesionalisme guru sesuai bidang atau mata pelajaran yang diampu. Ada 3.015.315 guru yang wajib mengikuti UKG ulang dalam rangka pemenuhan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kemendikbud.

Rata-rata kompetensi guru tahun 2019 mencapai angka delapan (8.00). Ditjen GTK Kemendikbud akan melaksanakan UKG secara online di sekolah yang memiliki fasilitas internet dan offline bagi kabupaten yang belum siap. Menghadapi persaingan global di komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sangat perlu disiapkan sumber daya manusia (SDM) melalui produk pendidikan.

Kuncinya adalah guru, bagaimana mendidik anak bangsa ini menjadi manusia unggul. Begitu pentingnya guru, maka sampai dilakukan uji ulang UKG dalam rangka meningkatkan kualitas dalam menjaga gawang pendidikan nasional. Karena salah satu komponen terpenting dalam pelaksanaan pendidikan adalah guru, maka hitam putih pendidikan terletak di tangan guru.

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa rendahnya mutu pendidikan disebabkan oleh rendahnya kualitas guru. Menurut staf ahli Kemendikbud Prof Kacung Marijan, masalah utama pendidikan di Indonesia adalah kualitas guru yang masih rendah, kualitas kurikulum yang belum standar, dan kualitas infrastruktur yang belum memadai.

Malas Belajar
Menurut Kacung, guru menduduki posisi tertinggi dalam hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter anak. Hal ini karena guru melakukan interaksi langsung dengan anak dalam pembelajaran di ruang kelas.

Kualitas pendidikan terbentuk dalam pembelajaran di kelas oleh guru yang berkualitas. UKG ulang ini dilakukan tentu mempunyai landasan filosofis. Paling tidak, untuk membandingkan dan mengetahui hasil UKG yang pernah dilakukan tahun 2012/2013 dengan hasil nilai rata-rata 4,7. Tahun 2015 ini diharapkan dapat meningkat nilai rataratanya.

Upaya Kemendikbud melakukan UKG ulang ini sangat dimaklumi karena atas dasar keprihatinan tentang kualitas guru Indonesia yang sangat rendah. Tetapi, banyak yang mempertanyakan uji kompetensi guru ulang ini. Sebab, UKG ulang menghabiskan dana miliaran rupiah.

Pertanyaan pertama menyangkut apakah dengan uji kompetensi guru ulang ini kualitas mereka akan meningkat? Apakah guru yang asalnya berkompetensi rendah (nilai 4,7 pada UKG pertama) berubah naik sesuai keinginan (angka 8)? Apakah guru yang nilainya rendah hasil UKG tahun lalu mempunyai kesadaran belajar dan berupaya memperbaiki kompetensi? Muncul sikap pesimistis. Keraguan akan ada perubahan menjadi lebih baik amatlah besar.

Mengapa demikian? Karena kita sama-sama tahu, budaya bangsa kita adalah pemalas, termasuk budaya guru Indonesia; termasuk malas belajar. Menurut Prof Koentjoroningrat, etos belajar dan etos kerja bangsa Indonesia sangat rendah. Dengan sikap mental dan budaya tidak mau berusaha keras inilah, barangkali yang membuat kita pesimistis akan terjadi peningkatan kompetensi guru, walaupun diuji ulang.

Untuk dapat meningkatkan kompetensi guru yang bernilai rendah, seharusnya setelah UKG mereka yang dinilai berkualitas kurang diberi pendidikan dan latihan secara intensif. Atau paling tidak, masing-masing guru belajar secara mandiri. Tetapi menuntut mereka bersedia belajar mandiri tampaknya sangat sulit. Evaluasi UKG juga penting.

Dari hasil evaluasi, dapat diketahui penyebab kegagalan UKG, apakah karena faktor penguasaan materi atau penguasaan alat informasi teknologinya. Jika kedua masalah ini belum dipecahkan, maka percuma saja uji ulang kompetensi guru tersebut. Pasti hasilnya akan sama dan tidak ada perubahan. Hanya dana besar saja yang melayang sia-sia untuk membiayai proyek UKG itu. (Sumber: Suara Merdeka, 24 Nopember 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: .

Mendongkrak Kompetensi Pendidik Mengelola Guru Republik Indonesia


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: