Mendongkrak Kompetensi Pendidik

25 November, 2015 at 7:02 am

Oleh N Widi Wahyono
Guru SMA Kanisius Jakarta

Usaha menjadi guru yang kompenten tidak pernah boleh berhenti. Guru harus terus mengikuti perkembangan anak didik. Banyak kegiatan untuk mendongkrak kompetensi. Pendidik yang tidak mau berubah akan digilas zaman dan memfosil.

Anak didik dan orangtua dulu hanya menurut ucapan guru. Kini mereka tidak segan-segan mengritik guru, bahkan kepala sekolah jika pelayanan pendidikannya parah. Sayang, para guru sering tidak siap dikritik, meski setiap hari mengajarkan kesediaan dikritik.

Sudah lama dunia pendidikan sakit parah. Keluhan, masukan, kritikan, protes sangat sering dengan sasaran tembak guru. Sementara resistensi terhadap masukan-kritik sedemikian besar. Sebenarnya sinyal ketidakpuasan siswa dan orangtua sudah banyak. Setelah anak lulus, orangtua baru berani bercerita. Mereka takut mengungkapkan karena khawatir anaknya “dikerjain.”

Guru perlu dibantu untuk menyadari bahwa dalam pembelajarannya ada bagian yang perlu direformasi. Guru cenderung merasa pembelajaran dan apa pun yang dilakukan di kelas paling baik karena sudah berlangsung bertahun-tahun.

Dalam teknik Jendela Johari (Johari Window) yang dikembangkan psikolog Joseph Luft dan Harrington Ingham tahun 1955, terdapat empat kuadran untuk membantu memahami hubungan diri dengan orang lain yang lebih baik. Mereka open area (kita dan orang lain tahu), hidden area yaitu (kita ketahui, tetapi tertutup bagi orang lain), blind area (kita tidak tahu, orang lain tahu), dan unknow area (kita dan orang lain tak tahu).

Guru dapat menggunakannya untuk semakin mengenal diri, menjalin kerja sama lebih baik, terutama blind area. Uji kompetensi guru (UKG) dan segala bentuk evaluasi atas kinerja guna menguak kecenderungan pendidik dalam kegiatan mengajar-belajar, dedikasi demi pembelajaran lebih baik.

Bekal dari bangku kuliah tidaklah cukup untuk pembelajaran di kelas. Anak anak yang didampingi sudah berbeda ketika calon guru praktik mengajar. Guru perlu menyegarkan kembali ilmu.

Sayang, niat baik UKG dinodai teror kekhawatiran. Trending topic UKG dikaitkan dengan rencana pemerintah pelan-pelan menghapus tunjangan sertifikasi guru. Tidaklah heran jika di sana-sini diadakan diklat UKG, pembahasan soal, bedah buku Sukses UKG, seminar, diskusi demi angka UKG yang tahun ini dipatok 5,5 sebagai ambang batas.

Penjelasan pejabat diknas bahwa UKG untuk pemetaan, tidak berkaitan dengan tunjangan sertifikasi tidak mampu meredam kekhawatiran.

Masih Jauh
Setelah hasil UKG diperoleh, apa yang dilakukan pemerintah untuk mendongkrak kompetensi guru. Tentu masih jauh dari harapan mempercayakan masa depan bangsa kepada guru-guru yang kompetensinya 5,5. Pemerintah harus berani mengakui kalau mutu pendidikan masih jauh dari harapan, salah satu faktornya guru yang belum kompeten.

Jika mau menempatkan masukan untuk pelaksaan UKG, belumlah cukup data untuk mengambil kesimpulan dan kebijakan karena baru berupa data kognitif guru yang bisa jadi tidak sesuai dengan kompetensi riil guru. Banyaknya buku kiat sukses UKG di pasaran, uji coba, seminar, lokakarya menunjukkan UKG menjadi tujuan bukan sarana. Dia sudah seperti ujian nasional.

Tugas utama guru mengajar. Maka di samping data hasil UKG perlu ditambah cara mengajar. Memang selalu ada tarikan ekstrem. Bisa jadi seorang guru pandai tetapi tidak bisa mengajar dengan baik. Anak tidak menangkap pelajarannya. Pada sisi lain mungkin guru yang tidak terlalu pandai, malah bisa menjelaskan dan anak gampang memahami. Kecerdasan guru dalam mengajar yang mempertimbangkan berbagai faktor dan aspek tidak cukup terdeteksi lewat UKG.

Suka tak suka guru harus berubah secara nyata dan terukur. Sayang gerakan perubahan belum menjadi milik bersama, masih sebatas individu. Hasilnya tidak maksimal karena pekerjaan guru bukan individual tetapi kolektif. Sering ada guru yang merasa pelajarannya lebih penting dan hebat.

Guru perlu didorong bukan hanya diimbau untuk berubah, jika perlu dipaksa. Guru-guru sepuh dipaksa supaya bisa menggunakan laptop, powerpoint, surat elektronik, misalnya. Mereka harus menyesuikan ujian dengan Computer Based Test untuk ujian nasional, demikian juga UKG. Guru harus bisa menggunakan piranti teknologi informasi untuk berbagai keperluan.

Mengingat disparitas pendidikan antardaerah barangkali perlu dipikirkan upaya melejitkan kompetensi guru. Ini tidak cukup mengandalkan pembinaan dengan wadah yang sudah ada, grup guru bidang studi, seminar, atau lokakarya. Perlu dirancang kegiatan pembinaan sampai pada penerapan di kelas-kelas.

Pembinaan guru selama ini cenderung sporadis. Pemerintah membuat kegiatan, sekolah dan yayasan juga menyelenggarakan, lembaga pemerhati guru tak mau kalah. Tidak heran kalau materi pembinaan berulang-ulang. Semua menyatakan materi ini penting untuk dikuasai guru. Seven Habits, analisis kelemahan dan kelebihan, hipnoterapi, psikologi anak, permainan tradisional, bahasa Inggris dan Mandarin. Akibatnya guru meninggalkan anak di kelas untuk belajar mengikuti berbagai seminar dan lokakarya.

Guru tidak perlu menguasai semuanya karena keterbatasan. Jadi harus ada prioritas. Pemerintah hendaknya menentukan materi yang harus dikuasai guru. Profesi mengajar harus menjadi prioritas karena itu tugas utamanya.

Pemerintah perlu membuat modul-modul pembelajaran atau bisa juga dalam bentuk buku seri pendidikan. Setiap pelatihan berdasarkan bahan-bahan tersebut. Jika seorang guru mengambil modul strategi pembelajaran akan diberi materi ajar. Biarkan dia berlajar belajar lalu diadakan tes. Hasilnya untuk dasar pengambilan modul berikutnya.

Demikian juga ketika guru perlu mengambil Modul Gerak Lurus. Dengan demikian pelatihan-belajar memang didasarkan pada kebutuhan, bukan asal. Hasil UKG sudah di tangan, tinggal menunggu kiprah kemdikbud untuk treatment para guru. (Sumber: Koran Jakarta, 25 November 2015).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Atas (SMA). Tags: , .

Menggugat Uji Ulang Kompetensi Guru Menggugat Uji Ulang Kompetensi Guru


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: