Penerapan Blended Learning Dalam Pramuka

23 November, 2015 at 12:00 am

Sri SupartiOleh Sri Suparti
Pembina Pramuka Gudep SMK Negeri 1 Plupuh, Sragen, Jateng.

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan kepramukaan merupakan proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup, dan akhlak mulia Pramuka melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan. Hal ini selaras dengan pendidikan Nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya, yaitu: manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, bertanggung jawab serta sehat jasmani dan rohani

Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dilakukan kegiatan – kegiatan melalui jalur sekolah dan jalur luar sekolah yaitu dengan kegiatan ekstrakurikuler. Latihan Pramuka melalui kegiatan ekstra kurikuler biasanya dilaksanakan sekali dalam sepekan. Waktu latihan yang singkat tersebut digunakan untuk latihan hal-hal yang bersifat praktis dan fisik, semisal teknik kepramukaan, PBB, permainan, dll. Waktu yang singkat tersebut belum bisa mencakup teori dan praktik secara menyeluruh.

Mengingat hal tersebut, kegiatan latihan secara tatap muka sangat penting untuk mengintensifkan kegiatan pendidikan kepramukaan. Namun, berbagai kendala tidak menutup kemungkinan tidak terlaksananya kegiatan latihan secara tatap muka. Ada kalanya, latihan rutin ditiadakan karena hari libur atau tanggal merah.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu diadakan alternatif atau metode pelaksanaan kegiatan latihan yang efektif walaupun tanpa adanya tatap muka. Ada berbagai macam metode yang dapat digunakan. Salah satunya adalah metode Blended learning. Metode blended learning adalah sebuah metode yang membaurkan (blend) tatap muka dengan non-tatap muka. Non-tatap muka di sini menggunakan media elektronik ataupun media sosial.

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini penggunaan teknologi informasi (TI) sudah sangat lekat dengan kehidupan kita. Tidak menutup kemungkinan, penggunaan IT dimanfaatkan dalam metode latihan Pramuka. Untuk itulah, metode Blended Learning dapat digunakan sebagai alternatif mana kala Kegiatan Latihan Pramuka tidak dapat dilaksanakan.

B. Blended Learning Sebagai Pendekatan Penyelesaian Masalah
Blended Learning atau dalam istilah bahasa Indonesia pembelajaran bauran adalah perpaduan antara pertemuan tatap muka dengan non-tatap muka. Non-tatap muka di sini menggunakan perangkat IT atau gadget seperti internet dan media sosial. Pengertian awal dari blended learning sebagaimana diungkapkan Friesen adalah “Blended learning, in other words, is almost any combination of technologies, pedagogies and even job tasks.” (2012, 2). Definisi dari Friesen mengindikasikan pelaksanaan blended learning yang sangat fleksibel dengan kata lain, merupakan kombinasi dari berbagai teknologi, pedagosi, dan bahkan tugas-tugas.

C. Penerapan Blended Learning Dalam Kegiatan Latihan Pramuka
Pelaksanaan blended learning merupakan rencana alternatif jika pertemuan rutin tidak diadakan. Dengan demikian, rencana pelaksanaan metode blended learning disesuaikan dengan rencana program kerja yang telah disusun sebelumnya. Dengan demikian, perencanaan meliputi rencana tentang tema, materi, dan bentuk kegiatan atau tugas yang akan diberikan kepada peserta didik.

Sebagai contoh, jika latihan Pramuka tidak dapat dilaksanakan masih dalam bulan Agustus, tema yang dipilih adalah tentang sejarah lahirnya Pramuka. Setelah tema dipilih, bentuk tugas yang diberikan pun ditentukan. Penentuan tugas dapat merujuk pada kondisi dan kemampuan peserta didik. Pramuka Penggalang merupakan golongan dewasa muda di mana anggotanya telah mampu diajak untuk berfikir kritis. Melihat hal tersebut, tugas yang diberikan dapat berupa pembuatan makalah atau laporan kegiatan. Jika tugas yang diberikan adalah pembuatan makalah, tentunya para peserta didik dapat memperoleh bahan dari buku atau berselancar (browsing) menggunakan internet.

Setelah rencana tersusun, tahap pelaksanaan adalah dengan menyusun atau merumuskan soal atau tugas. Tugas tersebut selanjutnya disampaikan kepada peserta didik. Penyampaian tugas kepada peserta didik dapat secara langsung ataupun secara tidak langsung dengan menggunakan SMS, email atau media sosial (FB, BBM, WA, dll).

Pelaksanaan program harus terkontrol. Pembina setidaknya harus menentukan batas akhir pelaksanaan/pengumpulan tugas, pengumpulan tugas dalam bentuk apa, dan bagaimana kriteria tugas yang benar (kisi-kisi).

Setelah yakin bahwa semua kelas telah mendapatkan tugas, giliran peserta didik yang melaksanakan tugas mereka. Mereka bebas mengerjakan tugas di mana saja dan kapan saja, selama belum melampaui batas akhir pengumpulan. Siswa pun diperkenankan untuk mendapatkan materi yang sesuai dengan cara browsing di internet atau membaca materi di perpustakaan. Dengan demikian, peserta didik bisa belajar materi tanpa harus bertatap muka langsung dengan Pembina.

Pada hari yang telah ditentukan bagi peserta didik untuk mengumpulkan tugas. Pengumpulan tugas pun tidak harus secara langsung ke Pembina. Peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya melalui email, BBM, ataupun Facebook. Selanjutnya, Pembina melakukan evaluasi tugas. Evaluasi dilaksanakan dengan meneliti siapa yang telah mengumpulkan tugas dan siapa yang belum. Pembina bisa juga mengoreksi atau menilai tugas yang telah dikumpulkan oleh peserta didik. Hasil dari evaluasi ini nanti selanjutnya berguna untuk menentukan tindak lanjut yang akan ditempuh.

Tindak lanjut hasil evaluasi meliputi dua hal yaitu tindak lanjut berupa sanksi bagi yang tidak mengumpulkan tugas dan tindak lanjut terhadap tugas yang telah dikumpulkan.

Tindak lanjut berupa sanksi adalah pemberian konsekuensi bagi mereka yang tidak mengumpulkan tugas. Pada hari pengumpulan tugas, peserta didik yang tidak mengumpulkan tugas diwajibkan untuk menghadap Pembina untuk mendapatkan “tugas khusus” (baca: sanksi). “Tugas Khusus” yang diberikan Pembina selayaknya tugas yang mendidik, bermanfaat bagi peserta didik, dan tidak mengandung unsur kekerasan (baik fisik maupun psikologis).

Tindak lanjut terhadap tugas yang telah dikumpulkan yaitu tentang pengulasan/review terhadap materi yang ditugaskan. Pengulasan materi ini bisa berupa presentasi materi oleh peserta didik pada pertemuan selanjutnya. Atau, bisa juga pengecekkan penguasaan materi ini dilaksanakan dengan kegiatan berbentuk LCC.

Tentu saja, masing-masing Pembina mempunyai cara tersendiri untuk menindaklanjuti tugas yang telah diberikan kepada peserta didiknya, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan pangkalan masing-masing.(Kontak person: 085 229 055 073. Email: suparti_sri@yahoo.com).

REFERENSI.

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Aktualisasi Pendidikan Profetik Dalam Amarah


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: