Konseling Sebaya Remaja SMK

23 November, 2015 at 12:01 am

Tri WinarniOleh Tri Winarni SPd
Guru SMK Negeri 1 Plupuh, Sragen, Jateng

Remaja selalu hadir dengan fenomena tersendiri. Pada masa remaja biasanya sering terjadi perubahan yang cukup mencolok baik psikis maupun fisik. Perubahan psikis yang sering remaja hadapi adalah mulai berusaha untuk mengembangkan dan menyempurnakan pribadi serta berusaha untuk menunjukkan identitas mereka. Masa remaja adalah masa yang sangat menentukan masa depan seseorang, karena pada masa remaja terjadi dinamika-dinamika yang membuat seseorang menuju ke arah kedewasaan, selain itu setiap individu yang memasuki masa remaja akan memiliki permasalahan yang lebih kompleks dibandingkan dengan pada masa sebelumnya. Hal ini disebabkan pada masa remaja siswa sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dengan pengaruh dari teman sebaya dan lingkungan sosial akan menuntut mereka untuk beradaptasi.

Masa remaja terjadi dalam waktu yang cukup singkat, awal masa remaja berlangsung kira-kira dari tiga belas tahun sampai enam belas atau tujuh belas tahun, dan akhir masa remaja antara 16 atau 17 tahun sampai delapan belas tahun, yaitu usia matang secara hukum (Hurlock, 2006:206). Sehingga dapat diketahui jika seseorang pada usia tersebut pada umumnya masih mengenyam pendidikan, baik Sekolah Menengah Pertama ataupun Sekolah Menengah Atas, Pada Sekolah Menengah Atas pun menurut undang-undang Republik Indonesia no 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, dibedakan menjadi Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan , Madrasah aliyah dan Madrasah Aliyah Keagamaan.

Perkembangan siswa sesungguhnya tidak lepas dari pengaruh berbagai lingkungan, baik lingkungan fisik, psikis, maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup dan cara berfikir siswa. Apabila perubahan yang terjadi diluar batas kemampuan siswa, maka akan melahirkan kesenjangan yang dapat menimbulkan terjadinya penyimpangan perilaku. Contohnya, iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat seperti penyalahgunaan narkoba dan miras, ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga, dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi gaya hidup siswa yang mayoritas berada dalam kategori remaja (ABKIN, 2007:6).

Perilaku remaja yang seperti itu tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan dalam undang-undang No.20 Tahun 2003. Salah satu penyebab dari rendahnya perilaku remaja adalah rendahnya keterampilan sosial, yaitu kemampuan untuk mengatur emosi dan perilakunya untuk menjalin interaksi yang efektif dengan orang lain atau lingkungan. Rendahnya keterampilan sosial ini membuat anak kurang mampu menjalin interaksi secara efektif dengan lingkungannya dan memilih tindakan agresif sebagai strategi coping.

Mereka cenderung menganggap tindakan agresif merupakan cara yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan sosial dan mendapatkan apa yang mereka inginkan, akibatnya mereka sering ditolak oleh orang tua, teman sebaya dan lingkungan. Keterampilan sosial seperti menolong sesama teman, membimbing, mendengarkan, berkomunikasi dan memecahkan masalah menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki anak dan sangat dibutuhkan oleh seorang remaja. Anak yang terisolasi akan menjadi pribadi yang tidak matang secara sosial, emosional dan spiritual dan juga mereka akan menjadi pribadi antisosial. Akibatnya mereka tidak bisa mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain, mudah menaruh curiga kepada orang lain dan sulit mempercayai orang lain (Safaria, 2005:39)

Adanya ketentuan umum tentang standar nasional pendidikan di Indonesia termuat dalam PP No. 19 tahun 2015 Bab I, yaitu bahwa pada hakekatnya pendidikan memiliki fungsi (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan dan (3) pengembangan potensi diri, sehingga pendidikan di Indonesia diharapkan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap warga Negara untuk ikut serta dalam pendidikan dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Adanya Standar Kelulusan Minimal yang ditetapkan pemerintah sekarang ini, membuat sekolah cenderung mementingkan hal yang bersifat akademis.

Oleh karena itu, banyak sekolah yang kurang memperhatikan keterampilan sosial untuk siswanya. Sebagai akibat banyak siwa yang pintar namun mempunyai keterampilan sosial yang rendah.

Salah satu cara untuk membantu siswa dalam meningkatkan social skills mereka adalah melalui konseling sebaya. Pada dasarnya konseling sebaya menurut Andi Mappiare (2006:238) menunjuk pada teman sebaya dalam suatu situasi konseling kelompok yang saling membantu dan mendukung satu sama lain, menunjuk pula pada orang-orang dalam kelompok usia sama, khususnya remaja, yang saling membantu sesama teman sebaya atau saling mengkonseling satu sama lain setelah mereka mendapatkan sejumlah pelatihan konseling. Dua aspek dari social skills yaitu kecakapan berkomunikasi dengan empati (communication skills) serta kecakapan bekerjasama (collaboration skills) merupakan satu kesatuan yang mendukung pelaksanaan peer counseling.

Materi yang diberikan pada pelayanan peer counseling adalah materi basic communication skills atau keterampilan komunikasi dasar yang terkenal dengan 8 area yaitu: attending, keterampilan berempati, keterampilan meringkas, keterampilan bertanya, genuineness, assertiveness, konfrontasi dan problem solving. Dalam hal ini siswa diharapkan dapat melakukan empati dengan baik, sehingga banyak teman yang melakukan curhat dengan mereka, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan social skills siswa adalah melalui peer counseling karena siswa akan semakin terlatih berinteraksi dengan teman sebayanya.

Berdasarkan gambaran dan fenomena yang ada, penulis berharap agar pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling tentang kecakapan mental bisa diberikan secara maksimal melalui program konseling sebaya, sehingga dinamika kelompok yang terjadi dalam proses konseling sebaya diharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan rasa saling empati, saling percaya, saling bekerjasama dan menciptakan hubungan yang baik sesama siswa. Hal ini yang menjadi faktor penting bagi pembentukan kecakapan sosial siswa. Harapannya, dengan adanya konseling sebaya mampu meningkatkan social skill siswa. (Kontak person : 081393622888. Email:anie.triwinarni@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Mengubur Tradisi Keguruan Revitalisasi Kepahlawanan Guru


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: