Eksistensi dan Tantangan Perpustakaan Sekolah

23 November, 2015 at 12:00 am

SupraptoOleh Suprapto SPd MPd
Guru Kewirausahaan SMKN1 Plupuh, Sragen, Jateng.

Tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Berbagai kalangan punya kepentingan yang besar guna mewujudkan tujuan tersebut. Berbagai kegiatan dan upaya telah dilakukan guna menyediakan dan melengkapi berbagai sarana dan prasarana yang memadahi untuk mempermudah dalam proses belajar mengajar dan sekaligus untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Salah satu dari sarana dan prasarana dan fasilitas yang menjadi fokus penekanan adalah merealisasikan terwujudnya perpustakaan sekolah yang merupakan salah satu sumber informasi dan ilmu pengetahuan.

Perpustakaan adalah jendela dan cakrawala dunia. Orang banyak menyebut perpustakaan sebagai gudang ilmu, karena di sanalah berbagai disiplin ilmu bisa di peroleh dan ditemukan. Para pakar dan cendekiawan terlahir tidak bisa lepas dari eksistensi perpustakaan, ketika di mana saat dia di masa lalu menimba ilmu dan di mana ketika saat ini sedang melaksanakan aktivitas dalam mengemban dan mengembangkan tugas-tugas keprofesionalannya.

Berbagai masalah dan kesulitan dalam bidang apapun bisa dicari solusi di tempat yang disebut perpustakaan. Dosen, mahasiswa, guru, peserta didik dan masyarakat umum bisa mendapatkan segala pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan di tempat perpustakaan. Atas dasar pentingnya perpustakaan sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan sebagai upaya untuk mengembangkan intelektual peserta didik dan meningkatkan prestasi belajar siswa, maka eksistensi perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari sekolah / madrasah dan perlu kiranya berbagai pihak menaruh perhatian lebih demi terwujudnya perpustakaan yang ideal pada semua jenis dan jenjang sekolah / madrasah.

Menumbuhkan Minat Baca
Kualitas pendidikan kita sulit beranjak dari keterpurukan selama minat baca dan dunia perpustakaan tidak dibangun dan dikelola dengan sungguh-sungguh. Mutu Pendidikan kita tidak bisa lepas dari rendahnya minat baca dari berbagai kalangan, baik dari siswa itu sendiri maupun dari pendidik yang notabene merupakan salah satu sumber pembelajaran.

Pada dasarnya, untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum, salah satu jalan yang ditempuh adalah meningkatkan minat baca di kalangan para pelajar. Upaya meningkatkan minat baca akan efektif jika dimulai sejak dini, saat masih usia anak-anak. Sekolah melalui pemberdayaan perpustakaannya, memiliki peran besar dalam membina, membiasakan dan mefasilitasi agar minat baca tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu.

Namun realita yang kita temui di sekolah-sekolah masih banyak yang tidak memiliki ruang khusus untuk perpustakaan dan tidak memiliki petugas khusus yang mengelola perpustakaan. Dengan demikian, wajar saja kalau siswa kita tidak terasah kemampuan membacanya karena memang tidak terfasilitasi dengan baik di sekolah.

Dalam upaya untuk memperbaiki kualitas perpustakaan maka penyelenggaraan atau pengelolaan perpustakaan harus dilakukan secara sistematis dan sesuai dengan pedoman standard penyelenggaraan perpustakaan yang berlaku agar tujuan diadakannya perpustakaan dapat tercapai, antara lain bisa menumbuhkan kecintaan terhadap minat baca di berbagai kalangan. Salah satu langkah yang bisa dilakukan dalam menciptakan minat baca tumbuh dan berkembang di kalangan pemustaka antara lain dengan melengkapi berbagai koleksi (bahan pustaka) yang ada, mengatur situasi dan kondisi lingkungan perpustakaan dengan sebaik mungkin dan menciptakan tata kerja perpustakaan sesuai dengan sistem penyelenggaraan yang ada, sehingga para pemustaka merasa nyaman dalam mendapatkan layanan pustaka dan akhirnya merasa betah di tempat perpustakaan.

Perpustakaan yang di era dulu identik dengan bahan pustaka yang berupa buku-buku dan hasil karya serta laporan tertulis yang tertata dengan rapi di rak-rak buku, namun seiring dengan perkembangan teknologi dewasa ini, berbagai bahan pustaka dan dokumen bisa di dapat dengan berbagai data elektronik, sehingga keberadaan perpustakaan dewasa ini mendapatkan tantangan yang berat.

Berbagai informasi yang dibutuhkan tidak harus dicari di ruang perpustakaan, karena dengan mudahnya saat ini segala informasi bisa diperoleh dengan searching lewat internet yang walaupun keakuratan dan validitas datanya kadang-kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Menjadi tantangan yang berat bagi pengelola perpustakaan untuk mengupayakan agar eksistensi perpustakaan tidak ditinggalkan oleh pemustaka. Ruang perpustakaan dewasa ini harus didesain sedemikian rupa agar para pemustaka mendapatkan layanan yang baik sehingga perpustakaan tersebut menjadi arena yang bersahabat bagi para pengunjung, yang arahnya budaya minat baca bisa terbangun di lingkungan sekolah / madrasah.

Tantangan dan Solusi Perpustakaan Sekolah / Madrasah
Perpustakaan banyak dipandang sebelah mata oleh penyelenggara satuan pendidikann. Masih banyak sekolah menempatkan program perpustakaan pada prioritas bagian bawah. Di lapangan masih banyak kita temui keberadaan perpustakaan sekolah jauh dari kata ideal. Masih sering dijumpai keberadaan perpustakaan sekolah tidak lebih dari suatu gudang yaitu tempat untuk menempatkan buku-buku pelajaran yang usang dan sudah tidak dipakai dalam kegiatan belajar mengajar. Koleksi buku-buku non pelajaran masih sangat kurang, sehingga yang ada adalah buku-buku pelajaran, dan itupun buku-buku hasil dari bantuan atau hibah pemerintah.

Sering kita lihat nasib hidup perpustakaan sekolah berada di pojok-pojok pekarangan/bangunan atau sisa-sisa ruangan yang tidak terpakai dengan kondisi lembab dan gelap. Kalaupun punya gedung dan buku yang dibilang cukup memadai, namun tidak disertai manajemen pengelolaan yang semestinya, karena alasan kekurangan SDM, dana dan sebagainya. Ruang perpustakaan kadang-kadang letaknya tidak ditempatkan di area yang strategis yang mudah dijangkau oleh warga sekolah. Tidak jarang ruang perpustakaan masih ditempatkan menyatu dengan unit kerja yang lain, misalnya masih menjadi satu dengan ruang BP, ruang UKS dan ruang koperasi sekolah, sehingga pengunjung yang hadir belum tentu berkepentingan dengan perpustakaan sekolah.

Dalam Undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, bunyi ayat 6 menyebutkan bahwa Sekolah / madrasah mengalokasikan dana paling sedikit 5% dari anggaran belanja operasional sekolah / madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan. Implementasi di lapangan dari bunyi pasal dan ayat tersebut belum sepenuhnya bisa terealisasi dengan baik. Alokasi 5% tersebut kalau direalisasikan di masing-masing sekolah / madrasah akan menghasilkan angka yang signifikan, artinya dengan dana tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan dan memajukan perpustakaan dari kondisi yang sekarang.

Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa alokasi yang direalisasikan masih dibawah angka yang ditetapkan dalam undang-undang tersebut, dengan pertimbangan adanya skala prioritas pada alokasi anggaran bagi pos-pos di luar unit kerja perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan perpustakaan sekolah / madrasah masih mendapatkan prioritas yang belum begitu penting. Belum ada keberpihakan dari stickholder penyelenggara sekolah untuk betul-betul memikirkan arti pentingnya keberadaan perpustakaan ini. Sebenarnya kalau dipahami keberadaan perpustakaan sekolah / madrasah adalah sesuatu yang sangat vital, mengingat segala informasi yang dibutuhkan oleh guru atau peserta didik berada di ruang perpustakaan.

Payung hukum mengenai besarnya alokasi dana untuk pengembangan perpustakaan sudah sangat jelas dan sebenarnya tidak menjadi masalah. Permasalah itu muncul ketika pustakawan, tenaga teknis perpustakaan bahkan koordinator perpustakaan yang tidak mengetahui atau tidak mau tahu akan hal tersebut. Kebanyakan dari mereka biasanya hanya menerima berapa pun alokasi anggaran yang diberikan pihak sekolah / madrasah untuk dana pengembangan ataupun operasional perpustakaan.

Permasalahan tidak berhenti sampai disitu, kadang-kadang pustakawan, tenaga teknis perpustakaan dan koordinator perpustakaan mengetahui mengenai besarnya anggaran yang wajib dialokasikan sekolah / madrasah untuk pengembangan perpustakaan, namun pihak sekolah / madrasah seakan menutup mata atau tidak mau tahu tentang masalah tersebut. Tidak jarang pihak sekolah / madrasah hanya memberikan dana seadanya untuk operasional perpustakaan dengan alasan skala prioritas pada pos-pos atau unit kerja yang lain. Mengenai permasalahan ini tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah swasta ataupun sekolah-sekolah di pinggiran, tetapi telah berlangsung di banyak sekolah / madrasah.

Standard nasional perpustakaan sekolah yang dikeluarkan oleh perpustakaan nasional Republik Indonesia tahun 2011 merupakan dasar acuan pendirian, pengelolaan dan pengembangan perpustakaan yang berlaku sama secara nasional. Standar perpustakaan sekolah / madrasah ini meliputi standar koleksi, sarana prasarana, layanan, tenaga, penyelenggaraan, pengelolaan, pengorganisasian bahan perpustakaan, anggaran, perawatan, kerjasama dan integrasi dengan kurikulum. Standar ini berlaku pada perpustakaan sekolah / madrasah baik negeri maupun swasta. Atas dasar standard nasional perpustakaan sekolah tersebut sudah seharusnya menjadi titik perhatian bersama dari berbagai pihak untuk bisa mewujudkan keberadaan perpustakaan sekolah / madrasah sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan dan mendukung keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah / madrasah.

Harus diakui memang perpustakaan sekolah bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi guru maupun peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan, apalagi seiring dengan perkembangan dunia teknologi, pengetahuan bisa didapatkan melalui dunia internet secara mudah. Walaupun begitu keberadaan perpustakaan di rasa sangat penting, apalagi di wilayah-wilayah yang tidak bisa terakses sarana internet dengan baik. Kita sering mendengar slogan bahwa jantung dari suatu negara adalah terletak di pendidikan yang dilambangkan dengan sekolah dan jantung dari sekolah adalah perpustakaan.

Agar tidak sekedar menjadi slogan semata, hendaknya pengelola tidak patah semangat dan harus tetap memiliki niatan yang mulia untuk mengembangkan dan mengelola perpustakaan sekolah/ madrasah.
Persoalan umum yang sering dihadapi oleh sekolah dalam upaya membangun dan mengembangkan perpustakaannya antara lain sebagai berikut :

1. Penyelenggara sekolah yang kurang mementingkan keberadaan perpustakaan di sekolah. Hal ini bisa terlihat dari minimnya alokasi dana untuk pengembangan perpustakaan atau bahkan tidak ada alokasi anggaran secara khusus.

2. Kurangnya SDM pengelola yang sesuai bidang keilmuannya. Petugas perpustakaan banyak yang bukan seorang pustakawan atau tenaga yang terdidik/terlatih dengan kemampuan yang relevan, sehingga pengelolaan kurang profesional. Sering di jumpai di sekolah, seorang kepala perpustakaan di pegang oleh guru-guru yang sudah bersertifikasi namun masih kekurangan jam mengajarnya, sehingga jabatan kepala perpustakaan di tunjuk bukan atas pertimbangan kebutuhan dan kualitas, namun hanya sekedar untuk menyelamatkan nasib guru bersertifikasi yang kekurangan jumlah jam mengajarnya, karena jabatan kepala perpustakaan di beri bobot setara dengan dua belas jam mengajar.

3. Ruang dan fasilitas yang kurang memadai di tambah koleksi buku bahan bacaan yang pada umumnya masih didominasi oleh buku-buku pelajaran atau paket, dan itupun bukan hasil dari pembelian tetapi buah dari hibah atau bantuan dari pemerintah. Buku-buku selain buku paket masih terasa sangat kurang. Dari realita yang ada tersebut, keberadaan perpustakaan sekolah belum mampu mewujudkan fungsi perpustakaan yang ideal yaitu sebagai pusat informasi, referensi, rekreasi, dan riset, sehingga perpustakaan belum menjadi pilihan yang utama bagi siswa dan guru.

4. Kenyataan di lapangan masih rendahnya minat baca para siswa dan guru. Hal ini terlihat dari sepinya pengunjung di ruang perpustakaan dan minimnya para siswa dan guru yang mengadakan peminjaman bahan pustaka. Kurang nyamannya ruang perpustakaan dan terbatasnya koleksi bahan pustaka menjadi penyebab sepinya ruang perpustakaan, di samping memang kesadaran siswa dan guru yang masih rendah dalam memanfaatkan keberadaan perpustakaan sekolah tersebut.

5. Belum semua guru dan pegawai memiliki kesadaran akan pentingnya peran perpustakaan dalam mendukung keberhasilan belajar siswa. Tugas-tugas yang diberikan oleh guru kepada siswa belum mengarah pada pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber informasi.

Guna menjawab segala persoalan yang secara umum sering terjadi seperti yang di sebutkan di atas, mungkin di bawah ini bisa digunakan sebagai acuan pihak manajemen sekolah dalam mengelola dan mengembangkan perpustakaan sekolah, yaitu :

1. Untuk meningkatkan keberpihakan manajemen sekolah pada pengelolaan dan pengembangan perpustakaan, dapat ditempuh dengan cara : adanya jaminan anggaran rutin perpustakaan sekolah dengan mengalokasikan dalam Rencana Anggaran Pendapatan Sekolah (RAPBS) syukur bisa mendekati angka 5%., adanya Otonomi Perpustakaan dalam hal pengelolaan anggaran, penempatan tenaga atau pengelola perpustakaan dengan basic pendidikan perpustakaan, dan mendorong kepada setiap tenaga pendidik untuk memanfaatkan perpustakaan dalam melaksanakan aktivitas pembelajarannya.

2. Untuk mengatasi kurangnya SDM pengelola yang sesuai bidang keilmuannya, dilakukan dengan cara : menugaskan guru yang mempunyai kepedulian pada perpustakaan untuk mengikuti diklat di bidang ilmu perpustakaan dan sekaligus arahnya sebagai koordinator pengelola perpustakaan sekolah, merekrut pustakawan yang mempunyai latar belakang ilmu perpustakaan, bekerja sama dengan berbagai pihak untuk bisa berperan serta dalam memajukan dan mengembangkan perpustakaan sekolah serta mengirim pengelola perpustakaan untuk mengikuti berbagai macam pelatihan yang terkait dengan perpustakaan.

3. Untuk mewujudkan perpustakaan mempunyai fungsi yang optimal sebagai pusat informasi, referensi, rekreasi, dan penelitian, sehingga menjadi wahana dan tempat pilihan favorit bagi siswa dan guru di sekolah, antara lain dilakukan dengan cara : menempatkan ruang perpustakaan di area yang strategis dan mudah dijangkau dari segala penjuru, mendesain tata ruang perpustakaan yang menarik dan nyaman bagi pengunjung perpustakaan, menyediakan ruangan yang berfungsi memberikan layanan yang nyaman kepada pemustaka, melengkapi koleksi bacaan agar dapat memenuhi sebagian besar keinginan pembaca, menambah koleksi perpustakaan dengan buku – buku yang menarik, memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, bekerjasama dengan guru dalam pendayagunaan perpustakaan dalam kegiatan pembelajaran, dan melakukan promosi dan sosialisasi kepada warga sekolah tentang arti pentingnya perpustakaan.

4. Untuk meningkatkan kesadaran bagi pendidik dan tenaga kependidikan akan arti pentingnya peran perpustakaan dalam mendukung keberhasilan belajar siswa dapat dilakukan dengan cara : mendorong para guru untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana pembelajaran, mendorong para guru untuk memberikan contoh atau teladan gemar membaca di perpustakaan, dan Kepala Sekolah memberlakukan aturan dan penetapan tentang Jam wajib kunjungan perpustakauh bagi siswa, guru dan tenaga kependidikan.

Dengan berbagai langkah strategis dan upaya yang di dukung oleh semua warga sekolah, di harapkan apa yang menjadi tujuan dan dambaan bagi pengelola perpustakaan dalam mewujudkan perpustakaan sebagai pusat informasi, referensi, rekreasi, dan penelitian dapat terlaksana dengan baik, sehingga keberadaan perpustakaan sekolah betul-betul bisa optimal dalam mengantarkan anak bangsa dalam meraih harapan dan cita-citanya dan secara lebih luas agar tujuan pendidikan nasional dapat terwujud.

Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh berbagai pihak (Perpusda selaku Pembina perpustakaan sekolah dan Dinas pendidikan mewakili pemerintah daerah) patut mendapatkan apresiasi yang besar dalam upayanya untuk ikut serta dalam membangun dan mengembanngkan perpustakaan sekolah, mengingat arti pentingnya eksistensi sebuah perpustakaan sebagai wahana untuk mewujudkan harapan dari semua pihak. (Kontak person: 081329075385. Email: prapto34@yahoo.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Dalam Amarah Mengubur Tradisi Keguruan


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: