Aktualisasi Pendidikan Profetik

23 November, 2015 at 12:00 am

Oleh Muhbib Abdul Wahab
Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Sekretaris Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah
Salah satu isu yang mengemuka dalam rapat kerja PP Muhammadiyah di Yogyakarta, 21-22 November 2015, adalah bagaimana Muhammadiyah yang memiliki jargon “Islam berkemajuan” itu mampu mengembangkan pendidikan berkemajuan yang integratif holistik. Salah satu pekerjaan rumah yang belum tuntas, baik oleh perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) atau perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI), adalah formulasi model integrasi keilmuan, keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan dalam kurikulum pendidikan.

Model pendidikan Islam yang dikembangkan juga perlu mendapat penajaman dan penguatan, termasuk menjadi model pendidikan Islam berkemajuan yang dapat mengisi kekurangan sistem pendidikan nasional. Diakui bahwa pendidikan nasional kita masih jauh dari harapan, baik dari mutu layanan, sarana dan prasarana yang disediakan, maupun lulusan yang dihasilkan.

Meskipun sudah diterbitkan PP No 19 Tahun 2005 tentang delapan standar nasional pendidikan, wajah dunia pendidikan kita masih banyak belum memenuhi standar. Daya saing lulusan pendidikan kita masih rendah.

Salah satu kritik adalah rendahnya profesionalitas guru dan mutu lulusan. Masih banyak guru belum berpendidikan strata satu (S-1). Tidak sedikit guru mengajar bidang studi yang bukan keahliannya. Setelah disertifikasi, baik melalui portofolio maupun PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru), kinerjanya cenderung tidak meningkat.

Secara umum, pendidikan tinggi di Tanah Air masih “melahirkan” sebagian lulusan yang korup. Fakta menunjukkan, hampir semua koruptor yang kasusnya ditangani KPK adalah lulusan perguruan tinggi ternama. Hal ini menunjukkan, lulusan perguruan tinggi di negeri ini masih belum memiliki integritas tinggi, masih mudah tergoda kekuasaan dan kemewahan duniawi, dan masih gampang terjerat sistem birokrasi dan perpolitikan yang korup daripada mengubah dan membenahi sistem dengan menjadi bersih dan bebas korupsi.

Pada level sekolah menengah pertama dan atas, tidak sedikit peserta didik kita menjadi pengguna narkoba dan miras, terlibat tawuran, pergaulan bebas, gemar berpesta dan menonton film porno, dan sebagainya. Padahal, mereka adalah remaja harapan bangsa yang seharusnya belajar menjadi pemimpin masa depan, bukan merusak diri dan menjadi calon generasi yang hilang.

Apa yang masih kurang dari sistem pendidikan nasional kita, yang sering ditandai dengan adagium “setiap ganti menteri ganti kurikulum”? Tampaknya dari segi sistem, pendidikan kita relatif sudah baik. Yang belum sepenuhnya baik adalah manusianya: pemimpin pendidikan, pendidik, dan lulusannya.

Membangun sistem pendidikan yang baik tidak cukup efektif untuk mewujudkan visi-misi pendidikan nasional tanpa membangun integritas dan membentuk karakter manusianya, karena sistem itu bisa berjalan baik jika manusia yang menjalankan sistem itu juga baik moralnya.

Di antara yang kurang dari sistem pendidikan nasional adalah figur pemimpin, negara maupun lembaga pendidikan, dan pendidik profetik. Pemimpin kita belum mampu menghadirkan kepemimpinan dengan cinta dan kasih sayang. Pemimpin kita masih cenderung bergaya transaksional, mementingkan partai politiknya daripada rakyat yang dipimpinnya. Kepemimpinan nasional belum mampu menjadi teladan yang baik bagi peserta didik.

Mengapa pendidikan profetik (prophetic education) perlu diaktualisasikan dalam konteks pendidikan Islam dewasa ini? Sejarah menunjukkan, Nabi Muhammad SAW sukses mendidik para sahabatnya. Padahal, semula dimusuhi oleh masyarakatnya dan dihadapkan pada aneka keterbatasan fasilitas yang menunjang proses pendidikan.

Nabi SAW berhasil melakukan transformasi edukasi bukan karena sistem pendidikan yang ada sudah mapan, melainkan karena kepribadian dan keteladanannya dalam mendidik. Beliau mendidik umatnya dengan cinta sepenuh hati, kata dan perbuatan nyata terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan profetik yang diteladankan Nabi SAW merupakan model pendidikan paling ideal yang tetap relevan untuk diaktualisasikan di zaman sekarang. Pendidikan profetik dibangun berlandaskan nilai-nilai ketuhanan (akidah tauhid yang benar), nilai-nilai kemanusiaan (simpati, peduli, menghargai perbedaan, menghormati kebinekaan), dan nilai-nilai akhlak mulia (jujur, amanah, sabar, baik hati, ikhlas berbagi).

Pendidikan profetik diintegrasikan dengan “ikatan suci dan etos jamaah”, yaitu masjid sebagai basis pemersatunya. Lembaga pendidikan kita, termasuk UIN, tampaknya masih mengalami kegersangan spiritual. Pengembangan nalar akademis-kognitif masih lebih dominan daripada penanaman afeksi cinta kasih humanis. Transfer pengetahuan masih menjadi mata ujian paling menentukan kelulusan daripada perilaku moral keseharian yang baik dari para peserta didik.

Idealnya, pendidikan Islam yang dikembangkan Muhammadiyah dan lainnya bisa mengembangkan model pendidikan profetik. Karena itu, pendidikan profetik yang dikembangkan harus bervisi pemajuan peradaban rahmatan lil ‘alamin, sementara visi pendidikan nasional baru sebatas mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 ayat 1 Sisdiknas). Pendidikan profetik tidak hanya membentuk peserta didik yang memiliki integritas moral yang kuat, tapi juga berorientasi membangun peradaban umat.

Sesungguhnya pendidikan profetik tidak hanya didasari empat pilar ala UNESCO, yaitu belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar untuk mewujudkan jati diri, dan belajar untuk hidup dalam kebersamaan, tapi juga spirit ibadah sebagai tujuan hidup, membumikan maqashid as-syari’ah (tujuan syariah: menjaga dan mengembangkan nilai-nilai agama, akal, jiwa, kehormatan, properti, lingkungan, dan kemanusiaan), dan mewujudkan peradaban dunia yang adil, makmur, dan berkemajuan.

Pendidikan profetik yang diteladankan Nabi SAW bukan terletak pada formalisme administrasi dan birokrasi yang membatasi dan menghambat tumbuhnya kreativitas, tapi terletak pada figur teladan sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam mewujudkan sistem sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, moral, dan sistem lainnya yang terintegrasi dan terkoneksi dengan muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah langsung) sekaligus taqarrub ila Allah (pendekatan diri kepada Allah).

Dalam konteks ini, model pendidikan Islam harus bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa dalam mengembangkan potensi dirinya dan membangun peradaban bangsa yang berkarakter kuat dan konstruktif, menyiapkan lulusan yang shalih dan mushlih (pembangun peradaban).

Model pendidikan profetik yang berpusat pada keteladanan insan-insan pendidikan (pemimpin, pengelola, pendidik, peserta didik, dan tenaga kependidikan) layak dijadikan salah satu katalisator dalam membenahi dan meningkatkan mutu pendidikan nasional ke depan.

Krisis keteladanan dalam insan pendidikan nasional perlu diatasi dengan mengambil spirit pendidikan profetik, dengan menempatkan akhlak mulia (integritas moral dan kedalaman spiritual) sebagai penciri utama lulusan pendidikan Islam, di samping cerdas berilmu, terampil berbahasa dan berkarya, berdaya saing tinggi, dan bermanfaat bagi bangsa dan umat manusia. Wallahu a’lam bi as-shawab! (Sumber: Republika, 23 November 2015)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: .

Kurikulum untuk Kehidupan Penerapan Blended Learning Dalam Pramuka


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: