Kurikulum untuk Kehidupan

21 November, 2015 at 12:00 am

Oleh Zulfikri Anas
Peneliti Indonesia Bermutu

Ketika ada pertanyaan, “Apakah muatan kurikulum?” Jawabnya, “Sunnatullah.” Jawaban valid dan pasti. Seluruh isi terhampar di jagat raya ini adalah ayat-ayat Ilahi yang sengaja diciptakan sebagai rahmat dan anugerah bagi semua.

Ilmu pengetahuan yang menjadi dasar penentuan isi kurikulum dari setiap mata pelajaran merupakan metode ilmiah untuk memahami seluruh isi jagat raya itu sesuai kekhasan sudut kajian masing-masing. Artinya, ilmu pengetahuan ilmiah menjadi jembatan yang akan mengantarkan nalar atau kekuatan alam pikiran serta hati nurani kita untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Logikanya sederhana. Semakin dalam kajian ilmiah kita, semakin tersingkap rahasia dan keajaiban dari penciptaan alam yang tertata dengan rapi, tidak secuil pun noktah yang terlepas dari perencanaan matang Sang Khalik. Semua unsur saling berkolaborasi membangun keseimbangan dan keharmonisan tanpa memandang ukuran besar atau kecil, tinggi atau rendah, semuanya bernilai penting dalam membangun tatatan kehidupan yang seimbang, konsisten, dan teratur.

Lalu, mengapa ada kebakaran hutan, sungai yang hitam, boraks, dan zat pewarna pakaian yang dicampurkan pada makanan, krisis air bersih, banjir, perubahan iklim, dan efek gas rumah kaca serta polusi udara? Semua itu adalah contoh maraknya keserakahan manusia.

Tidak hanya itu, krisis ekonomi, kolusi, korupsi, dan nepotisme sulit diberantas karena caranya makin lama makin “halus” dan masif. Itu pun bukti keserakahan dan ketidakpedulian orang-orang “terdidik” terhadap keberlangsungan hidup bersama. Itulah wujud nyata produk pendidikan kita saat ini.

Kalau begitu, ada apa dengan dunia pendidikan? Bukankah sekolah tidak pernah mengajari yang jelek kepada muridnya? Lalu, mengapa setelah dewasa apa yang dipelajari semasa sekolah seperti tidak ada yang tersisa?

Ya … Kita ini hidup dari apa yang tersisa dalam memori kita yang kemudian kita jadikan sebagai modal dalam proses pengambilan keputusan ketika akan melakukan sesuatu. Sejauh mana keputusan yang kita buat berdampak jangka panjang terhadap keberlangsungan keharmonisan hidup? Semuanya bergantung dari apa yang masih tersisa dari apa yang kita pelajari semasa bersekolah mulai dari jenjang paling bawah sampai pendidikan tinggi.

Seberapa tinggi tingkat kualitas memori yang tersisa itu sangat ditentukan oleh pengalaman yang dilalui anak selama belajar. Suasana atau iklim yang dibangun oleh guru pada masa-masa belajar sangat menentukan. Suasana ramai, riang, dan gembira akan membangkitkan gairah belajar sehingga memacu adrenalin anak untuk menaklukkan tantangan tanpa merasa terbebani.

Ketika kita mengajari membuang sampah pada tempatnya lewat mata pelajaran IPA, IPS, agama, bahasa, dan sebagainya, konsep itu dengan mudah dipahami siswa. Namun, tidak ada jaminan pemahaman itu akan menjadi bagian dari sikap dan perilaku bila tidak ada kondisi yang menggiring siswa ke arah itu.

Sebagai contoh, tindakan apa yang akan dilakukan siswa ketika dia melihat kita (guru dan orang tua) membuang sampah sembarangan? Atau, di lingkungan sekolah itu sama sekali tidak melibatkan siswa dalam proses menjaga kebersihan karena semua telah dilakukan petugas cleaning service?

Ketika hal itu terjadi, konsep “membuang sampah pada tempatnya” hanya menjadi pengetahuan sebagai jawaban soal ujian. Situasi itulah yang disebut dengan implemented curriculum. Implementasi kurikulum dalam berbagai bentuk aktivitas itu akan berpengaruh besar terhadap hasil atau outcomes (achieved curriculum).

Pelajaran tentang urutan bilangan melatih kita untuk menentukan prioritas. Namun, banyak “anak pintar” nilai matematikanya sempurna, tapi ia mudah sekali emosi ketika keinginannya tidak dipenuhi walaupun orang tuanya telah menjelaskan permintaannya itu ditunda karena ada yang lebih diprioritaskan saat ini.

Inti belajar urutan dan lambang bilangan adalah membangun pola pikir dan perilaku agar teratur, disiplin, dan konsisten. Tujuannya agar logika dan nalar kita tertata baik sehingga kita mampu memilih solusi yang tepat dalam menuntaskan serangkaian kegiatan.

Di dalam hidup, kita dihadapkan pada berbagai hal sekaligus, mulai dari bangun tidur, apa yang harus dilakukan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Begitu juga setelah sampai di sekolah, pertama kita harus apa, kedua harus apa, dan seterusnya. Begitu juga pada saat menunggu giliran, siapa yang pertama, kedua, dan seterusnya.

Jika kita hanya mengajari anak tentang urutan angka dan lambang bilangan tanpa diikuti kegiatan lain, pelajaran matematika akan menjadi kering, anak hanya mahir menghitung, membilang, menambah, mengurang, menggali, membagi tanpa paham nilai-nilai apa yang bisa kita terapkan dalam kehidupan.

Ketika anak asyik meneliti unsur dengan menggunakan mikroskop, akan terlihat bagian-bagian unsur yang tertata rapi. Jika satu bagian kecil dari unsur itu diambil dan dilihat dengan mikroskop yang lebih canggih, akan terlihat unsur terkecil itu juga terbentuk oleh bagian-bagian yang lebih kecil lagi.

Lalu, diambil lagi bagian yang terkecil dari unsur yang paling kecil itu, dilihat dengan mikroskop yang lebih canggih lagi, tenyata bagian yang paling kecil itu pun memiliki bagian-bagian yang lebih kecil lagi, begitu seterusnya. Kita tidak akan pernah menemukan satu unsur yang tunggal tanpa ada bagian-bagian. Kesimpulannya, ternyata selagi masih alam, ia tidak akan pernah lepas dari unsur lain yang saling berkolaborasi. Ternyata, yang tunggal itu hanya Allah.

Begitu juga saat simulasi pembuktian proses fotosintesis. Kesimpulannya, alam ini memang dirancang sedemikian rupa, bagaimana akar yang sangat halus itu begitu perkasa menembus tanah, bagaimana zat-zat makanan yang didapat itu dikirim ke daun dan daun pun memproses dengan apik dan menghasilkan O2. Semua proses itu berjalan rapi, teratur, dan sangat teliti. Anak sedang belajar mengenal Allah lewat keajaiban alam ciptaan-Nya.

Nasr, seorang ilmuwan Muslim, dengan tegas menyatakan, kerusakan ekologis dan tatanan kehidupan berawal dari dikeluarkannya agama dari sains. Realitas kosmik adalah manifestasi dan refleksi keberadaan Ilahi. Pada hakikatnya, isi jagat raya memuat pesan-pesan genostik Ilahi.

Pelajaran sains modern telah mereduksi dan mendesakralisasi alam kosmik. “Alam hanya dihadirkan sebagai objek kajian manusia untuk digunakan, direduksi, dimanipulasi, dan dikuasai demi memenuhi segala ambisi. Desakralisasi alam ini dampak dari desakralisasi pengetahuan. Proses itu telah membelokkan orientasi pengetahuan yang seharusnya ditujukan untuk penemuan kebijaksanaan yang memancar dari Ilahi. Akibatnya, rasa kagum atas realitas alam menjadi hilang.” (Sugiantoro, 2015).

Jika ilmu diibaratkan sebagai jasad, agama adalah ruhnya. Ketika kita pisahkan antara ilmu dan agama, kita telah mencabut ruh dari jasad. Di situlah kehancuran berawal. Kembalikan kurikulum ke hakikatnya, yaitu kurikulum untuk kehidupan yang memanusiakan manusia agar mereka menjadi manusia yang cerdas, bijak, dan tangguh sampai dewasa nanti. (Sumber: Republika, 21 November 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Kapok Jadi Guru! Aktualisasi Pendidikan Profetik


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: