Pendidikan Kunci Deradikalisasi

20 November, 2015 at 12:00 am

Oleh Ida Bagus MN
Penulis adalah seorang pendidik

Seluruh dunia baru saja dikejutkan dengan berbagai serangan mematikan di Paris, Prancis, Jumat (13/10) atau Sabtu dini hari waktu Indonesia. Semua mengutuknya. Serangan teroris sebenarnya terjadi hampir tiap hari di Irak, juga bom mematikan. Namun karena sudah terbiasa, jadi perhatian dunia bosan. Kekerasan dan destruksi terus terjadi di dunia ini. Pertanyaannya mengapa demikian? Mengapa manusia tega membunuh sesamanya? Apanya yang salah? Paham yang keliru membuat banyak kejadian destruktif.

Kasus terorisme juga terjadi di Indonesia dan diperkirakan masih banyak bibit-bibit yang tertanam di dalam anak-anak muda. Ini harus menjadi perhatian serius agar bibit-bibit tersebut tidak sampai tumbuh. Dengan kata lain harus ada cara mematikan benih-benih tersebut. Ini hanya bisa dilakukan dengan pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan menjadi kunci membetulkan pola pikir menyimpang generasi muda.

Orangtua yang pertama dan utama harus bertanggung jawab menanamkan benih-benih cinta kasih. Keluarga menjadi ruang utama sekolah mencintai sesama. Dengan demikian dasar-dasar hidup saling menyayangi sudah tertanam di dalam benak anak-anak ketika nanti bersosialisasi seperti di sekolah. Sayangnya, banyak keluarga tidak siap menjalankan pendidikan tersebut.

Ini terjadi karena banyak orangtua “dipaksa” keadaan untuk menjadi ayah dan ibu. Mereka tidak disiapkan menjadi orangtua yang baik. Selain itu, banyak juga pasangan yang menikah terlalu muda, sehingga belum banyak pengalaman hidup. Dalam artian, menata diri sendiri saja belum bisa, apalagi harus mendidik anak. Ide Menteri Agama Lukman yang mau mengadakan kursus perkawinan lebih dulu kepada calon pengantin sebagai gagasan sangat baik. Dia menggagas kursus perkawinan karena prihatin melihat begitu banyak perceraian.

Dalam konteks ini, Gereja Katolik sudah berpuluh-puluh tahun lalu mengharuskan calon pengantin mengikuti kursus perkawinan. Gereja tidak akan menikahkan pasangan yang tidak mengikuti kursus perkawinan. Dengan kata lain, kursus perkawinan adalah syarat mutlak pernikahan Katolik. Ide menteri agama harus didukung agar suami istri tidak mudah bercerai.

Pemahaman arti keluarga menjadi kunci pendidikan anak. Orang muda yang tidak siap mendidik anak tetapi harus menikah (apa pun penyebabnya) sungguh menyedihkan karena boleh jadi anak-anak tidak akan memperoleh pendidikan yang baik. Apalagi gaya hidup keluarga sekarang yang serbapembantu. Semua dikerjakan asisten rumah tangga, termasuk mendidik anak. Padahal asisten rumah tangga bekerja berdasarkan bayaran, tentu mereka tidak optimal. Selain itu, pendidikan asisten rumah tangga, banyak yang terbatas.

Sejak Dini
Semua menyadari bahwa keluarga merupakan sekolah pertama dan utama dalam menanamkan karakter anak. Untuk itulah perlunya tadi membahas betapa penting menyiapkan calon pengantin agar menjadi ayah dan ibu yang siap secara mental. Ayah ibu yang matang secara psikologis sangat potensial mampu mendidik anak-anak terutama menanamkan karakter yang baik.

Nah anak yang sudah baik di dalam keluarga, mudah-mudahan juga mampu menangkal berbagai masukan buruk di dalam pergaulan, walaupun itu bukan jaminan juga. Caranya agar anak tidak terpengaruh buruk dari pergaulan, maka kebersamaan di dalam keluarga harus tetap dijaga sampai anak benar-benar dewasa dalam berpikir dan mampu dilepas. Rekreasi bersama keluarga tak boleh dilupakan karena dalam suasana seperti itu mudah sekali membangun karakter anak dengan memasukkan nilai-nilai cinta lingkungan dan sesama.

Andai ayah ibu mampu menginternalisasikan nilai-nilai ke dalam diri anak, ini sudah merupakan proses deradikalisasi sejak dini. Keberhasilan orangtua menanamkan berbagai keluhuran seperti tolong-menolong, saling peduli, membantu, dan seterusnya, merupakan tembok masuknya paham kekerasan.
Harus diakui, keluarga sekarang ada yang merasa cukup dengan memenuhi segala keperluan. Padahal yang diperlukan anak adalah kehadiran ayah ibu. Sebab melalui sapaan, belaian, dan pujian, anak dekat dengan orangtua. Kalau sudah dekat, suami istri akan dengan mudah memasukkan nilai-nilai kehidupan seperti pentingnya saling mencintai antarsesama. Kalau dicubit sakit, jangan melakukannya pada orang lain.

Sayang, dewasa ini banyak ayah ibu gagal menjalin kedekatan dalam arti menciptakan relasi yang hangat dengan anak-anak. Ada kerenggangan hubungan anak dan orangtua. Tentu kondisi demikian membawa konsekuensi hubungan yang kaku dan kering. Dalam hubungan yang tidak hangat, orangtua sulit menanamkan nilai-nilai. Bahkan sangat mungkin orangtua tidak berhasrat menanamkan nilai-nilai, maka membiarkan hubungan yang terjadi tidak hangat. Orangtua tidak serius membangun hubungan dan komunikasi dengan anak-anak.

Maka proyek-proyek deradikalisasi tidak mudah berhasil kalau dilakukan setelah dewasa. Deradikalisasi terbaik harus dimulai sejak dini di dalam keluarga. Dengan kata lain, keluarga menjadi kunci proses deradikalisasi sejak dini. Keluarga yang baik mampu melahirkan anak-anak yang mencintai sesamanya. Maka praktik saling mencintai harus dimulai dari dalam keluarga di antara anggota. Dengan begitu diharapkan anak-anak juga akan mencintai sesamanya di luar rumah. Mereka adalah teman dan sahabat, sehingga tidak pantas dihancurkan. Sebagai teman dan sahabat kita juga tidak berhak berlaku kekerasan pada sesama. (Sumber: Koran Jakarta, 20 November 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Dukungan Terhadap Pendidikan Inklusif Kapok Jadi Guru!


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: