Gubernur Mengajar dan Pendidikan Karakter

17 November, 2015 at 12:00 am

Oleh Bambang Rahardjo Munadjat

SERING kita dengar program Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang bernama Agenda 18, namun belum banyak yang memahami tentang pokok-pokok agenda itu. Pokok-pokok pikiran Agenda 18 mencakup 11 program unggulan. Ke-11 agenda tersebut adalah pendidikan politik masyarakat, reformasi birokrasi berbasis kompetensi, penguatan sistem pelayanan publik, keterwujudan desa mandiri, peningkatan kesejahteraan pekerja, serta rakyat sehat. Selain itu, optimalisasi penyelenggaraan pendidikan, peningkatan keadilan gender, pembangunan infrastruktur, pembangunan lingkungan, dan peningkatan peran dan fungsi budaya Jawa.

Pendidikan politik merupakan hal penting sebagai upaya untuk membangun fondasi bermasyarakat maupun bernegara di Indonesia. Pengembangan pendidikan politik harus diarahkan agar pemberdayaan dan penguatan generasi muda bersedia dan ikut berpartisipasi dalam membangun negara. Salah satu tantangan terbesar bagi Indonesia adalah pembangunan karakter bangsa (Binsar A Hutabarat, 2015). Jateng sebagai bagian dari Republik Indonesia tentu juga menghadapi masalah yang sama.

Problem itu utamanya disebabkan kegagalan sistem pendidikan dalam membangun karakter bangsa. Depolitisasi bangsa selama masa kepemimpinan Soeharto gagal melakukan pembangunan karakter bangsa yang kemudian ditunjukkan dengan berkembangnya pragmatisme dan hedonisme generasi muda.

Marvin Berkowitz (1998) mengatakan, kebanyakan orang mulai tak memperhatikan lagi bagaimana pendidikan dapat berdampak terhadap perilaku seseorang. Itulah cacat terbesar pendidikan, karena gagal menghadirkan generasi anak-anak bangsa yang berkarakter kuat.

Filsuf Aristoteles dalam Binsar AHutabarat (2015) mengingatkan, masyarakat yang tidak lagi memperhatikan pentingnya pendidikan atau tak lagi menempatkan pendidikan sebagai suatu good habits, akan membuat masyarakat menjadi terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan buruk.

Atas dasar itulah, Gubernur Ganjar Pranowo melakukan sebuah kegiatan bertajuk ”Gubernur Mengajar”. Program ini merupakan sebuah proses dalam pendidikan politik dan pembangunan karakter bangsa untuk mencerdaskan kehidupan sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 45.

Parameter Kinerja
Meninjau keberhasilan pembangunan yang dilakukan gubernur saat ini, FX Sugiyanto (2015) mencatat, dua tahun Ganjar Pranowo menjabat gubernur, ekonomi Jateng cenderung membaik walau pada tingkat sangat moderat. Memang pertumbuhan ekonomi 2015 diperkirakan lebih rendah dibanding 2014, tapi lapangan kerja cenderung meningkat.

Angka pengangguran dan kemiskinan cenderung menurun dan tingkat harga juga menurun. Tahun 2015 (semester I) ekonomi Jateng tumbuh 5,20%, sedangkan 2014 sebesar 5,42 % atau lebih tinggi dari rata-rata nasional, yakni 4,70% tahun 2015 (semester I) dan 5,02% tahun 2014. Lapangan kerja meningkat dari 16,47 juta orang (Agustus 2013) menjadi 17,32 juta orang (Februari 2015).

Pengangguran menurun dari 1,05 juta orang atau 6,01% (Agustus 2013) menjadi 0,97 juta orang atau 5,31% (Februari 2015). Kemiskinan dihitung menggunakan garis kemiskinan, menurun dari 4,81 juta orang atau 14,44% (September 2013) menjadi 4,56 juta orang atau 13,58% (September 2014). Inflasi turun dari 8,34 % pada Agustus 2013 menjadi 6,36% pada Juli 2015.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi seperti kita ketahui bersama adalah dampak dari lesunya ekonomi dunia, sehingga dengan pertumbuhan yang lebih baik dari pertumbuhan nasional di Jateng cukup menunjukkan gubernur dan seluruh jajarannya berhasil dalam melaksanakan tugas yang diamanatkan oleh rakyat. Karena itu, di tengah kesibukan gubernur melaksanakan tugas memantau pembangunan yang telah dilaksanakan, sebaiknya gubernur terus melakukan pendidikan politik sebagai bagian pembangunan karakter bangsa di Jateng melalui program ”Gubernur Mengajar”.

Dorongan untuk terus melanjutkan agenda ini karena program itu sama sekali tidak mengganggu tugas utama Ganjar sebagai gubernur. Demi kebaikan dan tujuan mulia, program ini layak dipertahankan. Kalau ada saran, kritik, atau masukan, itu sudah jamak. Yang penting, program yang berguna untuk masyarakat harus dilanjutkan. (Sumber: Suara Merdeka, 17 Nopember 2015).

Tentang penulis:
Bambang Rahardjo Munadjat, anggota DPRD Jateng 2004-2009

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Blended Learning Sebagai Upaya “Kekinian” Dukungan Terhadap Pendidikan Inklusif


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: