Blended Learning Sebagai Upaya “Kekinian”

14 November, 2015 at 12:00 am

Linda MayasariOleh Linda Mayasari SPd MPd
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surabaya

Istilah kekinian memang menjadi sebuah kata yang popular di jagat Indonesia dalam hampir seluruh aspek kehidupan tak terkecuali Dunia Pendidikan. Apa yang terkini di Pendidikan Indonesia dalam tahun 2015 dan dua tahun belakangan ini? Jawaban dari pertanyaan ini tidak bisa terlepas dari kekinian orang-orang yang terikat dan terlibat dalam pendidikan yakni peserta didik dan fasilitator pendidikan.

Kedua belah pihak yang pastinya hidup dalam sebuah kehidupan yang dinamis dan progressive terhadap teknologi. Menurut hasil penelitian UNICEF sebagaimana dilansir oleh techno.kompas.com “ Pengguna internet di Indonesia yang berasal dari kalangan anak-anak dan remaja diprediksi mencapai 30 juta”.

Pengguna internet dalam rentan usia anak-anak dan remaja notabene warga yang harus melewati program wajib belajar atau dengan kata lain dari kalangan pelajar sekolah maupun universitas. Terdapat catatatan kecil pada hasil penelitian yang dilakukan oleh UNICEF yakni kebanyakan data pengguna internet ini berada di kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, dan sebagainya.

Guru atau fasilitator pendidikan bisa mengkaji fenomena dan tren yang digandrungi para pelajar saat ini yakni internet menjadi suatu terobosan dalam proses belajar mengajar. Penulis pada matakuliah yang diampunya yakni Intensive Course (IC) mengaplikasikan terobosan tersebut.

Sebelum membahas lebih jauh apakah hubungan internet, blended learning dengan pendidikan, mengulas sedikit permasalahan yang dialami oleh akademisi tingkat sekolah tinggi atau biasa disebut kampus. Bagi pendidik khususnya di tingkat perguruan tinggi, pelbagai macam kendala yang dihadapi dengan pembelajaran berbasis tradisional seperti keterbatasan mencari materi, tatap muka dosen dengan mahasiswa kurang bisa terlaksana dengan baik , proses pengumpulan tugas yang ribet dan monoton.

Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi baik dalam segi software dan hardware, proses kegiatan belajaran mengajar (KBM) bahasa Inggris pada mata kuliah Intensive Course dapat berjalan secara fleksibel, menarik, dan efisien.

Contoh konkret keuntungan dari penggunaan TIK dalam KBM adalah mudahnya mahasiswa mengakses untuk mendapatkan materi perkuliahan melalui internet sehingga tidak hanya bergantung satu sumber seperti buku dan handout dari dosen, pengumpulan tugas-tugas perkuliahan seperti makalah, tugas harian bisa melalui media surel, web blog, dan sebagainya sehingga mahasiswa bisa mengirim tugas tersebut kapan pun sebelum deadline dan dimanapun. Sistem KBM yang mengharuskan indikator keberhasilan harus tercapai dalam jumlah tatap muka minimal 12 -14 kali merupakan salah faktor kurang berkembangnya kreatifitas mahasiswa dan profesi dosen.

Blended learning merupakan salah satu alternatif solusi dalam menjawab tuntutan jaman era digital ini sekaligus meminimalisir kendala yang dihadapi ranah pendidikan. Sesuai namanya, blended learning merupakan proses mempersatukan beragama metode pembelajaran yang dapat dicapai dengan menggabungkan sumber-sumber virtual dan fisik (Hasbullah dan Istiningsih , 2015: 49). Karena adanya gabungan virtual dan fisik, maka bisa disimpulkan unsur online pembelajaran tidak 100 %. Sebagaimana diutarakan oleh Allen dkk (2007:5), komposisi online learning sebanyak 30-79% terkandung dalam blended learning.

Sisi positif dalam penerapan blended learning adalah kebutuhan peserta didik atas penguatan dan konfirmasi materi terbangun dalam face to face interaction antara pendidik dan peserta didik dan hal ini tidak bisa didapat dalam sarana online. Berikut adalah tabel model pembelajaran berdasarkan proporsi muatan online yang diklasifikasikan oleh Allen dkk (ibid)

Aplikasikan blended learning, yakni pembelajaran yang mengkombinasikan antara pertemuan tatap muka (in-class session) dengan pembelajaran secara online maupun offline sebagai upaya untuk menggabungkan keunggulan dari kedua jenis metode yang digunakan. Model ini dipilih karena beberapa alasan. Pertama, blended learning digunakan dalam pembelajaran intensive course ini sebagai langkah awal pengenalan model pembelajaran berbasis ICT (e-learning), mengingat matakuliah ini diajarkan untuk mahasiswa semester pertama yang belum terbiasa dengan pembelajaran model e-learning ini.

Blended learning juga dipilih dari pada model MOOC (pembelajaran on-line secara keseluruhan) karena dengan melalui pertemuan tatap muka di kelas diharapkan akan mempermudah proses evaluasi terhadap tugas maupun materi baik oleh dosen maupun melalui peer review. Sedangkan melalui pembelajaran online, mahasiswa diharapkan mampu menguasai ICT, yakni dengan diwajibkannya tiap kelompok mahasiswa membuat weblog yang disangkutkan ke website sumber yang dikelola oleh dosen pengajar.

Selain itu, dengan pembelajaran online, mahasiswa diharapkan mampu menemukan sumber-sumber pembelajaran online yang authentic. Pembelajaran authentic melalui sumber-sumber online sangat penting, mengingat yang dipelajari oleh mahasiswa adalah bahasa asing (atau bahasa kedua) sehingga dengan sumber belajar yang authentic, mahasiswa akan memperoleh referensi yang tepat; misalnya: pengucapan kosa kata bahasa inggris benar dan intonasi yang tepat dari native speaker, artikel-artikel yang menjadi bahan bacaan dari website portal-portal berita internasional, juga berbagai video yang menggambarkan kebudayaan Inggris dan Amerika yang tepat untuk pemahaman mahasiswa akan cross cultural understanding.

Mengaitkan kembali pernyataan diawal bahwa penulis mencoba meneliti suatu hal baru yang bersifat ‘kekinian’ dengan subyek penelitian adalah kelas Intensive Course. Berikut adalah temuan yang didapat dimana data diperoleh melalui tahapan penelitian pengembangan model ADDIE.

Pada tahap analysis, ditemukan informasi bahwa tingkat digital literacy dosen dan mahasiswa cukup beragam, ada yang tergolong mahir dan pemula. Dalam perangkat pembelajaran Matakuliah IC disebutkan media pembelajaran yang digunakan sudah berbasis multimedia akan tetapi hanya sebatas penggunaan power point melalui LCD dan laptop. Layanan internet hanya fasilitas email dan berfungsi untuk mengirim dan menerima tugas. Strategi yang dipakai sudah berfokus pada student centre

Berdasarkan hasil analisa, maka selanjutnya proses designing dilakukan. Draft proses perumusan perangkat pembelajaran untuk try out tahap 1 didiskusikan secara intens dengan dosen pengampu matakuliah IC. Berikut Draft perangkat pembelajaran yang dirumuskan: Mangembangkan salah satu RPP Intensive Course, Topik perkuliahan” telling a story” , Blended learning yang dirancang adalah satu hari penguatan materi, kemudian penugasan dilakukan melalui media blog pada waktu yang telah ditetapkan setelah in class dilaksanakan, tugas dilakukan secara individu melalui blog mahasiswa. Pengambilan kesepakatan dalam pembagian tugas tim peneliti juga dilaksanakan dalam tahap designing.

Validasi draft perangkat pembelajaran dan instrument penelitian yang mendukung kepada para pakar menunjukkan bahwa penelitian ini memasuki fase development. Masukkan dari pakar, yakni blended learning yang sesuai dengan kondisi dan sarana yang tersedia adalah media online diberikan pada saat perkuliahan tatap muka berlangsung.

Langkah selanjutnya adalah implementasi. Dosen model dan mahasiswa yang dijadikan sampel penelitian disiapkan sesuai hasil telaaah pada tahapan sebelumnya. Dosen model menerangkan materi perkuliahan yakni menyusun plot cerita dengan media Prezi secara online. Pada kegiatan awal, dosen menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan aprespsi sebelum kegiatan inti dimulai. Dosen model menggunakan media Prezi versi offline untuk menayangkan materi perkuliahan.

Terdapat delapan kelompok yang beranggotakan 4-5 mahasiswa. kelompok 1,2.3, 4 dijuluki Little Wizard sedangkan kelompok 5,6,7,8 termasuk dinamakan tim cinderella dan dibagi atas dua jenis masing-masing kelompok diminta untuk menyiapkan laptop yang sudah terkoneksi dengan internet.

Setiap kelompok membawa dua-tiga laptop dan membuka aplikasi Prezi secara online. Kelompok – kelompok yang terbagi atas dua bagian harus secara bergiliran menyusun cerita secara berantai melalui media prezi. Setelah itu tim cinderalla menyampaikan secara lisan hasil chain story yang mereka buat dan kelompok little wizard menyimak dan begitu juga sebaliknya ketika giliran tim little wizard menyampaikan tim yang lain mencatat dengan seksama.

Setelah proses menyimak selesai, masing-masing kelompok (tim cinderella dan little wizard) menyiapkan pertanyaan. Masing-masing kelompok kecil 1-8 berlomba-lomba menjawab guna mendapatkan point terbanyak. Pada kegiatan dosen memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berisikan materi tentang plot dengan menggunakan media game offline “Hot potatoe”.

Fase evaluation merefleksikan catatan yang didapat ketika implementasi blended learning pada matakuliah IC seperti koneksi wifi yang kurang kuat sehingga mengganggu jalannya loading prezi secara online.
Kesimpulan yang didapat berdasarkan hasil kuisioner mahasiswa terhadap penerapan dengan model pembelajaran blended learning , media online pada saat in class (face to face interaction ), adalah 90 persen mahasiswa merasakan pembelajaran lebih baik dari sebelumnya, tidak lagi monoton konvesional “duduk dan mendengarkan ceramah”. (Kontak person: 0856.481010.27. Email: lindamayasari@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Efektivitas Program Gubernur Mengajar Gubernur Mengajar dan Pendidikan Karakter


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: