Efektivitas Program Gubernur Mengajar

13 November, 2015 at 12:23 am

Oleh Sri Hardjanto
Ketua Pengurus Daerah Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Tengah

TIAP minggu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ”bermetamorfosis” menjadi guru dengan mengajar dari SD hingga SMA. Bahkan secara bergantian sampai tingkat mahasiswa di daerah, yang disebutnya Program Gubernur Mengajar. Kita patut mengapresiasi karena di sela-sela kesibukannya sebagai gubernur, masih mencoba meluangkan waktu untuk mengajar demi mencerdaskan anak bangsa.
Namun di balik apresiasi itu, ada kekhawatiran menyangkut efektivitas program mengajar tersebut. Baik efektivitas terkait tugas sebagai gubernur yang harus dijalankan sesuai tupoksi, maupun efektivitas bagi sekolah dan murid yang diajar.

Efektivitas Gubernur Ganjar mengajar perlu kita takar berdasarkan bunyi hadis sebagaimana diriwayatkan HR Bukhori, yakni ”Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” Dari sisi keilmuan, Ganjar tidak memiliki kapasitas tentang metodologi belajar-mengajar.

Ia lulusan Fakultas Hukum UGM, bukan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) universitas mana pun. Bisa saja ia belajar secara autodidak, tapi karena tidak memiliki Akta IV apakah ia punya kewenangan mengajar? Sebaiknya jangan menyerahkan sebuah urusan kepada yang bukan ahlinya.

Di sisi lain, kita khawatir jangan-jangan program itu disalahartikan, terutama oleh lawan politik, yang menafsirkan itu hanya pencitraan. Apalagi ada kemungkinan Ganjar maju lagi menjadi calon kepala daerah lewat pilgub mendatang. Kehadiran Ganjar untuk mengajar juga mengganggu sekolah-sekolah itu, baik menyangkut ketenangan suasana maupun proses belajar-mengajar itu sendiri.

Sebagai gubernur, ia tentu terikat aturan protokoler dan itu bisa merepotkan sekolah yang didatangi. Boleh jadi pihak sekolah, termasuk siswanya, senang. Tapi tak bisa dimungkiri ketenangan dan proses belajar-mengajar berisiko terganggu.

Di pihak lain, waktu yang digunakan untuk mengajar juga menyita waktunya sebagai gubernur. Dengan kegiatan mengajar yang bukan tupoksinya, apakah itu bisa disebut korupsi waktu? Apalagi waktu yang dipakai untuk mengajar adalah hari padat kegiatan dan bukannya hari libur?

Banyak PR
Akan lebih produktif bila Ganjar fokus hanya sebagai gubernur, bukan ”guru” yang mengambil waktu bukan pada hari libur. Bisa saja ia menyamakan aktivitas mengajarnya itu dengan kegiatan Jokowi atau menteri memberikan kuliah umum di sebuah universitas.

Namun Presiden atau menteri tidak tiap minggu memberi kuliah umum, bahkan bisa jadi hanya setahun sekali. Terlebih lagi PR Gubernur Ganjar cukup banyak, salah satunya masih rendahnya serapan anggaran. Per September 2015, penyerapan anggaran di Jateng baru 63% (sumber: TP4D Kejati Jateng). Rendahnya serapan anggaran ini mencerminkan rendahnya pembangunan.

Jumlah penganggur di provinsi ini juga relatif tinggi, lebih dari satu juta orang. Tiap tahun angka pengangguran di Jateng berada pada kisaran 900 ribu-1,2 juta jiwa. Jumlah penduduk miskin di Jateng pun relatif tinggi. BPS Jateng mencatat pada Maret 2015 jumlah penduduk miskin meningkat 15,21 ribu orang dibanding September 2014.

Pada Maret 2015 jumlah penduduk miskin 4,577 juta orang atau meningkat dari jumlah 4,562 juta pada September 2014 (Antara, 15/9/15). Bukan berarti kita tidak senang kepada Ganjar yang menyempatkan waktunya untuk mengajar, melainkan justru ngeman supaya dia tetap on the right track mengingat bila ”menyimpang” maka bisa menjadi sasaran empuk lawan politik.

Lebih dari itu, supaya waktunya sebagai gubernur lebih efektif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang saat ini berjumlah 33 juta jiwa. Kegiatan mengajar bisa dilakukan pada hari libur atau kelak ketika sudah purnatugas. (Sumber: Suara Merdeka, 13 November 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menakar Pendidikan Persis Blended Learning Sebagai Upaya “Kekinian”


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: