Indikator Guru Teladan

24 September, 2015 at 12:26 am

WiyonoOleh Wiyono
Guru LPMI Al Izzah, Kota Batu, Jatim.

Guru, digugu tur ditiru, ungkapan itulah yang harus tetap mendarah daging di sanubari seorang guru. Ungkapan itu jangan sampai ternoda bahkan harus tetap dijaga kesuciannya. Jika kita bicara dan membahas seorang guru mungkin tidak ada habisnya. Misalpepohonan

yang ada di dunia ini dijadikan pena dan air laut dijadikan tinta maka tetap akan tidak cukup untuk menulis dan mengkaji ilmu yang diberikan Allah yang disampaikan oleh seorang guru ini.

Mengapa bisa begitu? Karena pada hakikatnya seorang guru adalah penyampai ilmu Allah. Ilmu Alloh memang begitu luas. Bahkan luasnya tak terbatas pandangan mata, tersirat di dalam hati/batin, dan terpikir di dalam otak. Maka tidak salah Allah menyampaikan, jika manusia menghitungnya maka tidak akan mampu. Namun di dalam hal ini hanya seorang guru atau memengang ilmu yang diberi oleh Allah kemampuan untuk menghitung dan mengurai hal tersebut.

Guru adalah pewaris nabi. Disebut pewaris nabi karena seorang guru yang menyampaikan dan mengamalkan ilmu. Ilmu tersebut didasarkan untuk amar makruf nahi munkar. Seorang guru juga harus berwawasan luas ke depan. Di dalam hal ini yang disampaikan tidak hanya materi belaka yang sifatnya duniawi, melainkan sampai juga ke ukhrowi.

Seorang guru memang sosok yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena seorang guru meskipun masih ada yang menyebut pahlawan tanpa tanda jasa, justru seorang gurulah yang paling berjasa di muka bumi ini. Maka tidak salah jika di luar negeri, khususnya di Jepang (pasca kehancuran Hiroshima dan Nagasaki) guru yang tetap di cari pertama. Bahkan di Negara tetangga (Malaysia, Singapura) sampai saat ini tetap mengangkat derajat Guru dari berbagi segi. Untuk menguatkan hal tersebut mari kita kaji dari berbagai ilustrasi berikut: tidak ada pemimpin tanpa adanya guru, tidak ada pejabat, tanpa adanya guru, tidak ada dokter tanpa adanya guru, tidak ada orang yang benar tanpa adanya guru, serta masih banyak contoh yang lain.

Berbagai gelar yang disematkan kepada guru. Gelar tersebut mulai pahlawan tanpa tanda jasa, umar bakri, sosok artis, motivator, professional, dan masih banyak lagi gelar yang disematkan kepada sosok guru ini.Yang jelas guru adalah sosok teladan yang wajib dijadikan panutan.

Tidak lain dan tidak bukan yang dijadikan teladan seorang guru adalah Rosululloh SAW.
Sebelum kita mengaji sosok teladan yang sudah dicontohkan oleh Rosululloh SAW yang terdapat di dalam Al Qur’an surat Al Ahzab 21 yang artinya”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”mungkin tidak ada salahnya kita mengaji ketiga keteladanan yang terdapat di dalam ajaran masyarakat Jawa.

Ajaran tersebut adalah“Ajineng rogo ono ing busono, ajineng awak ono ing tumindak, ajineng diri ono eng lathi”inilah yang dijadikan teladan oleh guru.Mengacu pada tiga hal di atas, mari kita kaji satu per satu!

Pertama, Ajineng rogo ono ing busono, haltersebut jika kitaurai berarti seorang manusia (guru khususnya) akan dihargai apabila menggunakan pakaian yang tepat dan sesuai situasi dan kondisi. Guru adalah teladan, maka di dalam berpakaian juga sebaiknya memperhatikan profesi mulya yang disandangnya. Dia tidak sekedar mengajar tetapi juga mendidik. Jika mengajar tetap terbatas di ruang dan waktu di kelas. Jika mendidik tidak terbatas ruang dan waktu. Jika seorang guru di dalam hal ini tidak berpakaian dengan sopan dan tidak memperhatikan situasi, kondisi, dan pribadinya maka bisa memungkinkan anak didiknya bisa berpakaian tidak sopan juga.

Apabila seorang guru (khususnya wanita) berpakaian yang sopan dan syari maka hal tersebut juga akan dicontoh oleh peserta didiknya. Hal tersebut juga merupakan lahan ibadah yang akan berdampak di kemudian hari. Mengacu pada hal tersebut mari kita renungi Al Qur’an surat Al A’raf 26 berikut ini: Hai anak Adam sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwaitulah yang paling baik.

Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.Begitu juga Al Qur’an surat Al Ahzab ayat 59“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Kesimpulannya seseorang akan dihargai, dimulyakan, terangkat derajat atau tidaknya juga ditentukan pada pakaian yang digunakannya.

Kedua, “ajineng diri ono eng lathi” artinya, seseorang akan dihargai atau dimulyakan tergantung pada pembicaraanya atau bagaimana berkomunikasi. Jika kita membahas hal ini amat luas. Dampak yang ditimbulkan juga besar. Banyak orang tidak selamat karena lidahnya, tidak sedikit orang mendapat rahmat juga karena lidahnya. Bicara soal komunikasi lisan kita tidak hanya berkata yang benar saja, melainkan juga harus baik dan santun. Karena jika benar sesuai kaidah hal itu belum tentu baik dan benar. Jika kita bicara dengan baik maka itu juga belum bisa dijadikan dasar komunikasi itu benar dan santun. Begitu juga jika kita bicara santun belum tentu itu baik dan benar.

Bicara baik orientasinya mengacu pada situasi dan kondisi pembicara dengan lawan bicara. Misalnya kita berkomunikasi di pasar, tempat umum, dan dengan sesama teman. Hal itu sesuai dengan dasar Al Qur’an suratIbrahim ayat 24 berikut:Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

Sedangkan Al Quran Surat Ibrahim ayat 26. Dan perumpamaan kalimat yang burukseperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Kemudian di dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 263ditegaskan“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.

Begitu juga mari kita membahas dan renungi hadist Rosululloh SAW dan Al Quran berikut ini: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.” (HR. Bukhari).Mengacu hal tersebut, bisa dikatakan tidak beriman seseorang jika tidak bisa berbicara yang baik.

Bicara benar berpedoman pada kaidah yang digunakan. Misalnya untuk komunikasi situasi formal di duniapendidikan, pidato, presentasi, dan sebagainya. Ungkapan ini mengacu pada Al Quran surat Al Ahzab ayat 70 diungkapkan ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”

Sedangkan pembicaraan yang santun mengacu pada lawan bicara yang diajak berkomunikasi. Komunikasi tersebut biasanya digunakan antara murid dan guru, anak dan orang tua, karyawan dan pimpinan dan masih banyak lagi. Untuk menguatkan pernyataan tersebut mari kita pahami dalam Al Quran surat Thaha: 44 Allah berfirman ”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

Ketiga, ajineng awak ono ing tumindak, artinya pribadi seseorang akan dihargai, dinilai, dimulyakan karena perbuatannya. Perbuatan seseorang memang berdampak besar pada diri individu tersebut dan orang lain pada umumnya.Jika berbuat baik maka akan berdampak pada dirinya sendiri, bergitu kuga yang bertindak yang kurang baik juga berakibat pada pribadinya sendiri. Sebaiknya seorang guru juga harus memperhatikan hal tersebut karena sangat berdampak luar biasa bagai anak didiknya.

Jika yang dilakukan seorang guru itu baik maka hal tersebut akan memberikan investasi multilevel yang luar biasa di kemudian hari yang tak akan terputus. Lebih jelasnya mari kita kaji dan renungi Al Qur’an surat Al A’raf 33)Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatandosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Begitu juga Al Quran surat Al Mukmin 40,“Barangsiapa mengerjakan perbuatanjahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab”.

Selanjutnya untuk menutup pembahasan ini mari kita renungi Al Qur’an surat Lukman ayat 17, Barangsiapa mengerjakan perbuatanjahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.

Begitu juga Al Qur’an Surat Hud 114 Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baikitu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Terakhir mari kita pahamiAl Qur’an surat Al Anam ayat 160. Barangsiapa membawa amal yangbaik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatanjahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). Kontak person: 085755333960. Email: wiyonodp@ymail.com

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Khittah Pendidikan Ketika Negara ‘Jauh’ dari Anak-anak


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: