Khittah Pendidikan

3 September, 2015 at 12:00 am

Eko SupriatnoOleh Eko Supriatno SIP MPd
Direktur Banten Religion And Culture Center (BR-CR), Pemimpin Redaksi “Cahaya Unma”, Dosen Universitas Mathla’ul Anwar Banten

 

Hingga saat ini, saya masih terkesan dengan pemikiran maestro-maestro. Pendidikan dulu. Pandangan-pandangannya mencerahkan, inklusif, kritis, dan selalu menyadarkan insan-insan pendidikan untuk mengembalikan dunia persekolahan kepada “khittah”-nya sebagai pencerah spiritual.

Catatan kritis penulis, bahwa dunia pendidikan ataupun persekolahan kita saat ini, tidak mengajak anak didik untuk berpikir eksploratif dan kreatif. Seluruh suasana pembelajaran yang dibangun adalah penghafalan, tanpa pengertian yang memadai. Adapun bertanya apalagi berpikir kritis praktis adalah tabu atau “pamali”. Siswa tidak dididik, tetapi di-drill, dilatih, ditatar, dibekuk agar menjadi penurut, tidak jauh berbeda dari pelatihan binatang-binatang “pintar dan terampil” dalam sirkus.

Suasana pembelajaran yang “salah urus” semacam itu, telah membuat cakrawala berpikir peserta didik menyempit dan mengarah pada sikap-sikap fasisme, bahkan menyuburkan mental penyamun, perompak, penggusur, koruptor yang menghambat kemajuan bangsa. Erat berhubungan dengan itu, timbullah suatu ketidakwajaran dalam relasi sikap terhadap kebenaran. Mental membual, berbohong, bersemu, berbedak, dan bertopeng, seolah-olah semakin meracuni kehidupan kultural bangsa. Kemunafikan merajalela. Kejujuran dan kewajaran dikalahkan. Keserasian antara yang dikatakan dan yang dikerjakan semakin timpang.

Sikap-sikap fasis yang menafikan keluhuran akal budi, bahkan makin menjauhkan diri dari perilaku hidup yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, tampaknya sudah menjadi fenomena yang mewabah dalam masyarakat kita. Maraknya fenomena dan perilaku anomali semacam itu, disadari atau tidak, merupakan imbas dari sistem pendidikan yang telah gagal dalam membangun generasi yang utuh dan paripurna.

Menurut Penulis ada beberapa catatan kritis dalam tulisan ini, Pertama, selama menuntut ilmu di bangku pendidikan, pelajar yang baik senantiasa dicitrakan sebagai “anak mami” yang selalu mengamini semua komando gurunya. Mereka ditabukan untuk bersikap kritis, berdebat, dan bercurah pikir. Akibatnya, mereka tampak begitu santun di sekolah, tetapi menjadi liar dan bringas di luar tembok sekolah. Kedua, anak-anak bangsa yang tengah gencar memburu ilmu di bangku pendidikan (hampir) tidak pernah dididik secara serius dalam menumbuhkembangkan ranah emosional dan spiritualnya.

Ranah kecerdasan spiritual yang amat penting peranannya dalam melahirkan generasi yang utuh dan paripurna justru dikebiri dan dimarginalkan. Kebijakan dan kurikulum pendidikan kita belum memberikan ruang dan waktu yang cukup berarti untuk memberikan pencerahan spiritual siswa. Yang lebih memprihatinkan, guru sering terjebak pada situasi rutinitas pembelajaran yang kaku, monoton, dan menegangkan lewat sajian materi yang lebih mirip orang berkhotbah, indoktrinasi, dan “membunuh” penalaran siswa yang dikukuhkan lewat dogma-dogma dan mitos-mitos.

Idealnya, pendidikan harus mampu memberikan pencerahan dan katarsis spiritual kepada peserta didik, sehingga mereka mampu bersikap responsif terhadap segala persoalan yang tengah dihadapi masyarakat dan bangsanya. Melalui pencerahan yang berhasil ditimbanya, mereka diharapkan dapat menjadi sosok spiritual yang memiliki apresiasi tinggi terhadap masalah kemanusiaan, kejujuran, demokratisasi, toleransi, dan kedamaian hidup. Kita membutuhkan sosok manusia yang memiliki kecerdasan spiritual yang menciptakan damai di tengah berkecamuknya kebencian, yang menawarkan pengampunan bila terjadi penghinaan.

Kecerdasan spiritual mewujud dalam perikehidupan yang diliputi dengan kesadaran penuh, perilaku yang berpedomankan hati nuruni, penampilan yang genuine tanpa kepalsuan, kepedulian besar akan tegaknya etika sosial. Sebaliknya, ketidakcerdasan spiritual menunjukkan diri dalam ekspresi keagamaan yang monolitis, eksklusif, dan intoleran yang sering meninggalkan “jejaknya” pada korban konflik atas nama agama, seperti yang belakangan ini sering kita saksikan.

Kerdilnya kecerdasan spiritual yang mencuat dalam bentuk perilaku yang gemar berkonflik atas nama etnis dan agama, jelas menjadi keprihatinan kolektif kita sebagai bangsa. Ke depan, dunia pendidikan kita harus bersikap antisipatif dengan memberikan sentuhan perhatian yang cukup berarti terhadap ranah spiritual siswa. Kurikulum dan kebijakan pendidikan harus benar-benar mengakomodasi ranah spiritual siswa secara proporsional dan substansial.

Begitupun dengan Mata pelajaran Pendidikan Agama, selain ditambah alokasi waktunya, hendaknya juga tidak sekadar mencekoki siswa dengan setumpuk teori dan hafalan, tetapi harus benar-benar menyentuh kedalaman dan hakikat spiritual yang membuka ruang kesadaran nurani siswa di tengah konteks kehidupan sosial-budaya yang majemuk. Hal itu harus didukung oleh semua guru lintas mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan ke dalam materi ajar yang diampunya.

Yang tidak kalah penting, guru yang berada di garda depan dalam dunia pendidikan hendaknya mampu menjadi figur keteladanan spiritual di hadapan peserta didik. Guru hendaknya juga mampu “menanggalkan” jiwa yang kasar dalam mendidik. Sikap pendidik harus demokratis, lebih “conscientious“, lebih mawas diri, yang otomatis akan menular ke jiwa anak didik.

Di tengah situasi Indonesia yang masih “silang-sengkarut” akibat krisis multiwajah dan konflik berkepanjangan, sudah saatnya dunia pendidikan benar-benar mengambil peran sebagai pencerah dan katarsis peradaban yang sakit. Kehadirannya harus benar-benar dimaknai secara substansial sebagai “kawah candradimuka” yang menggembleng jutaan anak bangsa menjadi generasi yang utuh dan paripurna; cerdas intelektualnya, cerdas emosionalnya, sekaligus cerdas spiritualnya. Bukan hanya sekadar pelengkap yang selalu disanjung puji sebagai pengembang SDM, tetapi realitasnya hanya menjadi sebuah “Indonesia” yang terpinggirkan.

Pendidikan dan Moralitas

Penulis sependapat dengan teori Pendidikan menurut Dalai Lama, Ia berkata: “Pikiran manusia adalah sumber dan apabila diarahkan dengan tepat juga merupakan solusi bagi masalah kita. Mereka yang berpendidikan tinggi namun tidak memiliki hati yang baik dapat menjadi mangsa yang empuk bagi kecemasan dan keresahan karena keinginan yang tak terpenuhi. Sebaliknya, pemahaman murni tentang nilai-nilai spiritual justru memiliki dampak yang berlawanan. Bilamana kita mendidik anak-anak kita meraih ilmu pengetahuan tetapi tanpa rasa iba (belas kasihan), maka sikapnya terhadap sesama mungkin akan menjadi campuran dari rasa iri terhadap orang yang melebihi mereka dan persaingan yang agresif terhadap rekan sebayanya, juga mencemohkan mereka yang kurang beruntung. Ini akan menuntun kepada kecenderungan bersifat tamak, penuh prasangka, berlebihan, dan cepat merasa tidak bahagia. Ilmu pengetahuan memang penting. Ini bergantung pada hati dan pikiran pemakainya.”

Pendidikan lebih dari sekadar memisahkan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk meraih tujuan yang sempit. la juga membuka mata seorang anak bagi kebutuhan dan hak-hak sesamanya. Kita harus menunjukkan kepada anak-anak bahwa aksi mereka akan memiliki dimensi universal. Dan kita harus menemukan cara untuk membangun rasa simpati mereka yang wajar supaya mereka memiliki rasa tanggung jawab terhadap sesama. Karena inilah yang sebenarnya mencetuskan tindakan kita. Memang, kalau kita harus memilih antara pengetahuan dan kebajikan, maka yang terakhir itu lebih bernilai. Hati yang baik, yang merupakan buah dari kebajikan, adalah manfaat yang besar bagi kemanusiaan. Hanya ilmu pengetahuan semata, tidaklah bermanfaat.

Lalu, bagaimana seharusnya kita mengajarkan moralitas kepada anak-anak kita? Saya merasa bahwa, pada umumnya, sistem pendidikan yang modern biasanya mengabaikan pembahasan tentang masalah-masalah etika.

Ini mungkin tidak dimaksudkan hanya sebagai produk sampingan dari realitas sejarah. Sistem pendidikan duniawi dikembangkan justru ketika institusi-institusi religius masih amat berpengaruh di seluruh lapisan masyarakat. Karena nilai-nilai etis dan manusiawi sebelumnya masih dianggap termasuk dalam ruang lingkup agama maka diperkirakan segi dari pendidikan anak ini otomatis akan terpelihara melalui pendidikan agama, baik bagi anak pria maupun wanita. Semua ini berfungsi dengan baik hingga pengaruh agama mulai surut. Walaupun kebutuhannya masih ada namun tidak terpenuhi, kita harus menemukan sejumlah cara lain dalam menunjukkan kepada anakanak bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar itu penting. Dan kita juga harus membantu mereka untuk mengembangkan nilai-nilai tadi.

Akhirnya, tentu saja, pentingnya kepedulian terhadap sesama dipelajari bukan dari kata-kata melainkan dari aksi/tindakan: panutan yang kita peragakan. jadi, lingkungan keluarga itu sendiri adalah komponen yang sangat vital dalam pendidikan anak-anak. Jika atmosfir peduli dan welas asih absen dari rumah, jika anak-anak diabaikan oleh orang tua mereka, maka dapat dipastikan akan ada dampak yang merugikan. Anak-anak cenderung merasa tak berdaya dan tidak aman, dan pikirannya sering tersiksa. Sebaliknya, apabila anak-anak menerima kasih sayang yang tetap dan perlindungan, mereka cenderung untuk menjadi kian bahagia dan lebih percaya diri dalam kemampuannya.

Kesehatan fisik mereka juga cenderung kian membaik. Dan, kita merasa bahwa mereka peduli bukan saja pada dirinya sendiri tetapi juga pada sesama. Lingkungan rumah juga penting karena anak-anak akan belajar tingkah-laku yang negatif dari kedua orang tuanya. Kalau, misalnya, si ayah selalu bersitegang dengan para rekannya, atau kalau ayah dan ibu selalu berdebat kusir, maka walaupun pada awalnya si anak mungkin merasa ini tidak menyenangkan, lambat-laun mereka dapat memahami bahwa itu wajar-wajar saja. Pelajaran seperti ini kemudian akan dibawa ke luar rumah dan ke dunia.

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Edukasi Media Sosial dalam Pilkada Indikator Guru Teladan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: