Pramuka Riwayatmu Kini

14 Agustus, 2015 at 12:00 am

Oleh Maswan
Pembina Pramuka Pandega Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, mahasiswa S- 3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes)

Dalam era modern, generasi muda sepertinya sudah tidak lagi tertarik membicarakan tentang Gerakan Pramuka. Kegiatan kepramukaan dianggap sudah kuno, ketinggalan zaman, bahkan kampungan. Padahal kegiatan tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan luhur dan bisa membangun watak kepribadian menjadi manusia yang selalu riang gembira.

Selain itu berdisiplin, berjiwa sosial, bertanggung jawab, jujur, dan cinta lingkungan. Pola pendidikan kepramukaan bersandar pada Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka. Kepramukaan merupakan pendidikan di luar kelas yang mengandung banyak nilai kehidupan. Pendidikan kepramukaan di Indonesia merupakan satu dari kepanduan yang ada di dunia, yang bernaung dalam Organisasi Kepanduan Dunia (World Organization Scout Movement).

Organisasi tersebut didirikan oleh Robert Baden-Powell, pejuang inspiratif yang memberikan kontribusi nyata bagi dunia. Kisah inspiratif Powell memotivasi pemimpin semua bangsa untuk melakukan perubahan luar biasa. Sejak kecil Powell dikenal cerdas, gembira, dan lucu sehingga disukai teman-temannya.

Di samping itu, ia pandai bermain musik (piano dan biola), teater, berenang, berlayar, berkemah, mengarang, dan menggambar. Dari sejarah hidupnya, pendidikan kepramukaan menerapkan pola dan cara yang menyenangkan. Bahkan memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber pembelajaran.

Kegiatan itu bisa mendidik generasi muda berjiwa besar dan bermental luhur. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan yang biasa dilakukan di lapangan. Pertama, kepramukaan sebagai kegiatan eksplorasi bakat lebih terasa. Pramuka menghargai tiap bakat dan kreativitas untuk dikembangkan. Kedua, melalui k e p r a – mukaan, anak dapat diajak meneliti dan menemukan karya inovatif, berkarya dari bahan yang kurang bermanfaat menjadi lebih bermanfaat.

Ketiga, anak dapat belajar bagaimana sikap kekeluargaan, semisal lewat berkemah kelompok ibarat hidup dalam sebuah keluarga. Keempat, anak dapat diikutkan lomba atau ‘’pesta’’yang bisa menumbuhkan kebersamaan, kegiatan bakti untuk pengabdian, ataupun kompetisi guna mengasah kemampuan.

Kelima, anak dapat diarahkan pada kegiatan pelatihan untuk meningkatkan taraf pemahaman, cross culture understanding untuk melatih nasionalisme keberagaman, dan kegiatan wisata untuk memberi kesadaran pentingnya menjaga alam sekitar.
Bila arah Sistem Pendidikan Nasional pada keterwujudan karakter maka sejatinya pramuka adalah wadah paling efektif dan tepat. Sejak didirikan, pendidikan kepanduan dunia dan pendidikan pramuka di Indonesia terbukti menjadi tempat yang tepat untuk penggemblengan karakter calon pemimpin.

Semenarik Mungkin
Terlebih Kurikulum 2013 sebagai acuan perangkat pendidikan menekankan pada pembentukan karakter. Kepramukaan bisa menjadi kegiatan alternatif dalam bentuk ekstrakurikuler, dengan catatan program, kegiatan, dan kemasannya dibuat semenarik mungkin.

Ke depan, seyogianya Kemdikbud bekerja sama dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka membuat aturan dan menerapkan kebijakan bahwa semua guru harus mendapat pelatihan kepramukaan. Mereka diwajibkan mengikuti kursus mahir pembina kepramukaan sebelum lulus sekolah keguruan, dan nantinya mendapat sertifikat.

Aturan ini pernah diberlakukan pada pelaksanaan kurikulum 1975 untuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Pendidikan Guru Agama (PGA). Waktu itu, sebelum lulus mereka harus mengikuti kursus mahir dasar pendidikan kepramukaan, yang lebih dikenal dengan kursus calon pendidik pramuka (Cadika) selama 10 hari.

Dengan bekal itu, pada waktu itu sebagian besar guru SD menjadi pembina di gugus depan (gudep) masingmasing. Hal itu berbeda dari saat ini. Sekarang pun sekolah merasa kesulitan mencari pembina yang mahir karena calon guru tidak pernah mendapat bekal pendidikan kepramukaan. (Sumber: Suara Merdeka, 14 Agustus 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Ironi Kebudayaan Edukasi Media Sosial dalam Pilkada


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: