Ironi Kebudayaan

12 Agustus, 2015 at 12:00 am

Ali SyahbanaOleh Ali Syahbana
Dosen Kopertis Wilayah II dpk Universitas PGRI Palembang

Dari setiap wacana budaya yang digelar melalui seminar, diskusi ilmiah, pertemuan budaya, dan opini di media selalu saja muncul kesan utama, yakni terdapatnya kekhawatiran para tokoh budaya terhadap makin tergerusnya budaya asli yang berlaku di masyarakat akibat gempuran budaya luar. Di samping itu, rasa miris karena melihat animo dan kecintaan masyarakat terhadap budaya aslinya sendiri makin berkurang. Kebanyakan masyarakat tidak lagi bangga dengan atribut dan performa budayanya sendiri.

Kesan negatif ini juga diutarakan hampir banyak tokoh masyarakat lainnya, baik yang berada di pusat maupun di daerah, baik yang muncul di media umum maupun yang sering kita dengar sendiri dari para tetua kita di kampung. Pernah terdengar ucapan seorang tokoh kampung, “Kalau dulu para orang tua melarang anaknya menjadi biduan, sekarang malah berlomba mengikutsertakan anaknya dalam lomba menjadi biduan (artis)”, banyak juga yang mengatakan “Dulu seorang murid segan melintas di depan gurunya, sekarang malah bermesraan di depan gurunya.” Tak pelak lagi, budaya memang telah bergeser. Sesuatu yang dulu dianggap tabu sekarang malah menjadi keharusan. Sesuatu yang dulu menjadi tontonan (karena dianggap aneh), sekarang malah menjadi tuntunan, atau sebaliknya.

Perubahan seakan tak dapat dibendung lagi, termasuk juga perubahan pandangan kita terhadap nilai-nilai, dan kita dituntut untuk selalu waspada dan mawas diri, serta bersikap bijak dalam menghadapi perubahan ini.

Budaya Populer
Salah satu sebab yang sangat mempengaruhi perubahan arus budaya yakni sejak dimulainya revolusi industri di Eropa. Para industriawan berusaha memasarkan hasil produksinya agar dapat diterima dan digunakan masyarakat dunia. Mereka digolongkan dalam kaum kapitalis. Dalam upaya mengembangbiakkan gurita bisnis mereka, kaum kapitalis mesti melakukan hegemoni terhadap pola pikir, perilaku, dan gaya hidup masyarakat. Kemudian direkonstruksilah segala bentuk artefak dan simbol budaya untuk mempengaruhi massa sebagai pasar komoditas. Kehidupan sosial masyarakat diformat dalam kerangka wacana mereka. Akibatnya tatanan dan kehidupan sosial masyarakat kita berubah.

Kemudian ditambah lagi dengan gencarnya amerikanisasi melalui jargon “globalisasi”. Setiap perilaku dan animo masyarakat hendak disamaratakan dalam kerangka persepsi dan kehendak mereka. Mereka menciptakan suasana ketergantungan dan keterlenaan masyarakat terhadap produk pikiran dan produk budaya mereka melalui jargon turunannya yakni “pergaulan”, “kemajuan”, “kemodernan”, “kemanusiaan” dan “peradaban” yang sesuai dengan persepsi mereka. Tujuannya tidak lain agar produk mereka diterima sebagai suatu kewajaran dan keharusan.

Akibatnya timbullah budaya populer (popular culture) yang sering disingkat dengan budaya pop. Walaupun definisi yang utuh masih diperdebatkan para ahli, secara umum budaya pop merupakan perilaku/kegiatan keseharian masyarakat yang mengapresiasi secara massal hampir segala sesuatu yang ditawarkan pasar. Dengan demikian, budaya pop ini cenderung menumbuhkembangkan sikap konsumtif dan sikap hedonis di setiap lapisan masyarakat. Apalagi menurut Srinati (2009), budaya pop yang mengandalkan massa ini lebih mengabdi pada kepentingan pemuasan selera, dan memiliki kecenderungan menyederhanakan dunia nyata dan mengabaikan persoalan-persoalannya.

Telah kita rasakan bahwa kita dijebak dan dibentuk dalam konsepsi budaya yang mengutamakan tanda dan simbol-simbol, dan secara tanpa sadar kita telah tenggelam dan larut di dalamnya. Penampilan dan citra diri lebih ditonjolkan daripada kepribadian yang sebenarnya. Performa lebih utama daripada substansi. Dan demi menjaga performa ini, pada akhirnya kita telah tergiring untuk terus berhalusinasi pada keinginan-keinginan konsumtif. Sehingga kita terkadang lupa untuk berpikir secara jernih apakah yang di hadapan kita saat ini begitu penting ataukah hanya sekedar pelengkap bagi kehidupan kita (yang tanpa dengannya kita masih bisa hidup dengan tenang dan sejahtera).

Aspek Sosial Psikologis
Kebutuhan terhadap hubungan-hubungan sosial merupakan kebutuhan azazi manusia. Adanya hubungan sosial tersebut bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang di antaranya berupa pemenuhan rasa aman dan pengakuan atas status sosial. Pemenuhan rasa aman dapat berupa kedamaian hidup dengan tanpa gangguan dari pihak manapun, atau berjalannya pola hidup seperti apa adanya tanpa ada yang merasa dirugikan. Sedangkan pengakuan atas status sosial minimal berupa penerimaan masyarakat terhadap keberadaan diri kita, tidak mesti kita mempunyai posisi atau jabatan apa pun dalam masyarakat tersebut.

Keinginan banyak manusia untuk tidak tersisihkan dari pergaulan terkadang membuat mereka terpaksa mengikuti arus besar budaya yang sedang berkembang, walaupun seringkali budaya tersebut hanya bersifat sementara, instan, dan tidak bermanfaat. Tidak mengikuti arus sering menimbulkan masalah akan pemenuhan rasa aman dan tidak diakuinya status sosial tadi.

Aspek psikologi ini menimbulkan keinginan untuk berpartisipasi dalam segala hal yang bersinggungan dengan khalayak ramai, walaupun substansi budaya dan permasalahannya tidak sesuai dengan minat, kebutuhan dan kepribadian kita, agar tetap eksis dalam pergaulan dan keberlangsungan hidup.

Dari sisi psikologis ini, pihak yang berkepentingan (khususnya kaum kapitalis) berupaya menciptakan kondisi yang dapat menimbulkan histeria massa. Histeria massa ini dimanfaatkan untuk menjaring pengikut dan penggemar yang digiring untuk menjadi fanatik terhadap produk atau kondisi tertentu, dan histeria massa ini menjadi semacam pemantik berkobarnya budaya populer.

Hindari Mental pecundang
Masyarakat perkotaan maupun daerah yang mulai beranjak ramai yang cenderung heterogen, seringkali mulai tidak menghargai budaya warisan leluhurnya. Selain karena pengaruh televisi dan internet, datangnya penghuni baru yang bukan penduduk asli seringkali menimbulkan gejolak budaya lagi dan proses asimilasi dan akulturasi budaya terus-menerus terjadi, dan lahirlah budaya baru lagi. Hal ini berimplikasi pada pengikisan secara perlahan terhadap budaya penduduk asli, khususnya pergeseran nilai-nilai dan tradisi lama yang sebenarnya masih bagus dan elegan untuk dilestarikan.
Apalagi bagi kalangan muda, budaya warisan leluhur seringkali terkesan menampilkan wajah kolot, anti kemajuan dan tidak modern. Seirama dengan jiwa muda yang dinamis, lalu mencuatkan keinginan untuk mencoba hal-hal yang baru. Budaya warisan leluhur yang kaku dan monoton seperti tidak memberi ruang untuk berkreatifitas. Mereka merasa hanya diminta untuk menerima. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab mulai lunturnya kecintaan kaum muda terhadap budayanya sendiri.

Kemudian dalam konteks sekarang, budaya pop menjadi semacam trade mark bagi kebudayaan modern. Dan kebanyakan masyarakat cenderung menganalogikan budaya pop ini dengan simbol “kemodernan” hidup. Akibatnya masyarakat telah hampir sepenuhnya menerima kenyataan ini sebagai bagian dari realita kehidupan sehari-hari, apalagi bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan.

Di sisi lain, penerimaan budaya pop oleh masyarakat mengindikasikan perilaku masyarakat yang tidak mau berkutat pada masalah yang serius (yang membuat terlalu banyak berpikir dan mengernyitkan dahi). Masyarakat hanya ingin yang simpel, instan, terasa enak di hati dan menyenangkan. Seakan ingin melepaskan dan melupakan beban hidup yang terus menghimpit.

Tentunya dalam menyikapi terjadinya benturan-benturan budaya dan merebaknya budaya populer tersebut, kita harus mempunyai kebanggaan diri terhadap budaya yang kita miliki. Konsepsi budaya yang telah kita terima sejak turun temurun dari nenek moyang merupakan warisan sangat berharga yang perlu dilestarikan dengan penuh rasa kebanggaan. Nilai-nilai kebaikan dan kearifan lokal yang tertuang dalam budaya leluhur cerminan dari pemaknaan atas kehidupan yang disesuaikan dengan kondisi dan suasana alam sekitar yang beragam. Sehingga perbedaan dalam berbudaya adalah suatu keniscayaan.

Budayawan Mohammad Sobari menyatakan bahwa tidak ada suatu budaya yang lebih adiluhung dari budaya lain, yang ada hanyalah perbedaan karakteristik masing-masing budaya. Bahkan Beliau menegaskan lagi, bahwa para tokoh antropologi pun berpendapat demikian. Sehingga komentar Kang Sobari ini bagaikan penyejuk bagi hati kita yang bimbang dan patut dijadikan pegangan agar kita tidak minder terhadap budaya kita sendiri.

Budaya baru yang datang tidak serta merta langsung kita tolak ataupun langsung kita terima. Perlu ditilik terlebih dahulu manfaat dan mudhoratnya. Setiap sesuatu selalu mengandung kebaikan dan juga keburukan. Namun penerimaan kita terhadap budaya baru tidak dengan sendirinya menyingkirkan budaya kita sendiri, apalagi yang menyangkut nilai-nilai luhur kehidupan. Banyak nilai budaya kita yang mesti tetap terus dipertahankan, misalnya kesederhanaan gaya hidup, gotong royong dan kekeluargaan, sikap empati dan peduli, dan lain sebagainya.

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pramuka Riwayatmu Kini


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: