Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

10 Agustus, 2015 at 12:00 am

Hari PrasetioOleh Drs Hari Prasetio MM
Guru MAN 2 Banyumas, Jawa Tengah

 

Ingin pintar, instan. Instan adalah keinginan untuk mendapatkan segala sesuatu dengan cepat dan mudah. Budaya instan telah menjadi budaya baru bagi masyarakat modern saat ini. Cara-cara instan telah menghilangkan arti penting dari sebuah proses pencapaian sesuatu. Dalam dunia pendidikan sebuah proses sangatlah penting, dengan proses kita dapat memahami bagaimana runtutan pencapaian cita-cita dapat kita wujudkan. Proses akan memberikan kita sebuah pelajaran berharga. Lewat sebuah pengalaman akan menuntun kita mencari jalan yang benar, dengan proses kita menjadi mengerti arti sebuah peristiwa. Kita mengerti peristiwa tersebut dan kita memahami apa yang harus dilakukan setelahnya.

Budaya instan tidak bisa diredam karena merupakan konsekuensi logis dari kemajuan peradaban, budaya instan telah menciptakan kaum minimalis. Ada pengamen di jalanan dengan modal botol bekas minuman yang diisi sedikit beras, kalau ditanya mengapa alatnya hanya begitu, jawabanya ini hanya instrumen saja. Yang lebih ironis ada pengamen yang bermodal bertepuk tangan saja. Di sekolah jika ada siswa yang mendapat nilai 9, hal ini membuat temannya iri dan malah menuduh bahwa temannya itu curang atau mencontek, karena mereka tidak bisa mendapat nilai yang baik. Kalau ditanya apa hobi dan cita-citanya, kebanyakan siswa mempunyai hobi nonton dan makan-makan, walaupun cita-citanya ada yang baik, yaitu ingin memuliakan orang tuanya. Hal itu rupanya yang bisa disebut kaum minimalis.

Kaum minimalis di sekolah adalah siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah. Ada sebuah ilustrasi, 10 siswa mengikuti kegiatan outbond dari seorang motivator, pada sesi halang rintang mewajibkan setiap siswa untuk melompati sebuah sungai dengan lebar 2 meter. Pengarahan motivator bahwa semua peserta wajib melompati sungai tersebut karena setelah berhasil akan mendapatkan kesuksesan yang lain. 6 siswa menyatakan kesanggupanya, namun ada 4 siswa yang menyatakan tidak sanggup. Berulang kali motivator menanyakan kesanggupannya, tetepi ke 4 siswa itu tetap tidak sanggup, dengan alasan ; takut jatuh, takut kakinya patah, tidak berani, dan tidak percaya diri. Maka motivator mengintruksikan kepada ke 4 siswa itu untuk segera kembali ke basecamp. Namun rupanya motivator lainnya telah menyiapkan 2 ekor anjing untuk mengejar ke 4 siswa tersebut, tidak ada jalan lain untuk bisa selamat kecuali berbalik arah dan melompati sungai. Kemudian ke 4 siswa itu lari secepatnya dan satu per satu berhasil melompati sungai.

Artinya di sekolah perlu adanya guru-guru yang memberi motivasi belajar yang merupakan dorongan yang datang dari luar diri siswa, yang juga mendorong untuk melakukan kegiatan belajar dengan sungguh-sungguh. Siswa membutuhkan bimbingan, arahan, dan nasehat, mereka membutuhkan cahaya ketika hati mereka gelap, siswa perlu dimotivasi berkarakter baik, karena ada kecenderungan kesadaran mereka sulit ditumbuhkan tanpa adanya motivasi. Idealnya setiap siswa dibimbing oleh guru yang memiliki standar yang bagus. Guru harus memiliki kompetensi mengajar yang baik dan sama antar guru yang lain, tak ada guru malas, tak ada guru killer yang suka marah-marah, dan suka menghukum. Ke depan guru harus baik, pintar, bersemangat, dan punya dedikasi yang tinggi untuk mencerdaskan dan mencetak karakter yang baik untuk setiap muridnya.

Guru sebagai salah satu unsur dalam proses belajar mengajar memiliki multi peran, tidak terbatas hanya sebagai pengajar yang melakukan transfer of knowledge, tapi juga sebagai pembimbing yang mendorong, mengembangkan, memobilisasi potensi siswa, dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Artinya guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang komplek terhadap pencapaian tujuan pendidikan, di mana guru dituntut untuk menguasai ilmu yang akan diajarkan dan memiliki seperangkat pengetahuan, dan keterampilan teknis mengajar yang diperoleh dari pengalaman mengajarnya, namun guru juga dituntut untuk menampilkan kepribadian yang mampu menjadi teladan bagi siswa.

Guru sebagai ujung tombak dari pelaksanaan pendidikan harus merasa lebih bertanggung jawab dalam menghasilkan output pendidikan yang lebih bermutu. Karena produk pendidikan yang bermutu, bertanggung jawab, gagah perkasa dan diharapkan akan mampu bersaing dalam kehidupan global yang serba kompetitif seperti sekarang ini. Pendidikan adalah asset bangsa untuk masa depan, sehingga perlu penanganan yang sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab (Sumber: Harian Satelit Post, 10 Agustus 2015). (Kontak Person: 081 367 758 302, E-mail : hariprasetio1967@yahoo.com)

 

 

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Aliyah (MA). Tags: , .

Mempersiapkan Generasi Mega Kompetisi Ironi Kebudayaan


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: