Mempersiapkan Generasi Mega Kompetisi

10 Agustus, 2015 at 12:00 am

Hari PrasetioOleh Drs Hari Prasetio MM.
Guru MAN 2 Banyumas, Jawa Tengah

 

Adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi, membuat sekat-sekat kehidupan manusia menjadi sirna, jarak bukan lagi suatu hambatan untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia. Dunia yang semakin terbuka menuntut masyarakat yang demokratis dan terbuka pula. Masyarakat yang terbuka tanpa batas memungkinkan kerjasama antar masyarakat dan antar bangsa.

Dengan demikian, pada era globalisasi ini, manusia mempunyai kesempatan untuk berkembang sepenuhnya sesuai dengan potensi yang ada padanya. Kompetisi yang terbuka dan sehat ini diharapkan dapat semakin meningkatkan taraf hidup manusia. Oleh karena itu, dengan adanya kompetisi, masyarakat akan memberi penghargaan kepada kualitas pribadi dan keunggulan pribadi untuk berprestasi.

Menurut UU Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 1, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Keberadaan guru yang kompeten dan profesional merupakan salah satu persyaratan yang wajib dipenuhi guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Apabila kualitas pendidikan di Indonesia meningkat, Indonesia dapat bersaing dengan negara maju lainnya. Di dunia ini, hampir semua bangsa selalu mengembangkan kebijakan yang mendorong terciptanya guru yang kompeten dan berkualitas.

Seorang guru yang profesional adalah guru yang mampu membangun karakter peserta didiknya. Karakter adalah semua sifat-sifat baik yang menunjang pembangunan bangsa, bukan hanya sopan santun melainkan mencakup semua aspek yang baik. Ciri-ciri bangsa maju yang memiliki karakter yang baik adalah ramah, lemah lembut, tidak suka kekerasan, dan patuh aturan. Ciri spesifik masyarakat maju adalah karakternya cepat bangkit dari keruntuhan, contohnya adalah masyarakat Jepang, masyarakat yang maju atau beradab adalah masyarakat yang rajin bekerja, jujur, terus terang, tidak pendendam, selalu melihat masa depan, dan mengetahui cara memperbaiki diri. Setiap individu yang menjadi warga negara di sebuah negara maju mencari rezeki dengan cara yang halal, sehingga sikap mental bangsa itu bersih ; cenderung ke arah perbaikan.

Tugas yang sangat berat harus diemban oleh para guru untuk mempersiapkan generasi penerus yang akan mewarisi bangsa ini. Banyak kalangan mengatakan bahwa pendidikan kita telah gagal memberikan tiga bekal kepada generasi sekarang. Tiga bekal tersebut adalah memiliki mental yang kuat, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan mencipta. Mereka mengatakan bahwa, siswa sekarang semakin lemah karakternya, belum mencintai ilmunya, dan gagap di dalam menghadapi persoalan masa depan yang tentunya semakin berat, komplek, dan banyak jumlahnya.

Sebagaimana pesan Presiden Joko Widodo “Percuma membangun fisik tanpa membangun pola pikir masyarakat”. Revolusi mental sangat penting untuk membangun kembali kejayaan Nusantara, namun membangun mental tidaklah semudah membalik telapak tangan. Perlu perjuangan yang berat untuk membangun mental tersebut, apalagi proses revolusi mental harus dimulai dari para remaja yang sudah banyak terpengaruh oleh efek negatif dari perkembangan dunia informasi.

Di sisi lain, terkait dengan masa depan, kita perlu menyadari bahwa sebagai dampak dari membanjirnya perkembangan teknologi informasi, dunia di masa depan sudah akan benar-benar berbeda dengan sekarang. Perubahan semakin cepat, multi arah, dan mungkin saja akan menjadi sangat sulit untuk diprediksi. Tantangan menjadi sangat variatif, komplek, dan bentuk kongkritnya sekarang belum bisa dibayangkan. Hal demikian itulah yang akan dihadapi oleh generasi mendatang. Guru sebagai generasi yang mengantarkan mereka, tidak boleh pesimis.

Oleh karena tantangan itu akan sama sekali berbeda dengan sekarang, maka bekal yang harus diberikan seharusnya berupa kunci-kunci untuk menghadapi tantangan tersebut. Misalnya mereka harus memiliki mental yang kuat, dan kemampuan berkomunikasi dengan siapapun. Oleh sebab itu, bahasa asing menjadi sangat penting. Kemampuan membaca keadaan, situasi atau lingkungan, dan ditambah lagi dengan kekuatan mencipta harus benar-benar ditanamkan.

Jika ketiga bekal penting tersebut bisa diberikan kepada para siswa, maka mereka tidak perlu dikhawatirkan lagi dalam menghadapi tantangan hidup di tengah perubahan yang semakin cepat, informasi yang semakin membanjir, dan persoalan yang datang secara tiba-tiba bersifat sangat komplek, dan variatif. Lebih dari itu, jika hal tersebut dipahami bersama, maka sekedar menyusun kurikulum dan bahan pelajaran di sekolah tidak akan sulit. Bahkan sebenarnya pemerintah tidak perlu terlibat terlalu jauh dengan perkerjaan atau persoalan semacam itu. Tugas itu akan lebih tepat diserahkan saja kepada sekolah masing-masing.

Dengan strategi tersebut, sekolah menjadi semakin bertanggung jawab dan guru akan semakin meningkat kualitasnya. Karena sekolah diberikan kebebasan berkreasi, kebhinekaan akan semakin terpelihara, dan yang lebih penting lagi adalah sekolah akan semakin tertantang hingga pada saatnya akan meraih kualitas keunggulan. Pemerintah di berbagai tingkatannya sebatas hanya bertugas memfasilitasi dan meminta pertanggung jawaban atas kinerja kepala sekolah dan guru yang bersangkutan. (Kontak person: 081 367 758 302. E-mail: hariprasetio1967@yahoo.com)

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Aliyah (MA). Tags: , .

Mencegah Anak Didik Keluyuran Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: