Mencegah Anak Didik Keluyuran

8 Agustus, 2015 at 7:05 am

Oleh Sogimin
Fakultas Bahasa dan Budaya (FBB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang

Masih banyak pro dan kontra berkait penerapan kebijakan sekolah 5 hari di Jateng yang dituangkan melalui surat edaran Gubernur Jateng tertanggal 27 Mei 2015. Beragam tanggapan bukan hanya datang dari peserta didik, orang tua, dan guru melainkan juga dari beberapa pihak yang terkait dengan dunia pendidikan. Tanggapan dari berbagai kabupaten/kota di Jateng atas kebijakan ini juga beragam. Beberapa daerah seperti Kota Semarang, Magelang, serta Kabupaten Pemalang,

Karanganyar, dan Cilacap pada tahun ajaran 2015/2016 segera melakukan uji coba. Daerah tersebut memberlakukan kebijakan itu sambil mengevaluasi apabila muncul kendala dan permasalahan di lapangan. Namun ada beberapa daerah yang kesulitan memberlakukan dengan alasan kondisi daerah tersebut berbeda, sebagaimana Pekalongan, Surakarta, Batang dan sebagian wilayah Kabupaten Kendal. Pengambil kebijakan di daerah ini berpandangan penerapan kebijakan itu akan melahirkan kesulitan dan kendala bagi anak didik dan orang tuanya.

Anak didik yang orang tuanya bekerja di pabrik misalnya, belum tentu bisa berkumpul dengan orang tuanya karena hari libur pabrik bukan Sabtu dan Minggu. Dampak lain adalah bertambahnya beban psikis siswa mengingat keterbatasan kemampuan berpikir dan daya tangkap mengikuti pelajaran selama 10-11 jam tiap hari. Siswa bisa mengalami kebosanan yang dikhawatirkan justru membuat pembelajaran tidak efektif. Adapun dari pihak orang tua, ada yang merasa mendapat tambahan beban karena harus memberi uang saku lebih banyak untuk makan siang anaknya. Anakanak sekarang, apalagi sudah SMA/SMK, ‘’malu’’ bila membawa bekal ke sekolah. Mereka lebih memilih jajan di kantin.

Lalu apakah kantin sekolah memadai dalam hal jumlah ataupun ketersediaan piring, sendok dan kursi makan? Dampak lain adalah banyak di antara siswa yang tinggal di daerah pinggiran dan pedesaan kesulitan mendapatkan transportasi sewaktu pulang. Pasalnya jumlah angkutan umum pasti makin jarang pada sore. Keadaan ini memberi peluang bagi anak untuk membawa motor sendiri padahal belum boleh memiliki SIM. Dampak bagi guru adalah kesulitan pengaturan jadwal pelajaran yang berlebihan untuk satu mapel, yang dikhawatirkan pelajaran menumpuk pada hari yang sama. Hal ini akan membuat jenuh.

Pengaturan waktu eskul yang biasanya sore juga menemui kendala karena siswa harus pulang lebih sore. Butuh Kesiapan Hal ini mengurangi kesempatan jam belajar di rumah pada malamnya, lebih-lebih bila guru memberikan PR mengingat siswa ‘’tidak ada’’ waktu lagi untuk mengerjakan pada malamnya. Bila eskul disiasati digeser Sabtu pun berarti mengurangi tujuan awal anak bisa lebih lama berinteraksi dengan orang tua.

Pemberlakuan 5 hari sekolah, suka atau tidak suka, membuat banyak pihak perlu mempersiapkan diri dengan baik dan tentu membutuhkan adaptasi. Pakar pendidikan berpendapat akan terjadi perubahan perilaku dan aktivitas peserta didik, baik di sekolah maupun di lingkungan pergaulan dan di rumah. Untuk itu, orang tua diharapkan memberi pendampingan dan arahan kepada anak. Orang tua perlu mencegah anak keluyuran ke tempat yang tidak bermanfaat pada hari Sabtu dan Minggu. Sebaliknya, orang tua harus mengarahkan anak untuk mengisi kegiatan pada Sabtu-Minggu dengan hal-hal bermanfaat.

Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya lewat kegiatan olahraga, bermusik, mengaji, berekreasi, belajar bersama, atau melakukan kegiatan positif lainnya. ‘’Kendalanya’’, orang tua harus menambah ongkos berkait dengan kegiatan tersebut. Bila orang tua tidak bisa mengalokasikan dana untuk anak mengisi kegiatan itu, yang terpenting ada pengendalian supaya anak tidak keluyuran atau melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat, apalagi merugikan semisal kebut-kebutan, atau seharian di mal. Masih banyak yang bisa dilakukan di rumah oleh anak bersama orang tua mereka pada Sabtu dan Minggu. (Sumber: Suara Merdeka, 08 Agustus 2015)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Wasiat Pendiri Muhammadiyah Mempersiapkan Generasi Mega Kompetisi


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: