Keberagaman yang Menyenangkan

23 Juli, 2015 at 12:50 am

Oleh Dr Harjito MHum
Ketua Program Studi Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang

PEMPROV Jateng melalui Surat Edaran Gubernur Nomor 420/00675/- 205 akan menguji coba pelaksanaan 5 hari sekolah di SMA/MA/SMK pada tahun ajaran baru (SM ,14/7/15).

Kebijakan ini tentu ada yang setuju atau tidak. Tulisan ini tidak berminat untuk berpolemik tapi lebih kepada hal-hal yang perlu dicatat dalam pelaksanaannya. Beberapa hal luar yang turut berpengaruh dan bersinggungan dengan dunia pendidikan, yaitu kemajuan teknologi dan informasi, hilangnya rasa menghargai liyan, dan memudarnya nasionalisme. Dewasa ini, kemajuan tekonologi dan informasi demikian pesat. Di satu sisi, memudahkan banyak pihak mencari sumber pengetahuan dan ilmu. Di sisi lain, itu menjadikan generasi kini bersifat lebay, cengeng, gampang mengeluh, dan kurang tangguh.

Dalam keberlimpahan informasi, berkembang paham radikal yang sempit dan kurang menghargai liyan. Liyan di sini dapat bermakna pribadi, golongan, kelompok, keyakinan, ideologi, atau sesuatu yang lebih besar dari itu. Intinya, paham ini beranggapan liyan tak boleh ada. Liyan harus sama dengan mereka. Kalau tidak, liyan perlu ditindas, atau jika perlu dibinasakan. Dalam bahasa yang mudah, terdapat paham yang berkembang untuk memaksakan kehendak seseorang atau kelompok atas liyan. Sejalan dengan berkembangnya paham tersebut dan hilangnya batasbatas fisik antarnegara, terkisis juga semangat nasionalisme. Rasa nasionalisme bergeser pada kecintaan atas golongan, suku, atau keyakinan tertentu.

Di sinilah menurut saya konteks 5 hari sekolah perlu ditempatkan. Artinya, kebijakan itu selayaknya juga menyangkut hal lain, terutama berkait pendidikan karakter. Pada hakikatnya, manusia tidaklah sempurna. Manusia bukanlah kebenaran mutlak. Liyan diperlukan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Keberagaman bukanlah ancaman, melainkan justru dibutuhkan untuk memperkaya wawasan dan ilmu. Keberagaman dapat mempertajam sudut pandang dan menutup kelemahan. Jika ditarik lebih jauh, menghargai liyan bermuara pada jati diri Bhinneka Tunggal Ika. Menghormati keberagaman, beraneka rupa tapi tetap satu Indonesia.

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, Indonesia tak akan pernah unggul manakala tercerai- berai. Kita tidak segera beranjak alias diam di tempat karena lebih banyak ribut dan berkelahi sehingga tidak cepat beradu keunggulan dengan bangsa lain. Aplikasi di dalam pembelajaran di kelas adalah siswa semestinya diberi lebih banyak kesempatan bertanya dan menyampaikan pandangan serta pendapatnya, baik secara lisan maupun tulis. Siswa harus dipancing dan dilatih untuk lebih berani berbeda pendapat dari teman-temannya. Bahkan, berbeda dari guru atau buku. Buku bukanlah kitab suci. Guru bukanlah kebenaran abadi.

Dirangkaikan Logika Di dalam diskusi ilmiah, perbedaan pandangan dan pendapat merupakan sesuatu yang alamiah dan lazim. Tentu saja semuanya dirangkaikan oleh logika yang jelas dan rasional. Siswa perlu dilatih menemukan kebebasan berpikir. Dalam kebebasan itu, ada liyan yang juga harus dihargai sekaligus dihormati. Kebebasan berpikir juga akan melahirkan kreativitas dan terobosan baru dalam memecahkan persoalan. Yang tidak boleh dilupakan adalah pembelajaran seyogianya dalam suasana menyenangkan, bukan menegangkan. Tantangan 5 hari sekolah adalah suasana menjemukan yang meletihkan fisik dan pikiran. Guru perlu mengembangkan cara-cara yang lebih kreatif agar suasana kelas selalu segar dan membuat siswa bergairah dalam mengembangkan ilmu dan pengetahuan.

Karenanya, guru perlu mendapatkan berbagai pelatihan atau lokakarya yang memadai. Salah satu tujuan 5 hari sekolah adalah untuk memberi kesempatan siswa memiliki lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga. Namun, hal ini akan percuma manakala siswa tetap mendapatkan pekerjaan rumah yang berlebihan. Keletihan fisik dan pikiran selama pembelajaran di kelas akan berlanjut di rumah. Apalagi banyak orang tua masih beranggapan perlunya seribu satu les tambahan bagi anak. Dibutuhkan edukasi bukan hanya kepada siswa atau guru, melainkan juga kepada orang tua dan masyarakat. Semuanya terutama dalam rangkaian mencerdaskan kehidupan bangsa. (Sumber: Suara Merdeka, 23 Juli 2015)

.

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Niat Baik Membangun Bangsa Wasiat Pendiri Muhammadiyah


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: